14 Kecamatan Tak Punya SMA Negeri

Kepala Cabang Dispendik Jatim Wilayah Jember Lutfi Isa Anshori menjelaskan pemerataan SMAN yang belum merata di Jember.

RADAR JEMBER.ID – Hari ini adalah hari terakhir pendaftaran jalur reguler Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMA Negeri. Persoalan pro kontra sistem zonasi ini masih belum selesai. Sebab, ada 14 kecamatan yang tidak memiliki SMA negeri. Hal itu membuat calon pelajar SMAN kebingungan, karena jarak tempuh rumah ke sekolah lebih dari empat kilometer.

Ada yang jaraknya lima hingga tujuh kilometer dari rumah ke sekolah. Sementara itu, aturan yang  diperbolehkan dari sistem zonasi ini, SMA negeri menerima pelajar yang jarak rumahnya ke sekolah tidak lebih dari empat kilometer. Tentu saja, hal ini menjadi kekhawatiran para wali murid terkait pendidikan anaknya.

Lutfi Isa Anshori, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Jember mengatakan, dari total 18 SMAN di Jember, tak semua kecamatan terdapat sekolah negeri. Jumlah kecamatan di Jember sebanyak 31. Jumlah itu tak sebanding dengan jumlah SMAN yang ada.

Menurut dia, ada 14 kecamatan yang tidak terdapat SMAN. Yakni Kecamatan Gumukmas, Puger, Wuluhan, Tempurejo, Silo, Mayang, Semboro, Jombang, Sumberbaru, Bangsalsari, Panti, Ledokombo, Sumberjambe, dan Jelbuk.

Pria yang akrab disapa Lutfi itu menambahkan, 14 kecamatan tersebut menjadi titik blank spot. Yakni lokasi yang jauh dengan SMAN terdekat. Agar para pelajar bisa masuk SMAN, maka peluang agar bisa diterima adalah dengan jalur nilai UN. “Tapi juga ada jarak rumahnya dengan sekolah 14  hingga 30 kilometer,” akunya.

Anak tersebut diterima lewat jalur zonasi jarak, karena SMAN yang dituju pagunya masih kosong.  Seperti yang ada di SMAN 1 Tanggul.

Kondisi blank spot itu tak hanya terjadi di daerah pinggiran, namun beberapa titik di kota juga mengalami hal yang sama. Kawasan perkotaan yang memiliki lima SMAN juga terdapat titik blank spot. Yakni di seputar pusat belanja Lippo Plaza.

Walau termasuk di daerah kota dan Kecamatan Kaliwates, daerah tersebut cukup jauh untuk mengakses SMAN 4, SMAN 3, SMAN 1, dan SMAN 2. “Mau ke SMAN 2 dan SMAN 1 jaraknya dua Kilometer, ke SMAN 4 juga SMAN 2 dua kilometer,” tuturnya.

Lutfi memberikan solusi terhadap masalah tersebut, yakni perlunya menambah unit sekolah baru (USB). Hanya saja, hal itu tidak mudah.  Sebab, mendirikan SMAN dan SMKN merupakan kewenangan Dispendik Jatim. Bila ada pada kewenangan Jember, tentu bisa lebih banyak mendirikan USB.

Diakuinya, kondisi pemerataan SMA dan SMK itu masih lebih baik di Kabupaten Bondowoso.  Sebab, Bondowoso memiliki kewenangan membangun setidaknya setiap kecamatan ada sekolah negeri. “Untuk mempercepat proses USB baru, bisa lewat Pemkab Jember memberikan hibah tanah kepada Dispendik Jatim guna mendirikan sekolah baru,” pungkasnya. (*)

IKLAN

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Bagus Supriadi