Libatkan Camat Verifikasi Faktual

KUMPULKAN CAMAT: Wakil Bupati Irwan Bachtiar saat mengumpulkan camat untuk pendataan guru mengaji di Bondowoso

BONDOWOSO RADAR JEMBER.ID – Para camat dari 23 kecamatan di Bondowoso diundang ke pemkab, kemarin (14/6). Mereka diajak menyukseskan pendataan guru mengaji oleh Wakil Bupati Irwan Bachtiar. Para camat diminta untuk ikut all out terlibat. Harapannya tidak ada salah pendataan, apalagi sengaja membuat data salah.

Wakil Bupati Irwan Bachtiar mengatakan, pihaknya sengaja mengumpulkan para camat untuk ikut melakukan verifikasi faktual. Sebab, selama ini ada beberapa kesalahan yang ditemukan. Misalnya banyak data di guru mengaji yang ternyata bukan guru mengaji. “Kami tegaskan jangan sampai bermain-main dengan input data, karena ini uang negara, uang rakyat,” tegasnya.

Pemkab sendiri saat ini membuat sistem pendataan. Walau nantinya leading sector-nya ada di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), namun sistem pendataan dilakukan oleh Bagian Kesejahteraan Masyarakat (Kesra) Pemkab Bondowoso. Sebab, pada 2018, pemberian insentif guru mengaji ini dilakukan bagian kesra. Camat memberikan data, lantas diinput di bagian kesra.

Sebagai pendukung, sistem aplikasi input data itu sudah dibuat oleh pemkab. Sehingga pendataan yang dilakukan sudah tidak manual. Termasuk di dalamnya adalah data-data guru mengaji yang sebelumnya mendapatkan insentif. Berdasarkan pantauan wabup, bisa-bisa data guru mengaji berkurang. Itu jika melihat adanya data guru mengaji sebelumnya yang sudah meninggal atau bahkan data asal-asalan. “Karenanya, ada beberapa kriteria yang kami berikan. Jangan sampai bukan guru mengaji, namun masuk data,” tegasnya.

Sementara itu, Kabag Kesra Pemkab Bondowoso Rahmatullah mengatakan, yang dilakukan pihaknya saat ini adalah pendataan. Berikutnya ada langkah lanjutan, yakni di Disdikbud. Dalam pendataan ini, semua potensi guru mengaji didata. Termasuk guru mengaji di musala, masjid sampai TPQ. Pendataan itu berikut santri yang mengaji di tempat tersebut. “Dengan pemetaan itu, akan kami kaji sesuai dengan kebijakan-kebijakan,” jelasnya.

Tahun ini, sasaran guru mengaji yang akan diberi honor adalah guru mengaji tradisional. Yakni guru mengaji yang ada di langgar (musala, Red). Namun dalam pendataan, bagian kesra juga memasukkan guru mengaji baru, seperti di TPQ. Pada prinsipnya pihaknya mendata. Untuk selanjutnya, mengikuti kebijakan yang dibuat Bupati dan Wakil Bupati. “Jika hanya guru mengaji di musala, itu risiko. Misalnya setiap dusun ada musala, sedangkan musala saat ini berkurang, jadi trennya bisa di rumah atau di TPS,” terangnya.

Berdasarkan rumusan, guru mengaji ini akan mendapat honor. Diberikan tiap bulan. Sehingga menjadi sesuatu yang rutin. Namun sistem dan aturannya masih terus digodok. Nantinya akan diberikan setiap 6 bulan sekali. Hal itu seperti apresiasi Pemprov Jatim kepada para penghafal Alquran. Pemprov memberikan tunjangan kehormatan diberikan 12 bulan sekali. “Namun diberikan setiap lima bulan atau tiga bulan,” jelasnya. (*)

IKLAN

Reporter : Solikhul Huda

Fotografer : Solikhul Huda

Editor : Narto