Tragedi Berdarah di Sekolah, Guru Pukul Kepsek Pakai Palu

LAMPIASKAN AMARAH: Tersangka pemukul kepala sekolah, Miskijo, 57, saat digelandang petugas Polres Jember. Dia disangka dengan pasal penganiayaan yang diancam hukuman 5 tahun penjara.

RADARJEMBER.ID– Tangan Miskijo beringsut. Seketika dia menyambar palu yang berada di dalam tas milik tukang di sekolah. Guru di SDN Pocangan 1, Desa Pocangan, Kecamatan Sukowono, itu tiba-tiba geram saat meliha Eko Supriyanto datang dan masuk ke ruang guru.

Palu yang sebelumnya digunakan tukang mereparasi meja langsung berpindah tangan. Tanpa banyak cakap, alat pukul itu dihantamkan tiga kali ke pria yang menjabat kepala sekolah tersebut.

Lelaki berusia 56 tahun itu pun rubuh. Darah mengalir dari kepala korban akibat luka robek. Sesaat kemudian, warga Desa Tamanan, Kecamatan Tamanan, Bondowoso itu tak sadarkan diri.

Selanjutnya, dalam keadaan pingsan, korban dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapat pertolongan medis. Sedangkan Miskijo, yang saat ini ditetapkan sebagai tersangka, diamankan ke Polres Jember. Sebuah palu turut disita oleh petugas sebagai barang bukti.

Tragedi berdarah di lembaga pendidikan ini terjadi, Kamis (20/6) pagi, sekira pukul 07.00 Wib. Awalnya, tak ada yang menyangka, Miskijo nekat menganiaya rekan kerja yang sekaligus pimpinannya itu.

Namun setelah diselidiki, pria 57 tahun ini rupanya masih menyimpan amarah. Karena sebelumnya, dia merasa sakit hati dengan perlakuan kepala sekolah. Buku laporan yang ia sodorkan agar ditandatangani, dilempar begitu saja. Informasinya, buku itu berisi laporan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Berawal dari peristiwa ini, dendam tumbuh di dada guru kelas 5 tersebut.

Keterangan Sopyan, tukang pemilik palu yang menyaksikan peristiwa ini, pagi itu dia tengah memperbaiki meja dan kursi karena diminta tolong oleh tersangka. Dia tak mengira akan terjadi sesuatu, ketika melihat Miskijo mengambil palu dari dalam tasnya.

Semula, Sopyan menduga palu itu bakal dipakai memperbaiki perabotan sekolah lainnya. Rupanya, dugaan lelaki 67 tahun ini salah. “Saya baru tahu setelah ada guru bertetiak minta tolong. Setelah keluar dari ruangan, ternyata Pak Eko sudah tergeletak di lantai dan bersimbah darah,” katanya.

Polisi menjerat tersangka dengan Pasal 351 ayat 1 dan 2 KUHP tentang penganiayaan. Pasal itu menyebutkan, penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama 2 tahun 8 bulan atau pidana denda paling banyak Rp 4.500. Tapi jika perbuatan itu mengakibatkan luka-luka berat, tersangka diancam pidana penjara paling lama 5 tahun. (*)

IKLAN

Reporter : Jumai

Fotografer : Jumai

Editor : Mahrus Sholih