Persoalan Lama yang Tak Kunjung Ada Solusi

Mengurai Kemacetan Perempatan Mangli

RADAR JEMBER.ID – Perempatan Mangli selalu menjadi keluhan para pengendara, baik roda dua maupun empat. Media sosial kerap menjadi wadah untuk mengeluhkan kondisi ini. Banyak yang kesal, karena setiap hari selalu terjebak kemacetan.

Dampak kemacetan ini, banyak pengendara yang kerap melanggar peraturan lalu lintas. Meskipun lampu merah sudah menyala, ada yang masih menerobos. Akhirnya, kelancaran lalu lintas semakin terganggu.

Bila cukup parah, kemacetan bisa cukup panjang hingga mencapai Rest Area Jubung. Sementara itu, warga menginginkan perjalanan yang cepat, aman, dan nyaman untuk pergi bekerja hingga pulang ke rumah.

Banyak hal yang menyebabkan kondisi ini terjadi. Mulai dari kondisi jalan yang sempit, sementara jumlah kendaraan terus meningkat. Selain itu, ulah para pengendara yang tidak tertib lalu lintas.

IKLAN

Butuh penanganan serius untuk mengurai kemacetan yang terjadi di perempatan Mangli ini.  Baik dengan memperluas jalan, melakukan rekayasa lalu lintas, maupun membangun jembatan layang agar keluhan masyarakat tidak hanya selesai di media sosial.

Perempatan Mangli seperti menjadi rute tersibuk di Jember. Ia menjadi pertemuan kendaraan dari empat arah. Letak perempatan Mangli merupakan pertemuan antara Pasar Mangli, rel kereta api, dan jalur provinsi yang sering dilewati kendaraan atau truk tonase besar.

Selain itu, kondisi jalanan yang sempit serta ulah para pengguna jalan yang kerap kali nekat menerobos lampu merah dianggap kejadian yang sudah biasa. Bahkan, sejumlah bus kerap  menaikturunkan penumpang di  perempatan tersebut.

Wartawan Jawa Pos Radar Jember mendatangi sejumlah warga yang tinggal di sekitar area tersebut. Banyak fakta menarik yang diceritakan oleh mereka.  Niman, salah seorang pedagang yang mengaku telah puluhan tahun melapak di perempatan itu, mengaku, kemacetan bisa diatasi jika ada pelebaran jalan.

Menurutnya, perempatan Mangli bukan hanya kawasan macet, namun turut menjadi kawasan rawan kecelakaan. Sebab, sering kali ada pengendara yang menerobos jalan. “Biasanya jam berangkat kerja macet. Kalau dari arah barat, bisa sampai Rest Area Jubung macetnya,” jelasnya.

Kemacetan itu masih terbilang biasa, sebab pada momentum tertentu, seperti Hari Raya Idul Fitri, kemacetan bisa hingga mencapai Rampipuji. Dia mengaku tidak keberatan jika ada rencana pelebaran jalan oleh pemerintah. “Kalau saya iya-iya saja. Ndak tau pedagang lainnya,” katanya.

Jika ada masyarakat tidak mau dipindah, bisa jadi karena faktor ekonomi untuk keberlangsungan hidup mereka. “Perempatan Mangli itu tempat mereka bekerja dan menanggung hidup. Kalau hanya di pindah dan tidak diberikan hak-haknya mereka untuk berjualan, semuanya tidak akan mau,” tambahnya.

Yudha Haris Setiawan, salah seorang penjaga rel kereta api area perempatan Mangli menambahkan, masalah kemacetan itu sudah lama. Namun, sampai sekarang tidak ada solusi yang pasti. Diakuinya, kemacetan itu tidak disebabkan karena dekat  dengan jalur kereta api.

Pria yang bertugas mengamankan jalur perlintasan kereta api (KA) JPL 139 itu menilai, perlu langkah-langkah konkret dari para pemangku kebijakan. Bila ditangani dengan baik, kemacetan itu bisa diatasi.

Dia juga tidak sepakat jika ada opini masyarakat menyatakan bahwa salah satu penyebab kemacetan adalah adanya rel KA yang berdampingan dengan perempatan Mangli. Sebab, standard operational procedure (SOP) untuk membuka dan menutup portal adalah 15 menit. Namun, dia sedikit mengalah agar kemacetan segera berakhir.

Yudha menambahkan, arak dari rel dengan bibir jalan sangat dekat. Sangat mustahil untuk menutup portal pada 15 menit sebelum kereta lewat. Dia lebih sering membuka pada kisaran waktu tiga sampai lima menit. Sedangkan untuk kereta api yang melintas di sepanjang kawasan itu berkisar antara 15 hingga 18 kereta per hari. “Kenapa tidak pasti, karena tiga dari delapan belas itu ada KA barang yang melintasnya tidak tiap hari,” imbuh pemuda asal Patrang itu.

Diakuinya, masyarakat yang terbiasa menerobos rel kereta api menjadi penyumbang terbesar kemacetan. Pihaknya juga mengaku sering memperbaiki portal KA yang diterobos oleh pengendara. “Kadang portal KA sudah nutup saja, masyarakat kadang suka nerobos. Apalagi di jalanan,” keluhnya.

Kerugian yang dialami karena kemacetan ini tak hanya membuat psikologi orang terganggu, seperti stres. Namun, juga berdampak pada perekonomian.  Shohibul Lutfi, salah seorang pekerja pabrik yang bertugas memasok barang-barang ke sejumlah gudang di daerah Banyuwangi, Jember, dan Lumajang, terjebak macet saat melintasi perempatan Mangli. Dia merasa dirugikan dengan kemacetan itu.

“Terutama rugi waktu, karena pekerja seperti kita dituntut tepat waktu. Sementara kondisi jalanannya seperti ini,” tutur Shohib saat ditemui di perempatan Mangli dengan mobil boksnya. Sebagai pengguna jalan yang hampir setiap hari melintas di kawasan tersebut, Shohib mengaku, kemacetan Mangli terjadi karena sempitnya jalan dari dua sisi.

Tak hanya Shohib, beberapa temannya yang bekerja di mobil muatan juga sering mengalami hal yang sama. Meskipun begitu, dia bersama sopir-sopir yang lain tidak bisa berbuat banyak. “Seharusnya setiap tahun fasilitas masyarakat itu diperbaiki, karena kendaraan ini sudah rutin bayar pajak tiap tahun,” pungkasnya. (*)

Reporter : mg2

Fotografer : Jumai

Editor : Bagus Supriadi