Kasek Dipalu Guru Kelas

Tragedi Berdarah di Gedung Sekolah

RADAR JEMBER.ID – Miskijo, guru di SDN Pocangan 01, Kecamatan Sukowono, tiba-tiba geram saat melihat Eko Supriyanto. Dia melihat kepala sekolah itu tengah duduk di ruang guru. Entah kenapa, dia urung masuk ke ruangan itu, dan memilih mendatangi tukang kayu yang sedang mereparasi meja di ruang lainnya yang bersebelahan dengan ruang guru.

Tiba-tiba, tangan Miskijo beringsut. Palu yang sebelumnya berada di dalam tas tukang langsung berpindah tangan. Tanpa banyak cakap, dia mendatangi Eko Supriyanto dan menghantam kepalanya di bagian belakang. Pria yang baru sepekan menjabat kepala sekolah itu langsung tersungkur. Tubuh lelaki berusia 56 tahun bersimbah darah akibat luka robek di kepalanya. Sejurus kemudian, warga Desa Tamanan, Kecamatan Tamanan, Bondowoso, itu tak sadarkan diri.

Rahmad Efendi, guru olahraga, panik mendengar ada keributan tak jauh dari tempatnya berdiri. Secepatnya, pendidik berusia 32 tahun itu berlari ke sumber kegaduhan. Di sana, ia mendapati kepala sekolah bersimbah darah. Sementara itu, Miskijo berdiri tak jauh dari korban. Matanya terlihat masih memerah.

Efendi melihat, di sebelah pelaku tergelak palu yang juga berlumuran darah. Efendi lantas memindahkan martil yang berada di atas meja ke kusen jendela agar tak terjangkau. Selanjutnya, dia berteriak meminta bantuan guru lain untuk menolong korban. “Saat saya datang, Pak Miski (sapaan Miskijo, Red) matanya masih merah. Khawatir ada kebrutalan lagi, palu yang di atas meja saya amankan ke kusen jendela,” ujar Efendi.

Tak berselang lama, Muin, guru agama, datang ke lokasi. Dia setengah berlari setelah mendengar teriakan sejawatnya meminta bantuan. Melihat ada yang tak beres, Muin mendekap Miskijo. Guru agama tersebut lantas menyeret pelaku menjauhi korban.

Pagi itu, suasana begitu tegang. Teriakan dan pekikan saling sahut. Sejumlah siswa yang melihat tragedi itu ikut histeris. Beruntung, Efendi sigap. Setelah mengamankan situasi, dia lantas meminta bantuan ke Polsek Sukowono dan menghubungi ambulans desa. Polisi yang datang ke lokasi mengamankan pelaku dan membawanya ke Mapolsek Sukowono.

Selanjutnya, dalam keadaan pingsan, korban dibawa ke puskesmas terdekat untuk mendapat pertolongan medis. Sedangkan Miskijo, yang saat ini ditetapkan sebagai tersangka, diamankan ke Polsek Sukowono. Sebuah palu turut disita oleh petugas sebagai barang bukti.

Keterangan Sopyan, seorang tukang yang menyaksikan peristiwa ini, pagi itu dia tengah memperbaiki meja dan kursi di ruang yang bersebelahan dengan lokasi peristiwa. Dia tak mengira akan terjadi sesuatu ketika melihat Miskijo mengambil palu dari dalam tasnya.

Semula, Sopyan menduga palu itu bakal dipakai memperbaiki perabotan lain di sekolah. Rupanya, dugaan lelaki 67 tahun ini salah. “Saya baru tahu setelah ada guru berteriak minta tolong. Setelah keluar dari ruangan, ternyata Pak Eko tergeletak di lantai dan bersimbah darah,” katanya.

Sehari setelah kejadian, bekas darah di ruang guru masih tercecer. Di lantai terlihat ada sisa darah yang mulai mengering. Sementara itu, pintunya terkunci dari luar. Kendati begitu, aktivitas di sekolah setempat tetap berjalan seperti biasanya. Walaupun ada beberapa siswa yang melihat peristiwa berdarah tersebut, siswa tampak bermain di depan ruang kepala sekolah.

Peristiwa penganiayaan yang dilakukan seorang pendidik ini tak hanya menghentak publik. Guru di sekolah setempat juga mengaku terkejut. Sebab, tersangka dikenal sebagai guru yang sabar dan sering bercanda dengan rekan sejawatnya. Mereka heran, apa yang melatarbelakanginya sehingga membuat tersangka nekat memartil korban.

Tragedi berdarah di lembaga pendidikan ini terjadi Kamis (20/6) pagi, sekira pukul 07.00. Awalnya, tak ada yang menyangka Miskijo nekat menganiaya rekan kerja yang sekaligus pimpinannya itu. “Gak tahu ada masalah apa dengan Pak Eko. Kok tega menganiaya dengan menggunakan petil (palu, Red) milik pak tukang,” ujar Muin, guru agama.

Saat dimintai keterangan, Miskijo mengaku kesal dan sakit hati dengan korban. Sebab, sehari sebelumnya, saat menyerahkan buku laporan BOS, perlakuan korban dinilainya berlebihan. Buku yang ia sodorkan agar ditandatangani dilempar begitu saja. Berawal dari peristiwa ini, dendam tumbuh di dada guru kelas 5 tersebut.

Bendahara sekolah ini ditengarai menggelapkan dana BOS sebesar Rp 15 juta. Inilah yang menjadi alasan korban bersikap kasar terhadap pelaku. “Saya mengaku memang memakai dana BOS, tapi bukan Rp 15 juta, melainkan hanya Rp 1,9 juta saja,” kata Miskijo.

Dia mengaku menyesal telah menganiaya pimpinannya itu. Tersangka berdalih, sebenarnya tak ada niatan melukai korban. Dia hanya ingin menakuti lantaran sakit hati dituding menggarong uang sekolah. Akibat perbuatannya ini, tersangka diancam dengan Pasal 351 ayat 1 dan 2 KUHP. Ancaman hukumannya mencapai lima tahun penjara. (*)

IKLAN

Reporter : Jumai

Fotografer : Jumai

Editor : Mahrus Sholih