Hari Pertama, Laman PPDB Jatim Sempat Eror

Server Tak Beres, Wali Murid Stres

BERHARAP DITERIMA: Lutfiah (kerudung kuning) dan Nurlaila bertanya ke petugas PPDB SMAN 2 terkait nasib anaknya. Dua wali murid ini waswas anaknya tak diterima karena lokasi rumahnya di Patrang, meski punya nilai ujian yang cukup tinggi.

RADAR JEMBERRADAR JEMBER. ID  – Hari pertama Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tingkat SMA membuat wali murid ketar-ketir. Nama anak mereka yang sebelumnya terdaftar di sekolah pilihan pertama tiba-tiba hilang. Tanpa diketahui sebabnya, nama itu tercatat di sekolah lain yang menjadi pilihan kedua. Pengalaman itu dialami Nurlaila Zulfa, 43, warga Kecamatan Patrang.

Siang itu, dua perempuan terlihat masih saja bertahan di tempat pendaftaran di SMAN 2 Jember. Keduanya tampak bingung dengan penerapan sistem PPDB zonasi. Mereka gamang akan nasib anaknya. Khawatir jika tak diterima di sekolah sesuai pilihan. Apalagi, malam sebelumnya ada peristiwa yang membuat cemas. Nama anak mereka tiba-tiba hilang di daftar siswa yang diterima SMAN 1 Jember.

Nurlaila Zulfa, 43, satu dari dua perempuan itu mengaku, anaknya memiliki nilai Ujian Nasional (UN) cukup tinggi, yakni 354,50. Hanya saja, sistem penerimaan kali ini tak lagi mengunggulkan nilai, melainkan berbasis jarak. Meski besaran nilai UN dan waktu pendaftaran juga menjadi pertimbangan.

Melihat perubahan regulasi, Nurlaila mengubah strategi. Dia mulai berhitung tentang sekolah yang dituju serta potensi diterima. Karena dianggap memungkinkan, dia mendaftarkan anaknya di SMAN 1 sebagai pilihan pertama, dan SMAN 2. Pilihan ini sesuai keinginan anaknya. “Saya tidak memilih SMAN 5 yang lebih dekat, karena SMAN 1 dan SMAN 2 juga relatif dekat. Walau rumah saya tak jauh dari RS Soebandi,” tuturnya.

Kalkulasi yang dilakukannya tak sepenuhnya salah. Kendati belakangan dirinya merasa bingung. Kondisi itu semakin memuncak kala anaknya menangis melihat hasil PPDB secara daring (online) di hari pertama pendaftaran, Senin (17/6). Peringkat putrinya yang sebelumnya berada di nomor 27, tiba-tiba melorot. Meski tak berselang lama, peringkat itu kembali ke urutan asal, nomor 27.

Keesokan harinya, kesedihan anaknya, yang tercatat sebagai alumni SMPN 2 itu, kembali menjadi-jadi. Namanya justru hilang dari daftar calon siswa yang diterima di SMAN 1, dan berpindah masuk ke SMAN 2. Urutan berdasar nilai UN juga berada di 50 besar. “Kok bisa seperti ini. Mekanismenya seperti apa? Kasihan anak saya menangis terus. Tidak hanya anak saya, anak lainnya dari grup wali murid juga begitu,” tuturnya.

Kecemasan yang sama juga dialami Lutfia, wali murid lainnya. Bahkan, anaknya justru tak diterima di dua SMA favorit di Jember itu. “Anak saya malah tidak masuk semua. Di SMAN 1 dan SMAN 2. Padahal rumah kami dengan Bu Nurlaila itu sama. Satu perumahan,” ungkapnya.

Akibat ketidakjelasan sistem ini, dua ibu rumah tangga itu sampai meminta penjelasan ke Dinas Pendidikan (Dispendik). Namun, jawabannya dinilai mengecewakan. Tak ada solusi konkret. Dispendik justru menyarankan agar mendaftar di sekolah swasta, atau menunggu tahun depan. “Ada juga yang bilang, coba ngetweet aja ke Bu Khofifah (Gubenur Jatim, Red) agar PPDB ke-2 dibuka lagi,” sesalnya.

Kedua wali murid tersebut juga mengaku, sosialisasi PPDB zonasi sangat minim. Bahkan, mereka mendapatkan informasi yang menyesatkan. Diminta agar mendaftarkan lebih awal, karena potensi diterima lebih tinggi ketimbang daftar terakhir. “Kalau seperti sekarang, ya tidak bisa dicabut. Padahal, nilai UN anak kami ini bagus,” terang Nurlaila.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Cabang Dispendik Jatim Wilayah Jember Lutfi Isa Anshori mengaku, problem yang terjadi itu bisa disebabkan server PPDB Jatim. Sebab, di hari pertama pendaftaran yang dilakukan secara daring, server sempat eror. “Servernya bukan down, bisa diakses, tapi ada yang eror. Sekarang tidak eror lagi dan berjalan normal,” ujarnya.

Eror tersebut, disebutnya, membuat pemeringkatan siswa pendaftaran PPDB kacau. Bahkan, kata dia, siswa yang dibuang dari pilihan pertama dan masuk ke pilihan kedua, tidak ada penjelasan yang memadai. “Kalau sekarang bisa dilihat sendiri. Peserta PPDB itu masuk ke SMA yang dituju karena zonasi jarak atau UN,” tuturnya.

Dia juga menjelaskan, PPDB tahun ini ada lintas zona dan dalam zona. Lintas zona yang pendaftarannya secara offline (luring) mulai 10 Juni kemarin. Ada kuota 10 persen. Dibagi 5 persen jalur prestasi, yang terdiri atas 3 persen prestasi akademik dan nonakademik, dan 2 persen prestasi nilai UN. Sedangkan 5 persen lainnya diberikan untuk jalur perpindahan orang tua karena tugas pekerjaan.

Sementara itu, ketentuan dalam zonasi sebesar 90 persen dari total kuota siswa di sekolah. Jumlah itu terdiri dari 15 persen keluarga tidak mampu, 5 persen keluarga buruh dan jalur inklusi. Sisanya, sebanyak 70 persen untuk zonasi reguler. “Zonasi regular ini masih dibagi lagi. Yaitu zonasi jarak 50 persen dan nilai UN 20 persen,” paparnya.

Dia memaparkan, jalur zonasi reguler ini sistemnya adalah siswa yang diterima berdasarkan jarak terlebih dahulu. Jika tergeser dengan pendaftar yang jarak rumahnya lebih dekat, maka anak tersebut dimasukkan ke nilai UN. “Jika nilai UN tetap tidak masuk karena ada yang lebih besar, maka digeser ke pilihan kedua,” imbuhnya.

Kendati demikian, Lutfi kembali menerangkan, semisal ada dua anak dengan nilai UN sama dan jarak yang sama, tapi kuotanya tinggal satu, maka yang diterima adalah siapa yang mendaftar terlebih dahulu. “Pertama itu jarak dulu, baru bertarung di nilai UN. Setelah itu waktu,” tambahnya.

Lutfi mengakui, banyak orang tua yang tidak paham tentang sistem seperti ini. Mengapa anaknya digeser ataupun bertarung di nilai UN. Sebetulnya, kata Lutfi, para wali murid bisa memantau secara daring di PPDB Jatim https://ppdbjatim.net/ dengan memilih pemeringkatan sekolah.

Sementara itu, untuk penerimaan SMK negeri cenderung tidak ada masalah. Sebab, model pendaftarannya tidak memakai zonasi. Melainkan berdasarkan nilai UN. Semakin besar, maka potensi diterima juga besar. (*)

IKLAN

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih