Sekolah Unggulan Terima Banyak Keluhan

Standardisasi Jadi Kendala Zonasi

BANYAK YANG BINGUNG: Peserta ketika melakukan pendaftaran offline di SMAN 2 Lumajang. Mereka banyak bingung dengan sistem yang diterapkan dua tahun terakhir ini

LUMAJANG RADAR JEMBER.ID – Penggunaan sistem zonasi pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) terus jadi polemik. Selain terkesan dipaksakan, ternyata juga banyak penolakan. Problem dasarnya karena standardisasi sekolah. Tak salah jika di sekolah favorit yang ada di Lumajang banyak menerima keluhan.

Proses PPDB itu sendiri masa pendaftaran secara online (daring) berakhir sampai 20 Juni. Sementara pendaftaran offline (luring) sampai 13 Juni kemarin. Namun, sampai saat ini banyak wali murid yang kebingungan dan diungkapkan pada sejumlah sekolah tujuan.

Memang, pelaksanaan PPDB 2019 sistem zonasi terkesan dipaksakan lagi. Sama dengan sebelumnya. Padahal, faktanya banyak orang tua yang masih mengeluhkan sistem baru tersebut. Sistem zonasi dianggap tidak memberikan keleluasaan anak dalam memilih sekolahnya sendiri.

Drs Jaya Syahran, Wakil Kepala SMAN 2 Lumajang mengakui, pelaksanaan PPDB tahun ini masih banyak polemik. “Anaknya sudah sadar tidak bisa masuk sekolah di sini karena NUN-nya rendah, dia mau daftar ke sekolah lain tidak bisa karena terkena zona misalnya,” tambahnya. Karena itu, lulusan SMP yang jauh dari sekolah memiliki peluang kecil untuk masuk SMA.

Namun, pihaknya tidak bisa berbuat banyak. Sebab, kebijakan tersebut sesuai Permendikbud Nomor 51 Tahun 2018. “Mau bagaimana lagi. Ini sudah jadi kebijakan pusat,” imbuhnya.

Secara normatif tujuan diberlakukannya zonasi memang untuk meratakan kualitas pendidikan. Namun, sebelum berbicara itu, sarana dan prasarana juga harus memadai.

Jaya mengatakan, pihaknya sudah pernah menyampaikan kepada salah satu anggota dewan yang pernah berkunjung ke sekolahnya. “Saya pernah mengusulkan adanya seleksi bersama seperti SBMPTN. Supaya tidak ada lagi keluhan soal zona,” tambahnya.

Hingga saat ini, proses zonasi memang terus berjalan. Namun, kendala yang begitu mendasar menurut dia adalah standardisasi sekolah. Sebab, tidak semua sekolah memiliki fasilitas dan sarana prasarana yang sama dan memadai. Problem ini hingga kemarin terus menghantui di sekolah-sekolah dan pada wali murid. (*)

IKLAN

Reporter : mg2

Fotografer : mg2

Editor : Hafid Asnan