Teater Spikul, Agenda Ekstrakurikuler dari SMA Pakusari

Dari Hobi, Berlanjut Peduli, Hingga Meraih Prestasi

TAMPIL TOTAL: Teater Spikul kerap tampil di berbagai acara, termasuk saat diundang tampil di halaman kantor Radar Jember, beberapa hari lalu.

RADARJEMBER.IDAwalnya hanya sebuah Eskul yang berdiri pada 2008. Kemudianpada 2017 menjelma jadi komunitas, yang bernama Teater Spikul. Teater ini sering tampil di sejumlah undangan dan kompetisi lokal.

”Eksistensi kami makin terangkat, membuat beberapa alumni dan anggota lainnya mengusulkan pembentukan wadah baru. Hal itu dimaksudkan untuk memberikan komunitas teater itu benar-benar memiliki khas dan karakter tersendiri. Dan akhirnya pada 2017, eskul teater itu resmi berganti menjadi menjadi Teater Spikul,” ujar Dani Hendarto, salah seorang pendiri sekaligus pembina teater Spikul.

Teater itu awalnya memang bagian dari kegiatan ekstrakurikuler dari SMA Pakusari. Dari situ kemudian banyak menghasilkan para anggota. Saat mereka telah lulus dan menjadi alumni, mereka membutuhkan wadah yang khusus untuk terus mengasah kemampuan mereka dalam bermain peran.

Dia juga menceritakan, pemilihan nama Spikul sendiri menurutnya memiliki sisi keunikan sendiri. Nama itu diambil dari salah bukit bernama Spikul yang lokasinya berada persis di belakang sekolah Teater Spikul lahir, yaitu SMA Pakusari. “Nama itu dihasilkan dari musyawarah antar anggota saat mengusulkan nama untuk komunitas teater ini,” imbuhnya.

Selain itu, pemilihan nama yang diambil itu menurutnya juga ingin memperkenalkan salah satu sisi keunikan di Pakusari, yaitu Bukit Spikul. Jika pada pandangan masyarakat pada umumnya melihat pakusari itu identik dengan Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Usaha dan keringat mereka telah membuahkan hasil. Dani menuturkan, teater binaannya itu sempat bahkan sering menjuarai sejumlah kompetisi sini teater di Kabupaten Jember. Bahkan sempat tampil menjadi juara satu nasional.

Juara 1 tingkat di kompetisi teater se Karesidenan Besuki pada tahun 2016 di Universitas Muhammadiyah Jember. Juara 1 talent Budaya yang diadakan oleh Mixagrip Challenge. “Pada 2012 pernah keluar sebagai Juara 1 nasional dalam kategori set panggung terbaik di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta,” tutur pria 29 tahun. Tak hanya menggeluti dunia peran, ia juga mengajarkan membaca puisi dan pantonim.

IKLAN

Reporter : Maulana

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Hadi Sumarsono