Bondowoso Perlu Serius Perkuat Produksi UMKM Tape

Kebanggaan Daerah yang Tak Tergantikan

KHAS BONDOWOSO: Pemkab diharapkan mampu mendorong peningkatan industri rumahan tape produksi Bondowoso. Salah seorang pengusaha tape sedang menunjukkan proses pengolahan tape.

BONDOWOSO RADAR JEMBER.ID – Tape produksi Bondowoso selama ini dikenal sebagai produk khas daerah dengan cita rasa tersendiri. Namun, selama beberapa tahun terakhir, produksi tape di Bondowoso terus menurun. Tape kuning Bondowoso kini menjadi kebanggaan yang tak tergantikan bagi warga Bondowoso.

“Dulu hampir di semua kecamatan di Bondowoso, ada sentra produksi tape. Tapi sekarang sentranya tersisa di Wringin, Binakal, dan beberapa daerah lain. Di Tamanan, Pakem, dan Pujer sudah sedikit,” ujar Ady Kresna, anggota Komisi II DPRD Bondowoso yang membidangi masalah ekonomi, industri, dan pertanian.

Karena itu, Pemkab Bondowoso diminta untuk lebih memperhatikan penguatan komoditas tape sebagai produk unggulan daerah. Tape Bondowoso, menurut Ady, tidak sekadar komoditas ekonomi. Tetapi juga terkait identitas lokal yang menjadi kebanggaan masyarakat Bondowoso. “Dulu, salah satu program atau janji kampanye bupati Kiai Salwa adalah penguatan produksi tape Bondowoso. Tetapi sampai sekarang, kita belum bisa melihat road map dan peta jalan yang jelas mewujudkan janji tersebut,” ujar politisi Partai Golkar ini.

Segenap persoalan membelit komoditas tape Bondowoso mulai dari hulu hingga ke hilir. Upaya mendorong agar tape diperhatikan pemkab, mulai menguat sejak tahun 2009. “Masalah di sektor hulu mulai dari kesulitan industri tape untuk mendapatkan bahan baku. Sehingga terkadang terpaksa harus mendatangkan singkong dari luar daerah,” ujar Ady.

Kesulitan bahan baku berupa singkong ini, selain karena lahan pertanian yang mulai berkurang, juga karena masalah bibit. Berkurangnya lahan pertanian singkong, selain karena banyaknya alih fungsi lahan, juga terkait dengan penanaman sengon yang cukup masif. “Bibit singkong yang digunakan petani ya itu-itu aja. Selama ini belum ada bantuan bibit yang cukup serius dari pemkab kepada petani singkong,” papar alumnus Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember ini.

Kendala lain yang menghadang perajin tape Bondowoso adalah sulitnya mendapatkan besek sebagai kemasan khas tape singkong. Padahal, produksi bambu di Bondowoso relatif melimpah. “Sehingga kadang terpaksa mendatangkan besek dari luar seperti Trenggalek. Karena itu, perlu juga dipikirkan transfer of knowledge dari produksi besek tape ini,” ujar Ady.

Tape menjadi produk kebanggaan daerah, karena dinilai sudah telanjur melekat dengan citra Bondowoso. Di masa kepemimpinan Mas’oed sebagai bupati Bondowoso sebelumnya, menurut Ady, sempat ada upaya untuk menetapkan branding Bondowoso sebagai kota Kembang. “Tapi itu mampu menggeser Tape sebagai local identity Bondowoso. Begitu pula sekarang dengan tagline Bondowoso Republik Kopi, meski cukup ada hasilnya, tetap tidak mampu menggeser posisi tape,” pungkas Ady. (*)

IKLAN

Reporter : Adi Faizin

Fotografer : Adi Faizin

Editor : Narto