Hikmah di Balik Halalbihalal

Oleh: Dr Khotibul Umam MA (*)

Saat ini umat Islam di Indonesia masih dalam suasana Hari Raya Idul Fitri 1440 Hijriah atau tahun 2019 Masehi. Momen Idul Fitri digunakan sebagai wahana untuk bersilaturahmi antar sanak keluarga, famili, tetangga dan rekan kerja. Karena keterbatasan waktu, momen silaturahmi tersebut terkadang dikondisikan dalam kegiatan “Halalbihalal” baik antarkeluarga besar, lembaga pendidikan, instansi pemerintah, maupun swasta.

Hal yang menarik dari kegiatan Halalbihalal tersebut dilaksanakan hampir satu bulan lamanya yakni di bulan Syawal dan memiliki keunikan tersendiri karena hanya dilaksanakan di negara Indonesia dan tidak dijumpai di negara-negara muslim lain.

Tentu rasa syukur disampaikan kepada Allah SWT yang telah memberikan kekuatan lahir dan batin sehingga umat Islam dapat menyelesaikan tugas berat sebulan lamanya dapat melaksanakan perintah puasa Ramadan. Idul Fitri artinya kembali pada fitrah atau kesucian ketika selepas sebulan penuh berpuasa. Seorang mukmin diharapkan pada hari raya akan kembali seperti bayi dalam kesuciannya.

Paling tidak ada empat sifat seorang bayi yang ingin diimplementasikan bagi manusia yang selesai melaksanakan puasa Ramadan, yaitu: pertama, sifat tawadhuk. Seorang bayi tidak akan mempunyai sifat sombong, yang ada hanya tawaduk, merendahkan diri karena Allah.

Kedua, sifat tidak punya rasa hasut. Ini adalah sifat seorang bayi. Karena kesucian hatinya, ia sedikit pun tidak mempunyai rasa iri atau hasut.

Ketiga, sifat tidak pendendam dan pemaaf. Kesucian seorang bayi menjadikan ia tidak mempunyai sifat pendendam. Dijelaskan dalam surat Ali Imran, ayat 134, sifat pemaaf adalah salah satu ciri orang bertakwa.

Dan keempat, sifat ikhlas. Ketika hati telah bersih, yang muncul ketika kita beraktivitas apa pun adalah keikhlasan. Inilah sebagian kecil nilai-nilai “kefitrahan” yang ingin dicapai pada momen Idul Fitri. Nilai kesucian ini diharapkan bisa bertahan dan berkembang di hari-hari ke depan. Dari sini manusia mampu memahami kenapa tujuan utama puasa itu mencapai derajat takwa. Karena hanya orang-orang yang bertakwa yang berhasil kembali kepada kesuciannya.

Menurut Alquran, terdapat 5 macam fitrah manusia yang hendak dikembalikan oleh Puasa Ramadan kepada keasliannya, yaitu:

1). Fitrah beragama. Manusia adalah makhluk beragama. Menurut Alquran, karena sewaktu di alam roh manusia sudah pernah mengadakan suatu perjanjian dengan Allah: Allah bertanya kepada roh manusia dalam surat Al-A`raf: 172 : Bukankah aku ini Tuhanmu? mereka roh manusia menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami). Menurut para ahli ilmu jiwa dalam, bahwa fitrah keagamaan pada manusia telah dibawanya sejak lahir yang diberikan oleh alam kepadanya, sehingga para ahli ilmu jiwa tersebut mengistilahkannya dengan naturaliter religiosa. Tetapi setelah manusia lahir ke dunia ini, ia telah lupa akan perjanjian itu, sebab manusia memang pelupa. Karena itu untuk mengingatkannya Allah mengirimkan para rasul-Nya (utusan) kepada manusia. Manusia telah diperingatkan Rasulullah SAW untuk kembali akan hal itu dengan perantara Alquran.

2) Fitrah bersosial. Manusia adalah makhluk sosial. Dalam Alquran surat Al-Baqarah: 213  Allah menjelaskan: “Manusia itu adalah umat yang satu…”. Lebih detail lagi dijelaskan dalam Alquran surat An-Nisa`:1Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Sebagai makhluk sosial dapat dilihat dari hidup bermasyarakat ini harus didasari oleh kasih sayang dan tolong menolong. Mustahil akan terbina masyarakat yang baik, kalau anggota-anggotanya saling benci-membenci dan tidak mau tolong-menolong. Puasa adalah mengidentifikasikan diri kepada saudara-saudara kita yang tidak punya, yang sedang tidak makan (lapar), agar timbul dalam diri manusia rasa kasihan kepada mereka dan ingin menolong mereka. Karena itulah selama berpuasa itu, manusia dianjurkan untuk memperbanyak sedekah dan di akhir bulan puasa itu diwajibkan berzakat fitrah. Dengan demikian puasa hendak mengembalikan manusia kepada hidup bermasyarakat yang didasari oleh kasih sayang dan saling tolong menolong terhadap sesama.

3) Fitrah bersusila. Setiap tingkah laku manusia mempunyai nilai. Tidak demikian dengan tingkah laku hewan. Karena itu, manusia adalah makhluk bersusila. Nabi Muhammad SAW menyampaikan bahwa beliau diutus Allah SWT kepada umat manusia adalah untuk menyempurnakan budi pekerti manusia. “Aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan budi pekerti manusia”. Jadi, puasa benar-benar hendaklah melatih manusia agar berbudi pekerti yang baik. Dengan demikian, puasa hendak mengembalikan manusia kepada fithrahnya sebagai makhluk bersusila.

4) Fitrah bermartabat tinggi. Allah SWT menciptakan manusia dengan tegas dan jelas menyatakan bahwa manusia adalah: (a) Makhluk-Nya yang terbaik. Alquran surat At-Tin ayat: 4 menjelaskan yang artinya, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (b) Makhluk yang termulia, Alquran surat Al-Isra` ayat 70 menjelaskan yang artinya, “Dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (c) Makhluk Tersayang. Hal ini dapat dipahami karena Allah telah memudahkan (menyerahkan) segala apa yang ada di langit dan di bumi untuk manusia serta telah disempurnakan nikmat-Nya baik yang lahir maupun yang batin untuk semua manusia, sebagai dijelaskan di Alquran surat Luqman ayat 20 yang artinya: “Tidakkah kamu perhatikan Sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin…”.

5) Fitrah kesucian. Menurut ajaran Islam, manusia dilahirkan dalam keadaan suci. Ia baru menjadi kotor kalau mengerjakan dosa. Menurut Islam, manusia harus selalu hidup dengan kesucian, yaitu dengan melaksanakan perintah Tuhan dan menghentikan larangan-Nya. Kalau sudah demikian, kehidupannya akan sukses. Allah memfirmankan dalam Alquran surat Al-A`la ayat 14 yang artinya: “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman),….” Hidup suci/bersih itu dikehendaki Tuhan, karena la tidak mau menerima kembali kedatangan hamba-hamba-Nya yang kotor karena dosa. Allah jelaskan dalam Alquran surat As-Syu`ara ayat 89 yang artinya; “Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih”. Ibadah puasa dapat menyucikan manusia dari dosa-dosanya yang telah dikerjakan pada waktu-waktu yang lalu. Sebagaimana diperjelas oleh hadis Nabi SAW yang artinya, “Barang siapa yang memuasakan bulan Ramadan karena beriman dan penuh perhitungan, diampuni baginya dosa-dosanya yang lalu “ (H.R. Bukhari dan Muslim). (*)

(*) Penulis adalah Dosen Pascasarjana IAIN Jember