Kembangkan Pangan Sehat, Ajak Hindari Makanan Instan

Upaya Tanoker Mencegah Penyakit melalui Pangan Sehat

PAMERKAN PANGAN SEHAT: Anggota Sekolah Yang-Eyang menunjukkan karya pangan sehatnya.

RADAR JEMBER.ID – Pangan lokal, pangan sehat. Itulah yang digelorakan oleh komunitas tanoker di Jember. Mereka ingin mengajak warga desa agar kembali mengonsumsi makanan sehat. Makanan yang diwariskan oleh para nenek moyang.

Tak perlu mahal, bahannya ada di sekitar perkampungan. Seperti sayur, buah-buahan, hingga beberapa sumber daya pangan lokal lainnya. Bahan tersebut dimasak, tanpa harus dicampur dengan bumbu yang mengandung bahan kimia, seperti pengawet, pewarna, dan pengembang makanan.

Bahan itu diolah menjadi berbagai produk makanan. Lalu dipamerkan dalam berbagai kegiatan Tanoker di Desa/Kecamatan Ledokombo. Rasanya justru lebih nikmat dari makanan instan yang siap saji.

“Kami di sini pendampingan anak-anak,  makanan mereka serba pakai micin,” kata Direktur Tanoker Farha Ciciek.  Selain itu, banyak anak desa yang sajian makanannya kurang sehat. Padahal, berpotensi mendatangkan berbagai penyakit.

Ada yang makan mi instan tanpa dimasak, ada yang memakan buah menggunakan micin hingga berbagai makanan gorengan. Dapur rumah mereka tak lepas dari micin. Memasak sayur pun dicampur dengan bumbu instan yang mengandung bahan kimia. “Bagi mereka, makan tanpa micin tidak puas,” ujarnya.

Kondisi itu berbeda dengan apa yang dilakukan oleh para nenek moyangnya. Memasak secara alami dengan bumbu yang menyehatkan. Seperti memasak sayur dengan cara direbus, atau buah pisang yang dikukus. “Sekarang, banyak yang beralih pada gorengan,” ujarnya.

Dampaknya, kata Ciciek, banyak anak yang sakit dan tumbuh kembangnya terganggu. Anak menjadi kurang gizi, ginjalnya bocor dan bengkak, penyakit tifus, sakit mag, dan lainnya. “Anak-anak minum minuman instan, akhirnya infeksi, panas, hingga sakit,” ungkapnya.

Berangkat dengan kasus itu, Tanoker yang selama ini mendampingi anak-anak buruh migran mulai gelisah melihat pola makan warga Ledokombo. Sebab, tak hanya anak-anak, orang tua mereka juga rentang terkena penyakit tidak menular karena makanan yang kurang sehat.

Orang tua mereka, baik bapak dan ibunya, sudah kecanduan dengan masakan yang mencampur bahan kurang sehat. Bagi mereka, memasak tanpa micin tidak sempurna. “Misal mereka panen padi, dikirim makanan, bapak-bapaknya tidak mau kalau masakan tanpa micin,” jelasnya.

Diakuinya, mengubah pola pikir memasak yang sehat dari dapur itu tidak mudah. Butuh perjuangan dan perlawanan terhadap kebiasaan yang dilakukan warga.  Untuk itulah, tanoker mengampanyekan gerakan revolusi dapur.

Melalui kegiatan sekolah parenting di sana, Tanoker memberikan edukasi pada para ibu. Dilatih dengan cara  masak bersama, membuat lomba masakan sehat. “Lomba masak juga untuk bapak-bapak, tidak boleh pakai micin,” tambahnya.

Pangan yang diproduksi untuk lomba itu merupakan bahan lokal dari hasil bumi Ledokombo. Seperti tempe, tahu, jamur, sayur-sayuran, hingga non-beras putih. Bahan tersebut harus diolah dengan kreativitas agar menjadi makanan yang menggugah selera.

Dia berupaya agar warga desa memproduksi pangan sehat berkelanjutan dengan memanfaatkan sumber daya pangan lokal. Tujuannya agar masyarakat tidak rentang terkena penyakit. “Materi pangan sehat kami masukkan dalam kurikulum sekolah parenting di Sekolah Bok-Ebok, Sekolah Pak-Bapak, dan Sekolah Yang-Eyang,” jelasnya.

Tak hanya itu, pengajian di kampung juga dimanfaatkan untuk kampanye makanan sehat. Bila  menjelaskan tentang makanan  halal, sekarang ditambahi dengan makanan halal yang sehat melalui bahasa agama. “Ada ustad lokal yang juga mendakwahkan pangan sehat ini. Mengubah cara hidup di keluarga untuk memasak yang sehat,” paparnya.

Tanoker menggandeng berbagai pihak guna kampanye pangan sehat. Mulai dari pemerintah, perguruan tinggi, hingga lembaga swadaya masyarakat (LSM). Sebab, gerakan kampanye pangan sehat tak cukup bila hanya dilakukan di akar rumput. Namun, juga harus merangkul kekuatan yang lebih besar, yakni pemerintah melalui kebijakan.

Seperti menggandeng pemerintah desa melalui perdes yang dilakukan di Desa Sumbersalak.  Kemudian, menggandeng sekolah untuk menerapkan kantin sehat. “Ada lembaga raudatul atfal (RA) yang sudah menerapkan kantin sehat di sini, kantin percontohan di Dusun Paluombo” akunya.

Tanoker mendorong pemerintah agar isu pangan sehat diperhatikan dalam capaian indikator kabupaten layak anak (KLA). Seperti melalui pengelolaan kantin sehat anak di berbagai sekolah. “Hasilnya, pemkab berencana membangun seribu kantin sehat,” ujarnya.

Tanoker juga bersinergi melalui Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) dengan Puskesmas Ledokombo dan Dinas Kesehatan. Selain itu, menggandeng  Dinas Pendidikan untuk mewujudkan kantin sehat bagi para pelajar. “Kami juga kampanye Piring Makanku, bagaimana makan sehat dengan pola yang benar, apa saja dan berapa takarannya,” terang istri dari Suporahardjo tersebut.

Selain itu, Tanoker menggandeng Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Jember. Melalui kerja sama itu, banyak pengetahuan baru yang didapatkan. Misal mengetahui bahwa tepung terjelek adalah tepung putih atau tepung terigu. “Kami belajar dengan tepung mocaf dan membuat produk dari tepung alternatif,” jelasnya.

Nina Rahmwati, peneliti dari Food Diaries Jember FKM Unej yang bekerja sama dengan Tanoker menyampaikan hasil penelitiannya tentang pola makan masyarakat cukup memprihatinkan. Dia bersama timnya meneliti di enam kecamatan, yakni Tanggul, Kaliwates, Ambulu, Puger, Ledokombo, dan Sumberjambe.

Menurut dia, alasan utama dalam memilih makanan adalah mengikuti selera keluarga. Garam dan monosodium glutamat (MSG) menempati urutan teratas yang paling banyak dikonsumsi warga. Sebagian besar keluarga di Jember menggunakan bumbu instan sebagai bahan pelengkap masakan.

“Rata-rata konsumsi MSG dalam sehari kurang lebih 11 gram, sehingga konsumsi MSG dalam seminggu bisa mencapai 70-80 gram,” ungkapnya.  Selain itu, jika mereka membeli makanan di luar rumah, pasti pakai MSG. Seperti dari makanan instan, jajanan anak, cilok, bakso, dan mi ayam.

“Mi instan dikonsumsi oleh hampir seluruh masyarakat, pengganti lauk,” ujarnya. Selain itu, sebagian besar keluarga di Jember menyukai makanan yang dimasak menggunakan minyak atau dengan digoreng. Diakuinya, akses anak terhadap makanan tidak sehat lebih mudah ditemui saat berada di luar rumah. “Pengawet hampir ada pada semua jajanan,” aku Nina.

Orang tua yang memiliki kesadaran pangan sehat menjaga makan anaknya di rumah. Namun,  saat di luar rumah, mereka disergap dan tidak sanggup melindungi diri dari pola konsumsi makanan yang tidak sehat.

Padahal, jajanan itu membahayakan kesehatan dan tumbuh-kembang  anak yang masih dalam usia emas. Untuk itulah, gerakan kembali dan peduli pada pangan sehat perlu terus dilakukan. “Batasi konsumsi pangan manis, asin, dan berlemak,” sarannya.

Sekarang, penyakit tidak menular meningkat karena pola makan dan gaya hidup tidak sehat. Pola konsumsi pangan hari ini banyak pada padi-padian, minyak, lemak, serta gula. Kurang pada pangan hewani, kacang-kacangan, sayur dan buah.

Masalah yang dihadapi warga desa adalah rendahnya kualitas dan kuantitas konsumsi pangan. Budaya masyarakat kurang mendukung konsumsi pangan beragam, bergizi seimbang, dan aman. Padahal, potensi pangan hewani dan nabati cukup besar dan beragam.

“Kami  sampaikan pada warga, terutama pelajar, agar memperhatikan makanan yang bergizi,” tambah Jono Wasinuddin, Camat Ledokombo. Kecamatan mengimbau pada lembaga TK dan SD agar memperhatikan konsumsi makanan tersebut.

Survei dari Sun Movement Secretariat tahun 2013 menyatakan, investasi gizi senilai satu dolar, mampu menghasilkan 48 dolar dalam bentuk pendidikan, kesehatan, dan produktivitas ekonomi. Investasi gizi ini membantu memutus lingkaran kemiskinan dan meningkatkan PDB negara dua hingga tiga persen per tahun.

“Untuk Germas sendiri, kami gandeng muspika untuk gerakan hidup sehat,” ujar Jono. Seperti olahraga bersama, periksa kesehatan dan sosialisasi pangan sehat. Semua itu tergabung dalam program Gerakan Relawan bersama TNI, Polri, puskesmas, dan warga.

Penganekaragam konsumsi pangan sendiri diatur dalam UU Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan. Pasal 60 menyebutkan, pemda wajib mewujudkan penganekaragaman konsumsi pangan untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat dan mendukung hidup sehat, produktif, dan aktif. “Pencegahan penyakit tidak menular kami imbau warga konsumsi makanan bergizi,” paparnya.

Kemudian, strategi mewujudkan konsumsi pangan beragam melalui peningkatan ketersediaan pangan sampai tingkat rumah tangga. Seperti pengoptimalan pangan lokal, pemanfaatan lahan pekarangan, dan lainnya.

Gerakan diversifikasi pangan melalui konsep Isi Piringku. Yakni mengganti pesan empat sehat lima sempurna menjadi gizi seimbang. Yaitu makanan pokok, lauk pauk, sayur, dan buah-buahan. Selain itu, perilaku hidup bersih dan sehat. “Seperti cuci tangan, aktivitas fisik, memantau berat badan, dan minum air putih yang cukup,” pungkasnya. (*)