Minta Kerja Lagi, Akui di-PHK Sepihak

Protes, Bangun Tenda Depan Perusahaan

TIDAK TERIMA: Sebanyak 22 pekerja PT Bangun Indopralon Sukses aksi di depan perusahaannya, di Jalan Wolter Monginsidi, Desa/Kecamatan Ajung.

RADAR JEMBER.ID – Sedikitnya 22 pekerja PT Bangun Indopralon Sukses, melakukan aksi di depan perusahaan di Jalan Wolter Monginsidi, Desa/Kecamatan Ajung, kemarin (24/6). Hal itu dilakukan karena mereka merasa mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) secara sepihak. Mereka ingin agar dipekerjakan kembali oleh manajemen perusahaan.

Aksi ini berlangsung sejak pagi, saat pekerja datang ke perusahaan tempat produksi paralon dan tandon air MPOIN. Puluhan orang tersebut tak diperbolehkan masuk dan mendadak melakukan aksi. Mereka mendesak agar perusahaan mau menerima dan mempekerjakan kembali. Jika tidak, hak-hak mereka pun seperti pesangon diharapkan agar diberikan.

Sebagai bagian dari aksi tersebut, para pekerja mendirikan tenda di depan pintu masuk perusahaan. Hal itu dimaksudkan agar ada jawaban dari perusahaan. Sejak pagi hingga siang, mereka tampak bertahan di tenda depan perusahaan.

Menurut Syaiful, salah seorang pekerja yang di PHK, pihak perusahaan melalui HRD sudah pernah memberi tahu bahwa mereka akan diberhentikan. Itu disampaikan jelang Idul Fitri lalu. Namun, para pekerja menolak dan tidak mau diberhentikan. “Kemudian, disampaikan oleh Pak Paulus, bagian HRD, katanya kontrak habis tanggal 24 Juni 2019,” ucapnya.

Namun demikian, para pekerja mengaku sistem kontrak pada perusahaan paralon ini juga tidak jelas. Karena itu, para pekerja tetap bertahan dan meminta bisa masuk ke perusahaan lagi. “Harapan teman-teman, bisa dipekerjakan kembali,” imbuhnya.

Kepada wartawan Radarjember.id Syaiful menyebut, dari sebanyak 22 pekerja yang diberhentikan, rata-rata sudah bekerja antara 2 sampai 10 tahun. Upah atau gaji mereka paling sedikit Rp 50 ribu per hari dan paling tinggi Rp 75 ribu per hari. Apabila gajinya dibulatkan dalam satu bulan, dengan hitungan per bulan 24 hari kerja, maka gaji mereka hanya sebesar Rp 1.200.000 sampai Rp 1.800.000. “Gajinya di bawah UMK,” tegas Syaiful, yang dibenarkan oleh para pekerja lain.

Pada aksi itu, sejumlah pengurus Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) Cabang Jember juga turun ke lokasi. Sebab, sebagian besar para pekerja juga merupakan anggotanya. Pihak Sarbumusi meminta agar ada mediasi antara pekerja dengan perusahaan dan tidak di PHK sepihak seperti itu. “Kami minta mediasi, tetapi belum bisa. Menurut perusahaan, teman-teman ini sudah diputus hubungan kerjanya,” kata Hanadi, Wakil Ketua Sarbumusi Jember.

Menurutnya, PHK yang dilakukan perusahaan dilakukan secara sepihak dan tidak melalui prosedur. Surat ke Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) serta uang pesangon juga tidak diberikan oleh perusahaan. “Itu yang saya maksud tidak prosedur. Kalau memang diberhentikan, hak-hak mereka harus diberikan,” jelasnya.

Hanadi mengaku, Sarbumusi siap untuk membela hak-hak pekerja termasuk berbicara Undang-Undang Ketenagakerjaan. Namun demikian, sebelum semua jauh, dia ingin agar harapan pekerja untuk dipekerjakan kembali bisa terlaksana. “Harapan pekerja bisa kerja lagi,” pungkasnya.

Sementara itu, pihak perusahaan belum menjelaskan alasan pemberhentian 22 pekerja yang aksi di depan perusahaan. Saat wartawan mendatangi perusahaan, hanya ditemui oleh Purwadi, petugas keamanan perusahaan.

Menurut Purwadi, pimpinan perusahaan sedang tidak ada di tempat karena ada kepentingan di luar. Sementara itu, dirinya yang hanya bertugas melakukan pengamanan, tidak memberikan penjelasan terkait tuntutan aksi para pekerja. “Jadi, yang memutuskan itu pimpinan nanti. Pimpinan sekarang masih di luar,” ucap Purwadi di pintu gerbang masuk perusahaan. (*)

IKLAN

Reporter : Nur Hariri

Fotografer : Nur Hariri

Editor : Mahrus Sholih