Siapa  Dekat, Dia  Dapat

Sistem Zonasi PPDB 2019

Kedekatan jarak rumah dengan sekolah menjadi faktor agar utama diterima di lembaga SMP negeri. Siapa jarak rumahnya paling dekat, dan paling cepat mendaftar, dia lebih berpeluang diterima. Meskipun nilai ujiannya lebih rendah.

RADAR JEMBER.ID – Di SMPN 7 Jember, calon wali murid yang hendak mendaftarkan sekolah anaknya mulai berdatangan. Sekolah tersebut memang tinggi peminat. Salah satu keunggulanya karena prestasi olahraga yang diraih.

Para calon wali murid itu membawa sejumlah berkas, termasuk kartu keluarga (KK). Tiba di sekolah, mereka langsung menghampiri meja pendaftaran PPDB yang sudah disediakan, lalu diserahkan pada petugas PPDB.

Sejenak kemudian, alamat yang tercantum di KK itu dicek jaraknya melalui komputer. Mulai dari RT, RW, kelurahan, kecamatan, kabupaten, hingga provinsi. Peta digital dari Google Maps pun muncul menjelaskan tentang jarak kilometer antara rumah calon siswa dengan sekolah.

Bila rumah dengan sekolah begitu dekat, maka otomatis calon pelajar SMPN 7 itu bisa lebih mudah diterima.  Sistem  zonasi PPDB SMPN tahun ini menjadikan jarak sebagai penentu. Tak bergantung pada besar nilai ujian atau NEM.

Kepala SMPN 7 Jember Syaiful Bahri mengatakan, jarak menjadi acuan pertama untuk diterima atau tidak. Kemudian, juga kecepatan  calon siswa itu mendaftar. Artinya, missal hanya tinggal satu kuota yang kosong, sedangkan ada dua pendaftar dengan jaraknya sama, maka yang diterima adalah mereka yang mendaftar terlebih dahulu. “Acuan pertama jarak, setelah jarak baru waktu pendaftaran,” terangnya.

Meskipun, disediakan dari jalur prestasi  hasil nilai ujian akhir sebesar lima persen, dan lima persen dari pindah tugas orang tua. Khusus SMPN 1 dan SMPN 7 mengambil satu rombel pelajar dari prestasi olahraga yang diambilkan dari jalur zonasi sebesar 90 persen.

“Kalau rumahnya itu nempel dengan sekolah yang dituju, jelas diterima,” kata Edy Budi Susilo, Kepala Dispendik Jember. Menurut dia, penerimaan PPDB SMPN ada tiga jalur plus. Jalur prestasi dengan kuota lima persen, jalur pindah tugas orang tua lima persen, jalur zonasi 90 persen, ada satu jalur kelas olahraga yang khusus ada di SMPN 7 dan SMPN 1 sebanyak satu rombel atau 32 siswa.

Edy menjelaskan, calon wali murid SMP harus lebih cerdas dalam menyikapi kebijakan ini. Tidak emosi dalam menentukan pilihan, cerdas dalam menghitung, dan tahu diri. “Kalau jaraknya terlalu jauh dengan sekolah yang dituju, jangan dipaksakan,” imbuhnya. Kecuali, sekolah yang dituju kekurangan siswa. Maka, meskipun jaraknya jauh, masih bisa diterima.  

Selain itu, calon pelajar SMP juga hanya diberi  satu pilihan sekolah yang dituju. Kalau sudah mendaftar, dia tidak bisa mencabut berkas atau pindah pilih sekolah lain. “Tidak ada cabut-mencabut, satu siswa memilih satu sekolah,” tegasnya..

Dia menjabarkan, sistem zonasi bertujuan memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi warga Jember untuk memperoleh pendidikan sebaik-baiknya. Zonasi ini untuk pemerataan sekolah, sehingga tidak ada sekolah yang difavoritkan.

Kabid SMP Dispendik Jember Erwan Salus Prijono menjelaskan, kebijakan pemerataan pendidikan melalui distribusi siswa yang merata. “Ke depan ada pemerataan mutu sekolah hingga mutu guru,” ucapnya.

Diakuinya, di Jember hanya ada dua sekolah sebagai sekolah rujukan. Yakni SMPN 3 dan SMPN 1 Jenggawah. Perbedaannya terletak pada bantuan dana hibah untuk peningkatan mutu pendidikan. Bisa dari bangunan, kegiatan estrakulikuler, atau lainnya. “Bantuan hibah itu dari Kemendikbud. Sekolah lainnya, dananya itu bersumber dari BOS dan PPG,” terangnya.

Dampak positif penerapan zonasi ini, sekolah tidak pilih siswa pintar saja untuk masuk SMPN. Orang tua juga tidak terlalu khawatir karena jauhnya sekolah dengan rumah. Namun, karena tidak mengacu pada nilai, semangat kompetisi siswa bisa berkurang.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala SMPN 1 Jember Rofiq Anis mengatakan, orang tua memiliki peran penting dalam menentukan sekolah untuk anaknya. Semua harus disesuaikan dengan sistem zonasi yang sudah ditetapkan oleh pemerintah.

Dia menilai, SMPN 1 Jember memang tak lagi menerima calon siswa hanya berdasarkan nilai saja. Namun, juga dari lokasi yang terdekat dengan rumah calon siswa. Hal itu untuk tetap menjaga keunggulan sekolah, yakni dengan memberikan pembelajaran yang baik. “Itu semua bagian dari proses. Kalau proses belajarnya bagus, siswa itu akan berkembang lebih baik lagi dalam prestasi akademik maupun nonakademik,” terang pria yang akrab disapa Anis ini.

Dia menambahkan, apabila proses belajar siswa sudah bagus sejak masih di SD, maka SMP akan lebih mudah untuk membina. misal ketika di SD sudah sering ikut lomba, baik tingkat kabupaten, provinsi, nasional, maupun internasional. “Sistem zonasi tak mengurangi antusias calon siswa mendaftar,” tambah Syaiful Bahri, Kepala SMPN 7. (*)

IKLAN

Reporter : Dwi Siswanto, Muchammad Ainul Budi

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor :