Tinggal Satu Kelas, SDN Terancam Tutup

SISAKAN SATU KELAS: Sam Mujiono saat mengajar siswa kelas V SDN Sidomulyo 08, Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, di ruangan yang kurang layak.

RADAR JEMBER.ID – Mujiono merasakan keresahan yang begitu dalam ketika mengajar murid kelas V SDN Sidomulyo 08, Kecamatan Silo. Sebab, setelah satu kelas tersebut lulus, tak ada lagi pelajar yang sekolah di sana. Sejak lima tahun terakhir, sekolah negeri ini tidak diminati oleh warga.

Maklum, sekolah ini tidak memiliki gedung sendiri seperti sekolah lainnya. Sejak tahun 2008 lalu, pihak sekolah justru meminjam rumah dinas milik Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur.  Ruang kelasnya cukup memprihatinkan. Sebab, temboknya sudah retak dan kerap kali bocor.

Pintu dan jendelanya sudah dimakan rayap, termasuk pintu ruangnya sudah tidak ada. Tak hanya itu, plafon juga tidak ada. Atap sudah dipasang penyangga kayu agar tidak ambruk. Papan sekolah yang terpasang begitu kecil, tak tampak bahwa tempat ini adalah sekolah.

Sekolah ini terancam ditutup karena sudah tidak menerima siswa baru lagi. “Mau gimana lagi, wong yang mau sekolah sudah tidak ada lagi,” kata Zaenul, Kepala SDN Sidomulyo 08.

Kini, sekarang, hanya ada kelas V yang akan naik ke kelas VI. Jumlah muridnya sebanyak enam orang. Kemudian, satu kelas dengan jumlah enam pelajar sudah lulus tahun ini. Mereka sudah mendaftar di sekolah lanjutan, baik di MTs maupun SMP di daerah sekitar. Otomatis, umur sekolah tersebut tinggal satu tahun. Tahun selanjutnya, tak akan beroperasi lagi, karena sudah tidak ada peserta didiknya.

Guru di SDN itu berjumlah lima orang. Tiga guru berstatus PNS dan dua guru berstatus guru tidak tetap (GTT). Salah seorang guru, Sam Mujiono, akan segera pensiun. Maka dari itu, jumlah guru akan berkurang satu.

Rencananya, para pelajar hendak digabung dengan SDN Sidomulyo 09 yang memiliki gedung sendiri. Pihak sekolah sudah berkoordinasi dengan Sumarmi, Kepala SDN Sidomulyo 9. Sayangnya, sampai hari ini belum ada keputusan, apakah diperbolehkan atau tidak. Namun, pengawas meminta agar melanjutkan atau menuntaskan belajar para pelajar yang masih tersisa.

Selain itu, jika sekolah itu mau dibubarkan, pihaknya berharap agar GTT yang mengajar di sana bisa ditempatkan di sekolah lain. “Kasihan kalau nantinya tidak ada penempatan,” pungkasnya. (*)

IKLAN

Reporter : Jumai

Fotografer : Jumai

Editor : Bagus Supriadi