Optimalkan Traffic Light secara Real Time

Optimalkan Traffic Light secara Real Time

RADAR JEMBER.ID – Perempatan Mangli menjadi persimpangan terpadat di Jember. Beragam jenis kendaraan lewat di jalan utama masuk ke Kota Jember ini. Seharusnya, kemacetan ini segera dibenahi oleh pemerintah. Salah satu solusinya adalah dengan pengaturan traffic light secara real time.

Dosen Fakultas Teknik Unej, Willy Kriswardhana ST MT menjelaskan, kemacetan di perempatan Mangli banyak penyebabnya. Mulai dari ada aktivitas perekonomian seperti pasar dan pertokoan, serta jadi simpul pertemuan kendaraan.

Selain itu, semua jenis kendaraan melintas setiap hari di daerah tersebut. “ Tak hanya kendaraan pribadi yang lewat. Bus, angkot, truk, becak pun melintas di sana,” ujarnya.

Jalan itu menjadi jalan vital karena sebagai pintu masuk utama masuk Kota Jember dan daerah Jember selatan. Sedangkan keberadaan rel kereta api yang melintas tidak begitu turut andil sebagai penyumbang kemacetan. “Kalau rel kereta api itu di arah utara. Arah utara cenderung tidak padat,” tambahnya.

Sebagai dosen pengampu mata kuliah rekayasa lalu lintas, cara yang cepat untuk mengurai kemacetan di Mangli adalah melalui pengaturan waktu traffic light secara real time. Apalagi sekarang perempatan Mangli bisa dipantau dari CCTV secara langsung. “Waktu traffic light ini diatur real time. Saat kemacetan dari timur, maka pengaturan jumlah waktu tunggu traffic light dari arah timur dipercepat,” paparnya.

Willy juga merespons tentang usulan pembangunan jembatan layang. Menurut dia, itu adalah solusi jangka panjang. Butuh waktu dan suntikan dana yang besar. “Yang jelas, saat ada pembangunan proyek jembatan layang, pasti ada studi kelayakan yang tepat. Termasuk studi tingkat kemacetan,” imbuhnya.

Kemacetan karena adanya parkir di bahu jalan dinilai sedikit pengaruhnya. “Memang ada aktivitas ekonomi di sana, baik itu pasar maupun pertokoan. Tapi pengaruh parkir terhadap kemacetan kecil. Paling banyak adalah jumlah kendaraan dan jenis kendaraan, lantaran perempatan Mangli jadi akses utama,” jelasnya.

Willy mengaku, secara garis besar tingkat kemacetan di Jember ini tidak tergolong F atau kemacetan parah. “Dari A sampai F. Jember itu kemacetan secara umum masih D. A itu kondisi jalan lenggang, F itu macet parah sampai tidak bisa berjalan,” tambahnya.

berkacamata ini menambahkan, perbandingan antara jumlah kendaraan dengan panjang jalan selalu jomplang. “Setiap tahun jumlah kendaraan meningkat. Penambahan panjang jalan bertambah, tapi tidak sama dengan laju jumlah kendaraan,” katanya.

Kondisi itulah menjadi pemicu pertama kemacetan. Bahkan, perbandingan jumlah kendaraan tidak imbang dengan penambahan panjang jalan adalah persoalan transportasi semua daerah di Indonesia. (*)

IKLAN

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Bagus Supriadi