Perlukah Siswa SMK Miliki HOT dan AQ?

BERDASARKAN hasil penelitian McKinsey pada tahun 2016 silam dikatakan bahwa dampak dari adanya digital technology menuju Revolusi Industri 4.0 dalam lima tahun ke depan, akan dijumpai sebanyak 52,6 juta jenis pekerjaan akan mengalami pergeseran atau hilang dari muka bumi. Hasil penelitian ini memberikan pesan bahwa setiap diri yang masih ingin mempunyai eksistensi dalam kompetisi global harus mempersiapkan mental dan skill yang mempunyai keunggulan persaingan (competitive advantage) dari lainnya. Jalan utama mempersiapkan skill yang paling mudah ditempuh adalah mempunyai perilaku yang baik (behavioral attitude), menaikan kompetensi diri dan memiliki semangat literasi.

Bekal persiapan diri tersebut dapat dilalui dengan jalur pendidikan. Pendidikan merupakan hal yang paling penting untuk dibenahi dalam rangka menghadapi  tuntutan  perkembangan jaman di era revolusi industri 4.0. Kualitas sumber daya manusia (SDM) di suatu negara menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan setiap negara dalam mengahadapi Revolusi Industri 4.0. Oleh karena itu, tampak bahwa saat ini pemerintah sedang berfokus untuk menyiapkan SDM Indonesia yang berkualitas sehingga Indonesia bisa melakukan lompatan kemajuan dan mengejar ketertinggalan dengan negara-negara lain.

Pendidikan sebagai lokomotif utama bagi pembawa perubahan untuk mencetak SDM yang berdaya saing tinggi dalam mengahadapi era Revolusi Industri 4.0 sedang menjadi perhatian pemerintah. Salah satu upaya pemerintah dalam memperbaiki pendidikan di Indonesia adalah dengan menaruh perhatian lebih pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). SMK dipilih karena SMK merupakan salah satu lembaga pada jalur pendidikan formal yang menyiapkan lulusannya untuk memiliki keunggulan di dunia kerja. Hal ini ditandai dengan dikeluarkannya Inpres No. 9 Tahun 2016 tentang revitalisasi SMK dalam rangka meningkatkan kualitas dan daya saing SDM Indonesia. Dalam Inpres tersebut, disebutkan bahwa perlu adanya penyempurnaan dan penyelarasan kurikulum SMK dengan kompetensi sesuai kebutuhan pengguna lulusan. Dengan demikian, perlu adanya perbaikan dalam semua pembelajaran di SMK yang disesuaikan langsung dengan apa yang ada dalam ruang lingkup bidang keahliannya kelak.

Fakta di lapangan menunjukkan, pada umumnya siswa SMK menganggap belajar di SMK adalah belajar produktif, yaitu belajar bagaimana mereka dapat meningkatkan keterampilan produktifnya agar diterima dalam dunia industri. Kemudian untuk mata pelajaran teoristik dianggap tidak memiliki relevansi terhadap mata pelajaran produktif. Pembelajaran untuk mata pelajaran teoristik yang dilakukan di sekolah hanya sebatas belajar teori/definisi/teorema, kemudian diberikan contoh-contoh dan terakhir diberikan latihan soal. Pembelajaran yang dilakukan hanya disampaikan secara informatif, artinya siswa hanya memperoleh informasi dari guru sehingga mereka kurang dapat memaknai apa yang telah mereka pelajari. Keadaan yang semacam ini berpengaruh terhadap rendahnya kemampuan berpikir siswa khususnya pada High Order Thinking (HOT).

Salah satu kemampuan yang perlu dimiliki dan terus ditingkatkan dalam diri siswa yaitu HOT. HOT di sini merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa di mana melibatkan kemampuan analisis, evaluasi, dan kreasi. Kemampuan berpikir tingkat tinggi pada siswa akan terjadi ketika siswa mampu mengaitkan informasi baru dengan informasi yang sudah tersimpan dalam ingatannya serta mampu menghubungkan dan/atau menata ulang kemudian mengembangkan informasi yang dimiliki untuk mencapai suatu tujuan ataupun menemukan suatu penyelesaian dari suatu keadaan yang sulit dipecahkan. Berdasarkan pemaparan tersebut maka memang benar dapat dikatakan bahwa HOT perlu dimiliki dan terus ditingkatkan, karena dapat melatih siswa utuk memiliki kemampuan pemecahan masalah yang baik ketika dihadapkan pada masalah kehidupan yang semakin komlek.

Selain HOT juga terdapat life skill yang juga perlu dikembangkan di era Revolusi Industri 4.0, dimana dapat membawa pengaruh besar yang positif terhadap kualitas SDM untuk dapat bersaing di dunia global. Life skill tersebut tidak lain adalah Adversity Quotient (AQ), AQ diperlukan untuk mencapai kesuksesan karena seseorang yang memiliki AQ tinggi tidak mudah putus asa saat dihadapkan pada hambatan-hambatan dalam kehidupan. Seseorang dengan AQ tinggi akan memiliki semangat juang yang tinggi untuk meraih citaa-citanya. Menurut Stoltz (2005) dikataan bahwa kesuksesan seseorang ditentukan oleh AQ yang dimilikinya, AQ memegang peran penting dalam mencapai prestasi belajar selain IQ. Melalu AQ yag dimiliki dapat membuat seseorang untuk mampu bertahan dalam menghadapi kesulitan dan kemampuan untuk mengatasinya. Individu yang memiliki AQ tinggi akan mempunyai tingkat kendali yang kuat atas peristiwa yang buruk. Kendali yang tinggi akan memiliki implikasi yang jangkauannya jauh dan positif, serta sangat bermanfaat untuk kinerja, dan produktivitasnya.

Menyikapi adanya Revolusi Industri 4.0 tim pengabdian masyarakat, Prodi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Jember ini sedang gencar-gencarnya untuk menggalakkan keterkaitan antara pendidikan dan Revolusi Industri 4.0. Sebagai aplikasinya di tahun 2019 ini (01 Juni 2019) tim kami mengadakan pelatihan bagi guru-guru di sekolah pelosok untuk dapat mengembangkan dirinya sehingga mampu meningkatkan kualitas SDM yang ada di era revolus industri 4.0. Salah satu sekolah yang menjadi sasaran kami untuk dtingkatkan HOT dan AQ-nya yaitu SMKs Al-Akhyar yang terletak di desa Wonosobo, Kecamatan Tapen, Kabupaten Bondowoso Jawa Timur.

Sekolah ini dipilih karena sekolah ini beranggapan bahwa mata pelajaran teoristik seperti matematika, IPA, IPS, dan yang lainnya dianggap sebagai pelajaran yang kurang penting dipelajari di SMK sehingga topik yang disampaikan hanya sekedar disampaikan tanpa membuat siswa dapat memaknai apa yang dipelajari. Sebagai bentuk usaha untuk menyamakan pemahaman, seperti yang kita ketahui bahwa di era Revolusi Industri 4.0 ini terjadi pergeseran paradigma pembelajaran yang mengintegrasikan teknologi sesuai tuntutan belajar abad ke-21 menjadikan pembelajaran sebagai sarana untuk mengembangkan proses berpikir siswa dengan memfasilitasi siswa memperoleh pengetahuan yang meliputi 1) memecahkan masalah dan berpikir kritis, 2) berkomunikasi dan berkolaborasi, dan 3) kreatif dan inovatif. Dengan demikian maka pembelajaran di SMK tidak boleh hanya mendukung life skill saja, melainkan juga harus dirancang mendukung tercapainya keterampilan berpikir tingkat tinggi atau HOT dengan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi. Kemampuan HOT saat ini perlu sekali untuk dikembangkan agar SDM di Indonesia dapat bersaing di era Revolusi Industri 4.0. Sehingga bukan hanya di sekolah umum saja HOT penting untuk dikembangkan, tetapi di SMK pun HOT harus menjadi perhatian guru untuk dikembangkan. Maka dari itu dilakukanlah kegiatan pengabdian pada masyarakat berupa pelatihan bagi guru di SMKs Al-Akhyar.

Bagi tim kami siswa SMK sangat perlu untuk dikembagkan HOT dan AQ-nya dimana keduanya memiliki peranan yang sangat penting dan dibutuhkan di era revolusi industri 4.0. Adanya HOT dan AQ membantu siswa untuk memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi yang dibutuhkan untuk dapat menyelesaikan berbagai persoalan hidup yang komplek. Selain itu untuk dapat bertahan hidup di tengah goncangan masalah dunia yang semakin komplek tidak hanya dibutuhkan HOT tetapi juga AQ. Adanya AQ dibutuhkan sebagi motivasi dalam diri untuk memiliki semangat juang yang tinggi, agar tidak mudah putus asa dan terpuruk dalam meghadapi tantangan hidup. Oleh karena itu untuk dapat meningkatkan kualitas SDM di Indonesia sebagai salah satu faktor penentu keberhasilan untuk megejar ketertinggalan dalam mengahadapi Revolusi Industri 4.0 adalah dengan meningkatkan life skill yang harus dimiliki oleh SDM minimal penguasaan atau bahkan peningkatan HOTS dan AQ dalam diri siswa. Di mana siswa-siswa yang ada ini nantinya akan menjadi SDM yang akan menjalankan industri sebagai bentuk usaha membangun dan mengembangankan negara agar tidak kalah bersaing dalam dunia internasional.

*) penulis adalah civitas akademika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Jember.

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :