Moderasi Beragama dan Strategi Keilmuan PTKI

Oleh : Prof. Dr. H. Babun Suharto, SE, MM

Kita sangat mafhum bangsa Indonesia merupakan bangsa yang memiliki keragaman, baik itu etnis, agama, bahasa, maupun pernak-pernik dan identitas lainnya. Indonesia memiliki kekhasan yang unik dan distingtif. Namun, di satu sisi juga dihadapkan dengan pelbagai tantangan serius. Jika dibiarkan, tantangan tersebut dapat menggerus keragaman itu sendiri. Pertanyaannya, dalam konteks memaknai keragaman dan mewujudkan keberagamaan yang kaya nilai-nilai budaya, mungkinkah perguruan tinggi keagamaan islam (PTKI) sebagai institusi pendidikan dapat menumbuhkan pola pikir moderasi beragama?

Pertanyaan itu tentu membutuhkan jawaban yang konkret, mengingat tantangan saat ini begitu besar menghadang. Kita semua tahu akan kondisi Indonesia saat ini yang mulai dimasuki pandangan eksklusif dan tindakan ekstremisme kekerasan dalam jubah agama, yang jika dibiarkan dapat merusak tatanan keragaman dan tali kebangsaan kita yang majemuk. Dalam konteks ini, moderasi beragama menemukan relevansinya untuk dikokohkan di atas dasar filosofi universal dalam konstruk pengembangan keilmuan di PTKIN.

Ini penting, selain sebagai sarana tepat guna menyebarkan sensitivitas civitas academica pada nalar perbedaan. Namun juga sebagai strategi penguatan intelektualisme moderat agar tidak mudah menyalahkan pendapat yang berbeda.

Riset paling mutakhir dari Setara Institute (2019) menunjukkan, wacana keagamaan di kalangan mahasiswa berbagai perguruan tinggi negeri (PTN) sebagian besar saat ini dikuasai oleh kelompok tarbiyah dan eks anggota organisasi kemasyarakatan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang bertransformasi menjadi aktivis gerakan tarbiyah. Riset Setara Institute ini dilakukan di sepuluh PTN, termasuk salah satunya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada Februari hingga April 2019.

Hasil penelitian ini setidaknya menjadi peringatan keras kepada kita semua. Tantangan besar itu nyata di hadapan kita dan harus dicarikan solusinya. Riset ini menggambarkan keadaan para mahasiswa di perguruan tinggi yang lahir sebagai Muslim tanpa Masjid dalam istilah Kuntowijoyo. Yaitu anak muda yang mendapatkan sentuhan gagasan keislaman bukan dari institusi pesantren, melainkan dari hasil liqa’, halaqah, dan masjid-masjid kampus. Tentu hal ini sangat disayangkan. Jika tidak dicarikan solusinya, gejala ini akan terus meningkat dan akan merasuki iklim akademik perguruan tinggi.

PTKI sebagai Basis Moderasi Agama

Hemat saya, pendidikan tinggi keagamaan sangat tepat menjadi laboratorium moderasi beragama. Perguruan tinggi keagamaan sejatinya menjadi lahan tersemainya gagasan kebangsaan, konstruk pemikiran kritis, penanaman nilai-nilai multikulturalisme, dan penyampaian pesan agama yang damai dan toleran, serta penebaran cinta pada kemanusiaan. Hal itu semua, sejatinya mewujud dalam narasi sejarah tujuan didirikannya PTKI dan segala konstruk turunannya yang berorientasi pada moderasi beragama.

Setidaknya ada tiga langkah strategis yang dapat dilakukan di perguruan tinggi keagamaan. Pertama, pengarusutamaan moderasi beragama diimplementasikan dalam segala turunan kebijakan perguruan tinggi keagamaan dan diwujudkan dengan pengembangan kajian dan tradisi akademik yang kritis, serta menghargai kelompok atau pendapat lain.

Dalam konteks ini, penyematan kurikulum yang di dalamnya terdapat subjek-subjek ideologis harus selalu dipicu sebagai basis penguatan. Subjek ideologis dapat dibaca, misalnya seperti pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Subjek-subjek ideologis ini yang secara spesifik menjadi dasar penguatan ideologi kebangsaan tidak ditemukan dalam kurikulum di perguruan tinggi luar Indonesia. Secara spesifik, perguruan tinggi keagamaan dapat menerapkan kebijakan dan pelembagaan nilai-nilai kewarganegaraan dalam budaya pendidikan.

Kedua, menjadikan perguruan tinggi keagamaan sebagai wadah dan tempat penyemaian nilai-nilai kemanusiaan, nilai-nilai kerukunan beragama, dan moderasi beragama. Persoalan ini sangat mendesak saat pendidikan Islam kembali menghadapi tantangan serius yang menjamur dalam konstruk pemahaman sektarian dan juga Islam transnasional. Fenomena ini muncul di perguruan tinggi keagamaan Islam dengan gejala islamisasi yang dibawa oleh sekelompok mahasiswa melalui forum-forum tarbiyah dan pengaderan.

Dalam konteks ini, perguruan tinggi keagamaan harus terbuka untuk menjadi tempat strategis menyediakan pembelajaran efektif dalam upaya memberikan pemahaman dan nalar kritis yang dibangun dengan pendekatan Islam rahmatan lil alamin. Pembelajaran integratif yang mendorong perkembangan kajian objektif dan empati terhadap agama-agama lain yang diimplementasikan dengan penguatan pendekatan sosiologis-historis.

Untuk mendukung tercapainya diseminasi pemahaman inklusif di perguruan tinggi keagamaan, dapat pula menginternalisasi perspektif kewarganegaraan di kalangan civitas academica perguruan tinggi dengan berbagai cara. Misalnya meningkatkan pembinaan kesiswaan yang bersifat lintas kelompok dan golongan dengan menggandeng berbagai komunitas masyarakat berpaham kebangsaan. Strategi ini dapat berguna dengan efektif karena perguruan tinggi adalah wajah habitus pencerahan generasi milenial untuk menanamkan pemikiran toleran, kritis, dan inklusif.

Ketiga, mengembangkan literasi keagamaan (religious literacy) dan pendidikan lintas iman (interfaith education). Pola ini harus dibangkitkan kembali sebagaimana kita melihat dalam kurun sejak terbentuknya IAIN sudah terdapat kecenderungan tentang kajian agama lain. Kita dapat melihat hal tersebut di Fakultas Ushuluddin dengan ilmu perbandingan agama dan disusul pendirian Jurusan Perbandingan Agama dengan pendekatan holistik terhadap agama-agama dengan mencoba menelisik dan memahami secara komprehensif fenomena agama. Dari pendekatan inilah, dialog antaragama akan dimulai dan pada akhirnya dapat mendorong terciptanya pemahaman komprehensif yang berujung pada toleransi kehidupan beragama.

Prof. Dr. H. Babun Suharto, SE, MM, Rektor dan Guru Besar IAIN Jember

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :