Sama Seperti yang Lain, Kami Memiliki Keinginan Bisa Sekolah 

Kisah Pilu Anak Punk, ke Sana Kemari Tak Tahu Arah

Kesan lusuh atau kumus-kumus melekat erat di tubuh anak punk bocah belasan tahun itu. Entah berapa hari pakaian itu melekat ke tubuh mungil mereka yang tiap hari diterpa polusi dan debu jalanan.

LUNTANG-LANTUNG: Nasib anak punk yang melintas di kawasan Kaliputih, Rambipuji, kemarin. Mereka berjalan tak tentu arah.

RADAR JEMBER. ID – Mereka tak tahu akan ke mana. Pokoknya jalan dan terus berjalan. Untuk makan, mereka mengandalkan hasil mengamen di sepanjang jalan yang mereka lalui.

Mereka selalu singgah dari satu tempat ke tempat lainnya. Sesekali mereka terlihat melambaikan tangan ke mobil-mobil boks dan mobil muatan. Bukan tanpa maksud, namun anak-anak punk itu mencari tumpangan. ”Kami sebenarnya tidak tahu tujuan mobil tersebut akan ke mana,” tutur Fai, salah satu anak punk.

Bahkan tak jarang pula, beberapa mobil yang mereka hadang terlihat membunyikan klakson cukup keras sebagai tanda menolak untuk mereka tumpangi. “Kita pengen ke barat, siapa tahu ada yang bisa dimakan dan ketemu teman kita di sana,” kata anak punk yang mengaku dari Sidoarjo itu.

Saat sore kemarin, cuaca memang kurang berpihak kepada Fai dan teman-temannya. Mereka melintas di Jalan Lumajang, Jatian, Kaliputih.  Maksud hati ingin berteduh dari hujan, mereka justru mendapat bentakan dari sejumlah pemilik warung yang berjejer di sepanjang Jatian, Kaliputih. “Mungkin ibu-ibu yang punya warung itu takut kalo kita minta nasinya,” ketusnya sambil tertawa-tawa bersama temannya.

Rian, yang juga salah satu dari mereka, menuturkan, setiap harinya untuk bisa makan, mereka terbiasa mengamen dulu. Bahkan, saat hasil mengamen tidak cukup untuk jatah makan mereka, rasa lapar dan kedinginan sudah bukan perkara baru bagi mereka.

Rian mengaku cukup lama hidup di jalan. Saat Jawa Pos Radar Jember menanyakan ke mana tujuan mereka, hampir sebagian dari mereka menjawab sama. “Yang penting kita bisa makan, dan bareng-bareng temen,” imbuhnya.

Bocah yang mengaku baru berumur 17 tahun itu sedikit menceritakan bahwa dirinya sempat menempuh jenjang sekolah dasar. Saat berencana menempuh ke jenjang pendidikan selanjutnya, prahara menimpa keluarga kecilnya dan memupus impian bocah ABG itu. “Bapak ibu pisah, lalu ada temen ngajak main, yah saya ikut. Sampe sekarang bapak ibu saya gak ada yang mencari,” tambah Rian.

Bocah asal Mojokerto itu pun mengutarakan keinginannya, jika orang tua masih ada dan peduli kepadanya. Bahkan, tak menutup kemungkinan ia masih ingin bersekolah. “Mau seperti apa pun nakalnya anak, kalau masih ada orang tua dan bersekolah, itu masih lebih enak,” saut Fai dengan menenteng ukulelenya.

Saat setelah hujan reda, mereka kembali berjalan dan memainkan ukulelenya dan kembali melambai-lambaikan tangan ke kendaraan besar untuk mencari tumpangan gratis. (*)

IKLAN

Reporter : mg2

Fotografer : mg2

Editor : Hadi Sumarsono