Tak Ada Solusi, 2022 Macet Total

1.320 Kendaraan Lewat Per Jam

RADAR JEMBER.ID – Keluh kesah pengendara yang melintas di simpang empat Mangli, Kecamatan Kaliwates, sepertinya akan berlangsung cukup lama dan semakin parah. Sebab, volume kendaraan yang lewat di jalur tersebut meningkat tiap tahunnya.

Dinas Perhubungan Jember mendata, kapasitas dari tahun 2016 hingga sekarang menampung 1.574 per jam. Sedangkan kendaraan yang lewat terus bertambah. Bila tahun 2016 lalu 1.066 kendaraan per jam, kini bertambah menjadi 1.320 per jam

Di tahun 2020, jumlah kendaraan yang lewat dengan kapasitas yang tetap mencapai 1.570. Bila tidak segera dicarikan solusi, perempatan Mangli bisa macet total.

Kepala Dinas Perhubungan Hadi Mulyono mengaku, kondisi jalan raya simpang Mangli ke arah barat memang tersendat pada jam-jam tertentu. Terutama pada pagi hari saat orang berangkat kerja, siang saat jam istirahat, serta sore hingga malam saat pulang kerja. Kondisi yang demikian juga terjadi pada jalan raya di Desa/Kecamatan Rambipuji.

IKLAN

Menurutnya, tipe perempatan Mangli dan lampu merah simpang tiga Rambipuji hampir sama. Kedua lokasi itu sama-sama dekat dengan rel kereta api serta ada pasar. Di dua lokasi itu juga terdapat sejumlah gang yang menyumbang tersendatnya arus lalin.

“Pada saat jam tertentu memang padat. Di Mangli atau Rambipuji ada palang pintu rel kereta api yang juga berpengaruh. Kemudian, lalu-lalang orang yang beraktivitas di pasar memberi pengaruh pada laju kendaraan, sehingga melambat,” jelas Hadi.

Namun demikian, tersendatnya kendaraan juga dipengaruhi oleh kapasitas jalan. Bila dilihat secara kasat mata, jalan raya Mangli ke barat kalah lebar dengan jalan yang mengarah ke Kota Jember. Sementara itu, jalan yang menuju ke arah Surabaya tersebut menjadi tempat pertemuan banyak kendaraan. Ada yang dari kota, Sukorambi, serta banyak kendaraan barang dari arah Ajung.

Dishub memahami persoalan yang terjadi di kawasan tersebut. Namun, ketika ditanyakan solusi yang konkret untuk mengatasinya, Hadi  berdalih dengan menjawab Dishub terus bersinergi dengan Satlantas Polres Jember.

Selain itu, di simpang empat Mangli didirikan pos untuk memantau langsung arus lalin di perempatan Mangli. “Selain itu, juga dilakukan rekayasa seperti mematikan lampu merah di Rambipuji,” jelasnya.

Disinggung mengenai kapasitas jalan raya Magli ke arah barat, Hadi meminta Jawa Pos Radar Jember untuk langsung bertanya pada bagian lalin.

Menurutnya, jalan raya Mangli ke barat sudah diusulkan agar kapasitas jalan ditingkatkan. “Usulan memang dari kami. Tetapi, karena sekarang semuanya harus melalui perencanaan, maka sudah ada Badan Perencanaan Kabupaten Jember,” tegasnya.

Secara teknis, Kepala Bidang Lalu Lintas Dishub Jember Leon Lazuardi menambahkan, di samping kondisi jalan yang tetap selama beberapa tahun terakhir, aktivitas warga dan jumlah kendaraan juga bertambah banyak.

Leon menyebut, Dishub Jember sudah mengusulkan perencanaan peningkatan jalan seperti disampaikan Kadishub Hadi Mulyono. “Kondisi jalan di sana memang tetap dan jumlah kendaraan sudah semakin meningkat. Jadi, wajar kalau tersendat,” ungkapnya.

Dia mengurai, kondisi jalan Mangli ke barat memiliki kapasitas per jam sebanyak 1.574 kendaraan. Saat ini, kendaraan yang melintas   sudah mencapai sebanyak 1.320 per jam.

Dengan jumlah tersebut, lanjut Leon, seharusnya kondisi arus lalu lintas masih normal. Akan tetapi, karena ada pasar Mangli dan sejumlah gang, maka arus lalin menjadi tersendat.

“Secara normal, kapasitas jalan saat ini masih menampung arus kendaraan. Tetapi, ada hal lain seperti pasar yang membuat kendaraan melambat. Dengan demikian, pada jam-jam tertentu di sana macet. Tetapi masih bisa jalan,” ucapnya.

Dalam perencanaan, peningkatan jalan Mangli ke barat rencananya akan dibangun dengan geometrik yang sama dengan jalan Hayam Wuruk atau timur perempatan Mangli yang mengarah ke kota. Namun demikian, belum diketahui secara persis kapan peningkatan dilangsungkan.

Dengan melihat pertumbuhan kendaraan yang terus bertambah setiap tahun, menurutnya jalan raya Mangli bisa diprediksikan ke depannya. Dengan melihat tabel perkembangan arus lalu lintas sejak 2016 hingga 2019, maka tiga tahun ke depan jalan Mangli bisa saja berhenti total. “Menghitungnya adalah jam terpadat. Kalau dibiarkan, jalan Mangli memang bisa berhenti total untuk tiga tahun mendatang. Tetapi sudah ada rencana peningkatan jalan,” pungkasnya.

Data yang berhasil dikumpulkan, apabila melihat perkembangan arus lalu lintas dari 2016 lalu, maka bukan hal yang tidak mungkin jalan raya Mangli akan benar-benar macet dan berhenti total di tahun 2022 nanti. Sebab, kapasitas jalan hanya mampu menampung sebanyak 1.574 kendaraan berbagai jenis, dan kendaraan yang melintas di 2022 nanti yaitu bisa mencapai 1.570 per jamnya. (*)

Reporter : Nur Hariri

Fotografer :

Editor :