Pemkab Harus Libatkan Masyarakat

BONDOWOSO RADAR JEMBER.ID – Dalam pendataan guru mengaji, pemkab diimbau untuk melibatkan elemen masyarakat. Tentunya yang berhubungan dan lekat dengan guru mengaji. Beberapa masukan itu bisa menjadi pertimbangan sebelum program benar-benar dilaksanakan.

Ketua Laskar Asawja Didit Baskariyanto mengatakan, selayaknya Pemkab Bondowoso mengajak duduk bareng entitas guru mengaji. Misalnya PCNU Bondowoso, PD Muhammadiyah, dan berbagai elemen lainnya. “Dirumuskan termasuk apa dan siapa yang dimaksud guru mengaji,” tegasnya.

Pihaknya melihat kebijakan ini itu tidak lahir saat ini saja. Tapi sudah ada sebelum-sebelumnya. Tentunya semangatnya adalah memberi apresiasi pada guru mengaji yang menjadi benteng peradaban Islam di wilayah lokal.

Pihaknya justru tidak ingin ada pembatasan-pembatasan. Misalnya pemkab tidak seharusnya membatasi jumlah santri yang mengaji. Namun ketika ada guru mengaji yang mengabdi untuk rakyat, bangsa, dan negara, maka bisa masuk kriteria. “Harus banyak menampung aspirasi, sehingga kebijakannya benar-benar mengena,” terangnya.

Sementara itu, KH Saiful Rijal atau Gus Sep, Ketua Persada Agung, menganggap semangat pemerintah untuk memberikan insentif guru mengaji sangat bagus. Namun, pihaknya menegaskan, guru mengaji adalah orang yang sudah ada sejak dahulu. Mereka adalah orang yang terus akan mengajar mengaji walau tidak ada sentuhan pemerintah. “Karenanya, pemerintah harus memikirkan bagaimana penghargaan itu tidak menyakitkan guru mengaji,” jelasnya.

Menurut dia, ketika guru mengaji yang mendapatkan uang tidak seberapa itu harus membuat pengajuan, proposal, dan lain sebagainya, itu merupakan sebuah penghinaan. Sedianya pemerintah memberi penghargaan dengan tanpa menyulitkan. “Sebelum Indonesia berdiri sudah ada guru mengaji. Guru mengaji itu investor peradaban, investor kecerdasan. Guru mengaji itu entrepreneur,” tegasnya.

Oleh karenanya, kalau ada anggaran dari pemerintah, pihaknya menegaskan jangan direkayasa. Guru mengaji selama ini sudah berbuat nyata. Sedianya juga jangan ada kriteria batasan minimal murid. Misalnya ada guru mengaji yang sudah sepuh, dan saat ini mengajar lima anak. “Padahal sudah mengajar mengaji sejak lama, masak ini tidak disentuh juga,” tegasnya. (*)

IKLAN

Reporter : Solikhul Huda

Fotografer : Solikhul Huda

Editor : Narto