Muspika Prajekan Tangani Warga Miskin

Tiga Anggota Keluarga Sakit

TAK MAMPU: Camat Prajekan Abdul Manan saat mendatangi warga yang tidak mampu.

BONDOWOSO RADAR JEMBER.ID – Walau program pengentasan kemiskinan sudah banyak digelontorkan oleh pemerintah, namun tetap masih saja ada yang luput dari pendataan. Seperti satu keluarga di RT 9, RW 4, Desa Bandilan, Kecamatan Prajekan, Kabupaten Bondowoso ini. Setelah sempat ramai di media sosial, Muspika turun tangan dan membantu secara all out.

Camat Prajekan Abdul Manan mengatakan, begitu mendengar kabar adanya warga miskin yang tidak bisa berobat, pihaknya langsung melakukan koordinasi. Bersama dengan Kepala Puskesmas Prajekan, pihaknya mencari rumah warga tersebut. “Kami koordinasi dengan Pak Wabup, akhirnya kami turun langsung,” jelasnya.

Pihaknya mendatangi rumah tangga miskin di RT 9, RW 4 Desa Bandilan, Kecamatan Prajekan itu. Pada satu rumah yang sangat sederhana itu, ada dua kepala keluarga yang tinggal. Adalah Sutiyo, 49, yang setiap harinya bekerja sebagai buruh tani. Kemudian adalah Tidjo, 79, yang juga buru tani. “Dalam rumah tersebut terdapat tiga anggota keluarga yang menderita sakit selama bertahun-tahun dan belum sembuh,” terangnya.

Tiga anggota keluarga itu salah satunya adalah Sutiyo yang merupakan kepala keluarga. Menurut keterangan, ia didiagnosa dokter menderita sakit saraf dan sudah menyerang otak serta mengalami tuli kurang lebih 3 tahun. Kedua adalah Sindy Aulia, anak Sutiyo yang masih berumur 10 tahun 6 bulan. “Anaknya ini sakit jantung, bawaan sejak lahir,” jelas Abdul Manan.

Ketiga adalah Surahja, 75m yang merupakan mertua perempuan Sutiyo. Surahja mengalami sakit kebutaan prematur sejak 2,5 tahun lalu. Sekarang mata kirinya juga mengalami rabun. Sedangkan untuk berobat mengalami kesulitan biaya karena terkendala kondisi ekonomi saat ini yang lemah.

Dijelaskannya, sebenarnya sebelumnya, Sutiyo sempat mendaftarkan diri sebagai peserta BPJS Kesehatan mandiri. Dia ikut yang kelas 2 atas nama tiga orang yang sakit tersebut. Namun, ketika sudah tidak bisa bekerja, pembayaran iuran berhenti. BPJS Kesehatannya tidak bisa dipakai. “Karena mengalami sakit, Sutiyo tidak bisa mencari nafkah. Total selama tiga tahun ini tidak bisa membayar iuran BPJS Kesehatan. Sehingga kartu kepesertaan BPJS Kesehatannya tidak bisa dipakai untuk berobat,” tegasnya.

Penelusuran Camat Prajekan, terkait dengan keberadaan Sutiyo dan terutama anaknya yang menderita sakit bertahun-tahun, pihak Puskesmas Prajekan sudah sering memberikan pelayanan gratis. Meskipun mereka tidak bisa menggunakan kartu BPJS-nya karena menunggak pembayaran. “Selama ini sebenarnya sudah terjalin komunikasi dan persaudaraan yang sangat baik antara keluarganya Sutiyo dan Perawat Puskesmas, karena saking seringnya keluarga Sutiyo berobat. Dan selama ini selalu digratiskan,” tegasnya.

Hanya saja, pelayanan kesehatan yang diberikan kepada keluarga Sutiyo adalah pelayanan dasar sesuai dengan kelas dan tingkatannya di Puskesmas. Sedangkan untuk penyakit yang diderita oleh keluarga Sutiyo dibutuhkan pelayanan lanjutan dan harus dirujuk ke RS yang lebih atas. “Karena ada masalah pada kepesertaan BPJS Kesehatan-nya, maka hal itu belum bisa dilakukan oleh pihak puskesmas,” tegasnya.

Terpisah, Wakil Bupati Irwan Bachtiar menegaskan, pihaknya awalnya mendapatkan laporan ada warga miskin. Kondisinya sakit satu keluarga dan tidak bisa berobat. Akhirnya pihaknya meneruskan ke Camat Prajekan untuk ditindaklanjuti. “Semuanya sudah menindaklanjuti dan dilakukan penanganan,” terangnya.

Sebelumnya, keluarga ini ikut BPJS Kesehatan mandiri. Namun, karena kondisinya seperti itu, pemerintah lantas mengaver iurannya. Hanya saja, kelasnya tidak kelas 2, namun menjadi kelas 3. “Bisa saja dialihkan ke pemkab (iurannya, Red), tergantung  niat,” tegasnya. (*)