Sakit Hati Dituduh Mencuri Dana BOS

RADAR JEMBER.ID – Miskijo, 57, langsung dibawa Ke Mapolres Jember, Kamis (20/6) malam, setelah melakukan tindakan kekerasan terhadap atasannya. Dia didampingi oleh istrinya. Warga Dusun Sumbertengah, Desa Pocangan, Sukowono, itu mengaku sakit hati pada korban karena dituduh mencuri dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) sebesar Rp 15 juta.

Sehari sebelum pemukulan terjadi, pria yang menjabat sebagai wali kelas V SDN Pocangan 01  itu mengaku dipaksa menyerahkan buku dana BOS. Saat itulah, Miskijo dituduh menggelapkan dana BOS sebesar Rp 15 juta. “Saya mengaku memang memakai dana BOS, tapi tidak sampai Rp 15 juta,” akunya.

Dana BOS yang digunakan untuk pribadi hanya Rp. 1,9 juta saja. Karena tuduhan itu, Miskijo yang mengaku sebagai bendahara BOS merasa kesal dan sakit hati.

Selain dipaksa menyerahkan buku bendahara, Miskijo juga dipaksa menandatangani kertas kosong bermeterai. Namun, dia menolak. Penolakan itu membuat korban marah dan melempar buku bendahara pada Miskijo. “Saat itulah saya sakit hati dan dendam pada pak Edy yang juga atasan saya,” ucapnya.

Setelah kejadian itu, Miskijo pulang ke rumah seusai mengajar. Namun, perlakukan atasannya tak bisa dilupakannya. Dia merasa dendam dan tidak terima diperlakukan seperti itu. Bahkan, Miskijo mengaku tidak bisa tidur karena diperlakukan kasar oleh korban. Akhirnya, dia berencana membalas perlakuan korban pada keesokan harinya. “Saya akan membalas perlakukan pak Eko sebagai pelajaran,” ungkapnya.

Sebenarnya, balas dendam yang ingin diberikan  bukan untuk melukainya, tetapi hanya ingin memberi pelajaran saja agar tidak semena-mena. Keinginan balas dendam itu pun dilakukan pada keesokan harinya. Yakni pada  Kamis (20/6) pagi.

Miskijo berangkat ke sekolah. Setiba di sana, korban sudah datang lebih awal dan berada di ruang guru. “Saya datang tidak langsung masuk ke ruang guru, tapi masih menuju ruang sebelah yang digunakan untuk memperbaiki kursi yang rusak,” jelasnya dengan wajah menyesal.

Setelah itu, dia mengambil palu kecil yang ada di dalam tas tanpa sepengetahuan pemiliknya. Saat  membawa palu, Miskijo langsung menuju ruang guru. Kedatangannya membuat korban langsung berdiri. “Saat itu saya emosi dan langsung memukul kepala korban di bagian belakang samping kanan berkali-kali,” paparnya.

Pukulan yang berulang di kepala membuat korban langsung terkapar di lantai dengan bersimbah darah. Setelah korban tergeletak, Miskijo menyesal lalu meletakkan palu di atas meja. “Saya menyesal setelah mengetahui Pak Eko terjatuh dan pingsan bersimbah darah,” pungkasnya. (*)

IKLAN

Reporter : Jumai

Fotografer : Jumai

Editor : Bagus Supriadi