Kalau Kalah Nangis, Menang Minta Dibelikan Sesuatu

Kai Rafael Wijaya, Atlet Wushu Cilik Berprestasi

Kecil-kecil cabe rawit. Itulah kalimat yang pas buat  Kai Rafael Wijaya, salah satu atlet wushu cilik yang masih berusia delapan tahun. Dia sudah  meraih berbagai prestasi dalam kejuaraan bergengsi hingga tingkat internasional.

KECIL-KECIL SUDAH BERPRESTASI : Kai Rafael Wijaya, atlet wushu cilik yang  sudah banyak raih medali.

RADAR JEMBER.ID – Ekspresi wajahnya selalu ceria. Kaus latihannya selalu dimasukkan. Sepertinya, dia ingin selalu tampil rapi meskipun hanya sesi latihan rutin saja. Wajah imutnya selalu memancarkan aura keceriaan ketika mengikuti berbagai macam metode latihan wushu taolu.

Ekspresi Kai, panggilan akrabnya, selalu fokus saat menampilkan latihan jurus atau style taolu. Meskipun beberapa kali mendapat instruksi memperbaiki performa dari pelatihnya, Wandy Tandun, dia sanggup melahap sesi fisik di akhir latihan dan bisa mengimbangi temannya yang lebih tua darinya.

Dari belasan atlet junior Garuda Wushu Jember yang berlatih rutin di GOR Garuda, anak kecil yang memiliki nama lengkap Kai Rafael Wijaya ini adalah atlet termuda. Kai kini masih menginjakkan usia delapan tahun.

Seperti anak kecil pada umumnya, tak jarang di sela-sela latihan, Kai bercanda dengan kawan-kawannya. Ya, si kecil imut Kai ini memang atlet wushu Jember yang sudah masuk ke kategori Prestasi 1 (P-1). Yakni, atlet wushu junior yang sudah cukup banyak mengikuti beberapa kejuaraan. Sebab, di bawah P-1 ada tiga tingkatan lainnya, P-2, P-3, dan pemula.

Papinya, begitu Kai memanggil ayahnya, Harianto Wijaya, selalu mendampingi Kai. Begitu juga dengan ibunya, Dewi Ratih. Hampir setiap waktu menemaninya latihan mulai hari Senin sampai Minggu. “Awalnya saya mengantarkan kakaknya latihan wushu dan ngajak Kai. Lama-kelamaan Kai juga suka ikut waktu sesi latihan fisik,” ucap Harianto.

Namun, saat latihan jurus, Kai belum dapat bergabung. Akhirnya, Harianto menjelaskan, Ketua Umum Pengkab Wushu Indonesia (WI) Jember Bambang Siswanto terus mendorong keikutsertaan Kai untuk jadi atlet wushu. “Padahal dulu saya tidak berpikir serius Kai saya ikutkan wushu. Malah mau saya masukan ke Taekwondo kalau usianya sudah tujuh tahun,” jelasnya.

Menurut Harianto, pendekatan secara personal yang dilakukan Pak Kwang, sapaan akrab Ketum WI Jember, kepada anaknya agar meyakinkan si Kai kecil lebih fokus ke wushu. “Kai dipanggil sama Pak Kwang dan diajak naik mobilnya. Terus diajak makan soto sampai tidur siang di rumahnya. Demi meyakinkan Kai buat main di wushu,” beber pria yang kini menjabat komisi teknik Pengkab WI Jember.

Seiring berjalannya waktu, Kai yang mulai suka wushu ini punya rasa takut saat sesi latihan. Itu lantaran gaya kepemimpinan pelatih Wandy Tandun yang tegas dan disiplin. “Kai ini masih pupuk bawang. Jadi, dia kalau latihan ada Coach Wandy, dia takut untuk datang,” ungkap pria yang juga kerap dipanggil Kak Ve ini.

Namun, Coach Wandy memiliki cara khusus agar bisa membuat Kai mau ikut arahan latihannya. Dia diberi arahan soal teknik serta jurus. “Pendekatan yang lebih dari Coach Wandy setelah latihan kepada Kai, akhirnya yang membuat Kai mau ikut latihannya. Diajak bercanda ataupun makan bersama,” tambah Harianto.

Bahkan, latihan intensif setiap hari membuat Kai harus pintar-pintar membagi waktu dan menjaga kondisi tubuh. Yakni antara sekolah dan latihan yang biasanya digelar sore atau malam hari. “Baru beberapa bulan kemarin Kai sempat tifus. Tapi, syukur sekarang sudah pulih dan bisa latihan lagi dia,” ucap Harianto.

Dengan jadwal yang padat tersebut, Kai tetap mengikuti latihan yang diberikan oleh jajaran pelatih. Baik latihan fisik setiap hari Minggu maupun program latihan lainnya. Kerja keras si kecil Kai sedikit demi sedikit mulai membuahkan hasil.

Dalam beberapa kejuaraan, anak kedua dari pasangan Harianto Wijaya dan Dewi Ratih ini mulai menyabet gelar juara. Seperti juara 3 di 1st Bali International Kungfu Championship 2019, juara 1 Piala Bupati Sidoarjo tahun 2017, juara 1 Kejurprov Jatim 2018, juara 1 Kejuaraan Open Wali Kota Surabaya, dan masih banyak gelar juara lainnya. “Kai ini masih main di kelas D putra. Yakni kelas yang masih berdasarkan usia. Tapi pernah bermain di kelas C, satu tingkat di atas D,” tambahnya.

Harianto bercerita, saat menunggu pengumuman hasil pemenang, tak jarang Kai berdoa serius untuk ingin meraih juara 1. “Tapi kalau dapat hasil kalah, ya dia nangis. Kalau juara, dia langsung minta belikan ini itu,” terangnya sambil tertawa.

Saat ini, si kecil kelahiran 3 April 2011 ini bermain di jurus utara, dengan senjata golok dan toya utara. Dia tetap bermain di wushu taolu, yakni kategori wushu yang menampilkan jurus atau style saja. Bukan wushu sanda, yang kategori tanding di ring arena, layaknya tinju ataupun kick boxing.

“Kalau main di luar kota, saya dan mamanya selalu mengantar. Tapi kalau untuk latihan, mamanya lebih sering yang antarkan sekarang,” jelas sang ayah.

Kai bersama kakaknya, Chelsea Maya Wijaya, yang masih berusia 11 tahun, sama-sama ingin berprestasi lebih baik lagi di dalam wushu taolu ini. Keluarga yang tinggal di Kertabumi, Kaliwates ini, berharap Chelsea dan Kai dapat konsisten latihan rutin dan menunjukkan skill terbaiknya di kejuaraan ke depan. (*)

IKLAN

Reporter : Muchammad Ainul Budi

Fotografer : Muchammad Ainul Budi

Editor : Bagus Supriadi