Sehari Tangani Enam Pasien, Cukup Menopang Ekonomi Keluarga

Jurus Bekam Ala Aris di Pasar Loak Kepatihan

MASUK ANGIN: Aris sedang memberi terapi bekam pada Kusheriyanto, di sekitar Pasar Loak, Kampung Tengah, Kelurahan Kepatihan, Jember

RADAR JEMBER.ID – Suasana pasar loak identik dengan pedagang yang berjualan barang-barang bekas. Tawar-menawar pun menjadi perbincangan setiap jual-beli barang. Tetapi di sudut barat pasar yang berlokasi di Kampung Tengah, Kelurahan Kepatihan, Kaliwates itu, tak semua orang berjualan barang. Ada Aris, pria 50-an tahun yang menjual jasa sebagai tukang bekam.

Aris yang mangkal dengan sebuah banner kecil bertuliskan Aris Bekam, terlihat sedang berbincang dengan seorang warga, Kusheriyanto. Tak lama kemudian, Aris membuka sebuah tas yang berisi peralatan bekam. Ada alat yang terbuat dari plastik dan seperti pada umumnya yang terbuat dari tanduk binatang.

“Rumah saya itu di sebuah gang, di Jalan Gajah Mada. Tetapi sudah 15 tahun saya mangkal di sini. Alhamdulillah, setiap hari ada saja warga yang bekam,” kata pria yang libur mangkalnya hanya hari Jumat tersebut.

Sambil membekam Kusheriyanto, dia mengaku dirinya mendedikasikan diri sebagai tukang bekam karena sebelumnya memang suka memijat. Dirinya kemudian fokus menjadi tukang bekam karena jumlahnya lebih sedikit dari tukang pijat.

Menurutnya, membekam seseorang sama-sama memiliki teknik seperti pijat. Bedanya, membekam harus mengetahui lama dan tidaknya waktu bekam, ukuran tekanan bekam, serta teknik lain. Dalam membekam, Aris menyebut ada dua teknik. Yaitu teknik bekam kering dan basah.

“Rata-rata tergantung pada permintaan orang yang mau dibekam. Akan tetapi, sebelum saya bekam, saya jelaskan dulu kegunaan dan manfaatnya. Baru kemudian melakukan pembekaman, apakah itu bekam basah atau kering,” ujarnya.

Bekam kering, menurut Aris, bisa dilakukan untuk siapa saja. Akan tetapi, bekam kering lebih cocok untuk orang yang hanya masuk angin, pegal-pegal, kelelahan, atau sakit ringan. Sementara itu, untuk warga yang memiliki penyakit tertentu seperti asam urat, darah tinggi, reumatik, atau sesak napas, menurutnya lebih baik menggunakan teknik bekam basah.

Tak hanya itu, Aris juga menyebut, warga yang mengalami lemah syahwat juga bisa dikembalikan secara normal dengan teknik bekam. “Bekam kering yaitu cukup mengeluarkan angin saja. Sementara bekam basah mengeluarkan darah kotor. Kalau punya penyakit, sebaiknya bekam basah saja. Termasuk jika ada warga yang lemah syahwat, bekam basah saja,” tuturnya.

Aris mengaku, sejak mangkal 15 tahun silam menjadi tukang bekam, tidak ada warga atau pelanggan bekam yang komplain. Menurutnya, itu menunjukkan ada manfaat yang dirasakan warga yang melakukan bekam. “Per hari ada sekitar enam orang yang bekam ke saya. Makanya dari dulu saya mangkal di sini agar orang tidak bingung mencari saya. Hasilnya lumayan dan bisa untuk mencukupi kebutuhan keluarga,” pungkasnya. (*)