Dishub Kaji Pembatasan Tonase Piket Nol

Yus Yaser Arafat, Kepala Perhutani Lumajang

LUMAJANG RADAREJEMBER.ID – Pemicu bencana longsornya Piket Nol cukup kompleks. Bukan hanya lahan diatas tebing yang gundul. Tonase angkutan yang menggenjet kawasan jalan sampai getaran juga berpengaruh besar. Dua penyebab itu ternyata belum terkendali.

Upaya Dinas Perhubungan (Dishub) melakukan langkah preventif bencana longsor disana ternyata cukup lama. Hanya saja, selalu terbentur urusan kewenangan. Sebab, pengelolaan jalan yang berstatus jalan nasional jadi kewenangan kementerian. Sehingga pembatasan tonase tak segampang membalikkan telapak tangan.

Dishub sempat berencana akan melakukan pembatasan terhadap kendaraan bermuatan berat yang banyak didominasi pasir. “Tetapi pembatasan jumlah kendaraan yang melintasi jalan nasional itu berada di Kementerian,” kata Nugraha Yudha Plt Dishub sore kemarin.

Dia mengakui, dampak getaran dari kelebihan tonase memang berpengaruh. “Pastinya ada. Kemungkinan mempengaruhi tanah juga iya. Tapi ini kan masih harus dikaji lebih mendalam,” imbuhnya.

Saat ini upaya Dishub melakukan maksimalisasi kerja sama dengan Balai Besar Jalan masih terus dilakukan. Biarpun demikian, Yudha merasa bahwa hal yang sama juga akan terjadi kepada pihak Balai Besar Jalan. “Kami terus lakukan koordinasi dengan pihak lain,” tandasnya.

Selain Dishub yang belum bisa mengendalikan penyebab getaran karena kendaraan, Perhutani rupanya juga sulit mengendalikan pembalakan liar. Banyak hutan di Lumajang yang terus dibabati. Termasuk di kawasan tebing atas piket nol.

Pembalakan liar terhadap kawasan hutan lindung begitu memprihatinkan. Ulah para penjarah liar makin menggila. Akibatnya kawasan hutan yang dulunya rindang dan dipenuhi tanaman keras penahan air sudah berkurang. Kini kondisinya jadi gersang.

Bahkan ada juga yang kondisinya kini diubah menjadi lahan produktif. “Kondisinya tidak seperti dulu lagi. Dari kerusakan itu ada yang ditanami sengon, tanaman palawija,” kata Kepala Perhutani Yus Yaser Arafat.

Ironisnya, aksi ilegal logging ini kerap kali dilakukan secara bergerombol dengan menggunakan gergaji mesin. Kebanyakan terjadi di kawasan selatan. Yakni Pasirian dan Candipuro.

Dalihnya untuk kelangsungan hidup. Tak terkecuali di kawasan piket nol. Menurut Kepala Dinas Kehutanan Klakah Soegiharto Aries, berpandangan jika hal ini masih terus berlanjut, maka dampak besar bakal terjadi. “Bencana akibat kerusakan lingkungan sudah mengintai,” katanya.

Untuk itu, dia mengharapkan adanya semangat kebersamaan untuk segera menghentikan tindakan pembabatan hutan. Selain juga adanya kesadaran dan peran aktif dari berbagai pihak dalam mengkaji permasalahan.

IKLAN

Reporter : Ahmad Jafin

Fotografer : Ahmad Jafin

Editor : Hafid Asnan