Disbudpar Berdalih Mengalihkan ke Sasaran Lain

Pendapatan Lebaran Belum Klir

MEMBELUDAK: Sejumlah pengunjung di lokasi wisata Hutan Bambu yang membeludak. Lokasi wisata ini masih belum ada MoU untuk sharing profit.

LUMAJANG RADAR JEMBER.ID – Pendapatan wisata selama Lebaran masih belum diketahui. Hingga kemarin, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Lumajang masih belum berani merilis. Saat kondisi belum klir, ternyata berdalih mengalihkan sasaran pada pendapatan momen lain.

Informasi yang berhasil dihimpun Radarjember.id, hingga kemarin masih belum bisa memberikan data perolehan pendapatan masa Lebaran. Wartawan koran ini hanya dijanjikan, tanpa ada kepastian.

Kendati demikian, permasalahan ini rupanya seakan dianggap masih cukup bisa teratasi. Mengingat bahwa peluang untuk mendapatkan kesempatan tambahan sumbangan atau pemasukan tidak hanya menggantungkan dari satu momen besar seperti Lebaran.

Bahkan keyakinan untuk memberikan tambahan sumbangan pendapatan untuk kas daerah disampaikan oleh Plt Disbudpar Lumajang Agni Megatrah. Dia mengaku, kesempatan untuk menyumbangkan pendapatan maksimal terhadap kas daerah masih bisa disiasati dengan beberapa langkah jitu. Salah satu di antaranya yakni dengan memanfaatkan kesempatan pada momen natal, tahun baru, dan momen-momen lainnya.

Selain itu, waktu akhir pekan yang diyakininya sering kali dimanfaatkan oleh para wisatawan untuk berkunjung ke sejumlah wisata khususnya yang dikelola oleh pemerintah kabupaten. “Draf kesepakatan kerja sama (MoU) sudah ada. Dan ini masih kita jajaki dengan Perhutani, pengelola Pokdarwis dan setiap desa. Untuk pemasukan pendapatan wisata kan tidak hanya Lebaran, Mas. Setelah ini juga ada natal, tahun baru, akhir pekan, dan hari-hari besar lain,” kata Agni saat ditemui di ruang kerjanya pada Rabu (12/6) sore hari.

Sharing profit dengan pihak-pihak terkait diakuinya masih menemui banyak kendala. Besaran pembagian hasil kerja sama dengan Perhutani, desa hingga pengelola pokdarwis rupanya menjadi faktor terjadinya jalan buntu negosiasi MoU (memorandum of understanding) sharing profit.

“Rata-rata tempat wisata itu dikelola Perhutani dan desa. Informasi yang saya peroleh pembagian persentase hasil mahal ya. Cukup besar. 60% untuk Perhutani, sedangkan 40% sisanya untuk pengelola termasuk pokdarwis di dalamnya. Untuk itu, kami masih menjajaki membahas bagaimana lebih lanjutnya,” ungkapnya.

Dengan segala kendala yang sedang dialami Disbudpar, akan tetapi Agni optimistis bahwa kerja sama sharing profit (saling menguntungkan) pada tahun ini segera menemui kata sepakat. “Draf MoU memang untuk tahun ini. Ya segera kami selesaikan,” jelasnya.

Sementara itu, untuk PAD (pendapatan asli daerah) untuk tahun 2018 sudah mencapai di angka 53%. Artinya bahwa menurut Agni pihaknya sudah berhasil memberikan sumbangan positif terhadap kas daerah untuk tahun lalu. “Kalau PAD dari target 3M, sampai dengan tanggal 11 Juni 2019 sudah realisasi 53%,” pungkas Agni. (*)

IKLAN

Reporter : mg1

Fotografer : Ahmad Jafin

Editor : Hafid Asnan