Atlet Sepeda Bondowoso Masuk Kandidat Tim  PON Jatim

Tak Pasang Target Muluk

TETAP SEMANGAT: Sepeda sport selama ini dikenal sebagai salah satu cabor yang membutuhkan biaya besar untuk kelengkapan peralatannya. Namun, keterbatasan tidak mengurangi semangat atlet dan pelatih sepeda Bondowoso.

BONDOWOSO RADAR JEMBER.ID – Kurang sebulan lagi, pergelaran Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VII Jawa Timur (Jatim) tahun 2019 digelar. Berbagai persiapan sudah digeber oleh seluruh cabang olahraga (cabor) di Bondowoso. Salah satunya adalah sport sepeda. Meski mengaku minim persiapan, kontingen sport sepeda Bondowoso mengaku siap bersaing dengan daerah lain guna merebut medali.

“Kita memang tidak ada target khusus, karena kendala biaya juga. Tetapi setidaknya kita bisa dapat medali perunggu lah. Entah dari nomor yang mana,” ujar Abdurazak Guntur, pelatih ISSI Bondowoso kepada Radarjember.id, kemarin.

Dalam Porprov VII 2019 kali ini, Bondowoso mengirimkan empat atlet sepeda. Menariknya, keempat atlet tersebut mengikuti empat nomor sekaligus. Yakni masing-masing Road-Team Time Trial (Road- ITT, 15 km); Road-Criterium (20 – 30 km), Road-Circuit Race serta MTB XC (Cross Country). Keempat atlet tersebut terdiri atas dua atlet putra dan dua atlet putri. Masing-masing yakni Muhammad Seger Rohimullah, 16 tahun; Rizky Hendrianto, 15 tahun; serta dua atlet putri yakni Siti Nur Hamidah, 16 tahun; dan Dwi Aprilia Farindina, 15 tahun.

“Bahkan Rizky Hendrianto, ada wacana kita ikutkan di 5 nomor, yakni di tambah di BMX Cross, karena dia basic-nya memang di sana. Tetapi kita lihat dulu nanti, apakah fisiknya memungkinkan kalau ikut di lima nomor sekaligus. Dia mental tandingnya lumayan bagus, dan saat kita ikutkan di road race juga cukup berkembang,” papar Guntur.

Diakui Guntur, strategi dengan mengikutkan atlet ke empat nomor sekaligus, berisiko menjadikan atlet kurang fokus. “Ini karena semuanya serba nanggung. Kalau difokuskan ke salah satu nomor, agak susah. Kita juga tidak pasang target besar, ya semoga saja kecantol perunggu,” papar mantan atlet sepeda tingkat nasional ini.

Salah satu nomor yang dirasa paling berat adalah ITT Road. Ini karena fasilitas terutama sepeda yang dimiliki ISSI Bondowoso cukup minim. Meski demikian, keterbatasan itu tidak membuat ISSI Bondowoso menjadi patah arang. “ITT ini butuh sepeda khusus yang lebih aerodinamis. Desainnya lebih rendah di bagian depan, sehingga mengurangi tekanan angin,” papar Guntur.

Sebenarnya, Bondowoso memiliki satu atlet yang lebih berpeluang mendulang medali, yakni Januar Alki Zulkarnain, 16 tahun. Namun, karena meraih medali di berbagai kejuaraan nasional dan internasional, Januar akhirnya “diambil” KONI Jatim untuk proyeksi PON Papua tahun 2020. “Karena masuk PON, jadi tidak boleh turun di Porprov, levelnya terlalu tinggi,” ujar pria kelahiran 12 Juni 1966 ini.

Meski namanya masuk kandidat untuk mewakili Jatim di PON tahun depan, peluang Januar belum tentu mulus. Sebab, dia masih harus bersaing dengan dua atlet lain yang lebih senior untuk masuk sebagai tim inti. “Tahun depan, dia usianya baru 17 tahun, selisih 4 tahun dari usia maksimal,” ujarnya.

Sedangkan dua pesaingnya dari Surabaya itu tahun depan sudah usia 21 tahun dengan jam terbang yang lebih matang. “Tetapi tetap saya motivasi. Saya optimistis karena dia punya gaya permainan yang lebih baik. Di tanjakan, kecepatan Januar justru bertambah. Berbeda dengan kebanyakan atlet sepeda lain. Mungkin karena badannya lebih kurus,” ungkap Guntur. (*)

IKLAN

Reporter : Adi Faizin

Fotografer : Adi Faizin

Editor : Narto