Harga Ayam Naik, Peternak Tidak Diuntungkan

Panjangnya Tata Niaga Ayam Ras

TAK SELALU MENGUNTUNGKAN: Kandang ayam di daerah Antirogo mulai melakukan pembesaran ayam ras, setelah bulan puasa kemarin panen. Kenyataannya, harga ayam yang naik saat Lebaran tidak begitu menguntungkan peternak.

RADAR JEMBER.ID – Raut wajah Yusman tidak merengut, juga tidak menunjukkan bahagia. Senyumnya hanya kecil saja setelah mendengar daging ayam ras penyumbang inflasi terbesar di Jember karena harganya naik.

Mantan peternak ayam dari Tanggul mengaku, rantai niaga perdagangan daging ayam ras sangat panjang dan tidak menguntungkan peternak. “Harganya naik, belum tentu peternak untung. Kalau peternak mandiri, tidak menjalin kemitraan, ya untung. Tapi yang kemitraan ya sama saja,” katanya.

Sekitar tiga sampai empat tahun terakhir, Yusman menghentikan bisnis ayam potongnya. Dia tergiur bisnis ternak ayam karena dari kalkulasi dengan masa panen hanya 35 hari sangat untung.

Namun kenyataannya, saat peternak ingin meraup untung besar pada masa panen jelang Lebaran ternyata tidak. “Semua orang ya paham kalau jelang Lebaran harga-harga itu naik, termasuk ayam. Tapi sebelum itu oleh mitra harga bibit ayam dan pakan juga dinaikkan,” tuturnya. Karena itu, peternak tidak dapat angpao besar sesuai harapannya.

Setelah menjalani peternakan ayam, dia paham betul penyebab harga daging ayam ras itu naik tidak serta permintaan tinggi. “Semua bilang supply dan demand. Kenyataannya, rantainya dari peternak ke konsumen terlalu panjang. Masih ada mitra, masih ada pembeli skala besar, pemotong, dan ke pedagang,” imbuh alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Jember (Unej) ini.

Bahkan, kata dia, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menemukan sesuatu yang tidak baik di dunia bisnis daging ayam. “Peternak ayam itu istilahnya sebagai budak di kandangnya sendiri. Karena mereka tidak untung. Belum apa-apa bibit dan pakan dinaikkan,” ujarnya.

Kasi Ketersediaan Pangan dan Distribusi Pangan Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Moch Mu’i mengakui, naiknya harga daging ayam dan sulitnya mengendalikan harganya tersebut karena terlalu banyak jalur niaganya. “Tidak cukup dari peternak, pedagang, dan ke konsumen. Tapi masih ada lagi perusahaan, pembeli besar, dan pemotongan,” terangnya.

Mu’i menjelaskan, rantai niaga daging ayam ras itu pertama dari peternak – mitra – pembeli atau pengepul – pemotongan – pedagang – dan konsumen. Seandainya mitra itu bisa langsung ke pedagang atau mitra bisa menyediakan ayam siap potong, maka bisa memutus rantai niaga ayam ras.

Jember sendiri, kata dia, ada 13 mitra daging ayam. Dengan 13 mitra tersebut, kata dia, mampu mencukupi kebutuhan masyarakat Jember. “Kebutuhan tiga bulan itu 4032 ton, sedangkan ketersediaan 4732 ton daging ayam ras,” imbuhnya.

Panjangnya rantai niaga daging ayam ras juga sempat diutarakan oleh Analis Bank Indonesia (BI) Jember Ajeng Ratna dalam penjelasan indeks harga konsumen di Kantor Badan Pusat Stastistik (BPS) Jember. Ajeng juga melontarkan perlu adanya pemotongan rantai niaga daging ayam. “Kami sebagai orang yang masuk dalam tim pengendali inflasi daerah juga ingin inflasi di Jember ini baik-baik saja,” pungkasnya. (*)