Harjabo dari Refleksi sampai Rekreasi

MEMPERINGATI Hari Jadi Bondowoso atau yang dikenal Harjabo menjadi salah satu agenda rutin tahunan pemerintah Kabupaten Bondowoso. Hari jadi bisa juga diartikan ulang tahun, hari lahir (harlah), milad, dan sebagainya. Pada tahun ini, Kabupaten Bondowoso memperingati usianya yang ke-200 tahun sejak didirikan atau diresmikan. Entah penentuan bulan dan usia yang mencapai angka tersebut dari mana asalnya, tentu tim yang membidangi sudah melakukan penelitian mendalam dan diskusi panjang sebeĺum memutuskan dan menetapkan tanggal tersebut. Termasuk bisa dimungkinkan ada hal lain yang menjadi rujukan penetapan itu. Kalau nanti ada masyarakat atau siapapun berniat atau berminat meneliti, mengkaji dan mendiskusikan kembali untuk mendapatkan wawasan, kemantapan dan keyakinan yang kuat dipersilahkan.

Ada beberapa hal yang perlu disampaikan melalui tulisan ini berkaitan dengan Harjabo tersebut. Saya mulai pembahasan dari kelahiran atau hari jadi. Berbicara kelahiran, kita diingatkan kembali pada momentum bersejarah dalam setiap kehidupan. Bagi manusia misalnya, hari kelahiran menjadi momentum penting yaitu perpindahan bayi dari alam rahim menuju alam dunia. Kelahiran menjadi titik awal kehidupan manusia menjalani kehidupannya di dunia ini.

Untuk itu, sebagian orang merasa penting untuk memperingatinya setiap tahunnya. Kita kenal dengan ulang tahun. Kita saat ini bisa menyaksikan bagaimana peringatan ulang tahun hingga kini, oleh sebagian orang dijadikan tradisi yang tetap dipertahankan dengan caranya sendiri seperti mengundang orang untuk selametan, doa bersama, mengaji bersama, memotong kue atau tumpeng, meniup lilin dan sebagainya.

Apapun tradisinya, selama membawa pada hal positif, selayaknya dipertahankan. Begitu sebaliknya kalau membawa dampak buruk dan kurang bermamfaat sebaiknya diarahkan.  Lebih dari itu, ada harapan besar dari setiap ulang tahun atau bertambahnya usia, bagaimana ke depannya bisa lebih baik dan bermanfaat. Bukan sebatas menjadi hal-hal seremonial saja tanpa memilik efek positif sebagai ungkapan rasa syukur. Itu dalam konteks kehidupan manusia.

IKLAN

Berbicara konteks daerah seperti memperingati hari jadi, kita diajak merenungkan kembali kejadian-kejadian yang kemudian menjadi sejarah penting kaitannya dengan kabupaten yang dikenal sebagai Kota Tape atau Republik Kopi itu, seperti Sejarah Babat Bondowoso, Tragedi Gerbong Maut dan kejadian penting lainnya yang tidak banyak diketahui karena tidak sempat ada yang menulisnya. Dari sanalah kita sebagai generasi dituntun mempelajari dan meneladani bagaimana rekam jejak pengabdian dan perjuangan para leluhur-leluhur seperti Ki Ronggo sebagai pendiri Bondowoso, Para Pahlawan Gerbong Maut dan siapapun yang meninggalkan rekam jejak baiknya. Baik yang dikenal maupun tidak dikenal. Semoga kebaikannya dicatat sebagai amal yang ibadah yang diterima.

Dalam rangka Harjabo tahun ini, pemerintah melalui Disparpora menggelar serangkaian kegitan seperti tasyakuran di Makam RBA Ki Ronggo, Ziarah Makam dan Kirab Ki Ronggo, Bondowoso Heritage atau Drama Kolosal Babat Bondowoso, Pecinan Festival atau China Town Culture Night Carnival, serta terakhir yaitu Fashion on the Street.

Pamletnya sudah banyak beredar di media sosial maupun dipasang banner di beberapa titik. Itu sebagai pengumuman kepada masyarakat untuk ikut serta dalam memeriahkan Harjabo. Walaupun kita memaklumi bahwa sosialisasi pelaksanaan kegiatan acara itu belum maksimal sampai ke desa-desa terutama warga yang jauh atau tidak sempat mendapat akses informasi. Saya sepakat kalau pemerintah dari atas sampai paling bawah ikut terlibat dalam sosialisasi kegiatan itu, serta mengajak masyarakat menggelar kegiatan sebagai bukti rasa memiliki terhadap Bondowoso. Seperti menggelar doa bersama, pawai budaya atau even-even yang menumbuhkan semangat mempertahankan kearifan lokal di setiap daerah baik tingkat desa atau tingkat kecamatan. Kalau itu bisa diwujudan, bisa jadi peringatan Harjabo bukan sekadar menjadi refleksi tapi juga menarik minat wisatawan untuk rekreasi bahkan sampai tingkat literasi. Semoga saja!

Melalui momentum Harjabo, setidaknya ada semangat baru untuk memberikan yang terbaik demi perubahan Bondowoso ke arah yang lebih baik dari segala sektor. Dalam hal ini, penting rasanya para pemangku kebijakan bersama tokoh masyarakat untuk duduk bersama-sama untuk membahas bagaimana mewujudkannya. Kita turut bangga dengan prestasi pemerintah di berbagai bidang baik yang dilakukan bupati sebelumnya maupun saat ini, prestasi masyarakat di berbagai ajang dan kompetisi. Tentu hal itu bukan sebatas dibanggakan dan dipamerkan tapi bagaimana menjadi komitmen yang terus dirawat dan dikembangkan serta ditingkatkan. Memang ada istilah membuat lebih mudah daripada merawat, mengadakan lebih mudah daripada mempertahankan. Itu barangkali menimpa diri kita. Di sini pentingnya kerjasama dan berbagi tugas bagaimana Bondowoso ke depan. Kalau itu terwujud, tentu menjadi kebahagiaan dan kebanggaan para leluhur terutama pendiri Bondowoso dan para pahlawan yang mendahului kita. Bukankah generasi yang baik adalah generasi yang merawat memperjuangkan cita-cita leluhurnya.

Selamat berbakti wahai Generasi Ki Ronggo.

*) Penulis adalah Sekretaris Sub Rayon Ikatan Santri Alumni Salafiyah Syafi’iyah (IKSASS) Kecamatan Cermee dan guru MA Nurut Taqwa Grujugan Cermee Bondowoso.

Reporter :

Fotografer :

Editor :