Ayo Bantu Syfa, Balita Pengidap Malnutrisi

Harapan Sulistiorini untuk Kesembuhan Buah Hatinya

BERUSAHA TEGAR: Sulistiorini tengah menggendong buah hatinya yang terus berharap uluran tangan untuk kesembuhan putrinya.

RADAR JEMBER.ID – Di balik tubuh mungilnya, putri pasangan Mustari dan Sulistiorini itu sepintas terlihat biasa saja. Seperti balita pada umumnya. Dia selalu menampilkan senyum semringah seolah tanpa beban.

Namun siapa sangka, putri dari keluarga yang tinggal di Dusun Kedawuhan, Kawangrejo, Mumbulsari itu mengidap penyakit di luar kemampuan anak seusianya. Kondisi tersebut, membuat kedua orang tua Syfa yang bekerja serabutan hanya bisa pasrah. Mereka berharap ada uluran tangan untuk kesembuhan buah hatinya.

Sulistiorini, ibu Syfa, mengatakan, kelahiran putrinya pada 4 Juni 2016 itu sejak awal terlahir dengan kondisi sehat dan sempurna. Beratnya 3200 gram. Secara keseluruhan anggota tubuh Syfa berfungsi dengan baik.

Hingga memasuki usia 7 bulan, Sulis begitu merasakan pertumbuhan dan perkembangan Syifa masih selayaknya anak pada umumnya. Perempuan yang setiap harinya bekerja sebagai buruh cuci mengaku, kecelakaan ringan yang menimpa dia dan buah hatinya kian memperkeruh kehidupannya.

“Saat mencuci di rumah tetangga saya kepeleset. Saat itu saya sedang menggendong Syfa. Dia lepas dari gendongan saya.” Tuturnya.

Setelah kejadian itu, Sulis dan suaminya membawa Syifa berobat. Namun karena mereka tidak memiliki biaya yang cukup, pengobatan Syifa hanya diberikan obat merah biasa. “Mulai saat itu, pertumbuhan dan perkembangannya terganggu. Sampai akhirnya dia tidak bisa melihat dan mendengar,” imbuh ibu 31 tahun itu.

Hingga saat memasuki usia dua setengah tahun, lanjut Sulis, kondisi buah hatinya semakin mengkhawatirkan. “Usia itu Syfa tidak bisa duduk. Tidak bisa menggenggam. Apalagi meraba,” katanya.

Penyesalan dan kekhawatiran semakin dirasakan oleh Sulis. Namun selama ini, perjuangannya merawat Syifa menurutnya banyak dibantu oleh sebuah komunitas sosial. “Mereka membawa Syfa berobat ke dokter spesialis mata di Jember,” ujarnya.

Berkat uluran tangan tersebut, Sulis mengaku merasa sangat terbantu. “Saya buruh cuci. Sedangkan suami saya hanya pencari bekicot dengan imbalan Rp 5.000 per kilogram yang dijual ke pengepul,” imbuhnya.

Leli Amalia, salah satu anggota komunitas itu, mengaku cukup memahami kondisi Syifa. Menurutnya, penyakit yang diderita balita tiga tahun itu setelah didiagnosis adalah gangguan pada motorik kasarnya.

Akibatnya, bukan hanya gangguan pada penglihatan, namun bagian tubuh lainnya. Menurutnya, dia juga butuh dokter saraf, bedah saraf, serta dokter pediatri. Hal itu diperuntukkan untuk memeriksa serta mengobservasi yang sedang terjadi pada diri Syfa.

“Dokter spesialis mata tidak dapat membantu banyak. Karena keterbatasan alat serta dokter yang ada,” tuturnya.

Bahkan, dia bersama komunitas relawan lainnya turut serta merujuk Syfa ke Rumah Sakit dr Soetomo Surabaya untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, Lia mengatakan, pertumbuhan Syifa jauh di bawah normal (malnutrsisi) atau menderita gizi buruk.

“Berat Syfa hanya 5,8 kilogram tidak sesuai dengan usianya yang mencapai 3 tahun,” tutur Lia. Dana-dana itu menurutnya didapatkan dari donasi peduli Syfa yang digalakkan melalui media-media sosial.

Selain harus meminum susu, menurut Lia, Syfa juga harus menjalani terapi yang diberikan dokter spesialis gizi ataupun dokter spesialis saraf. “Tiap dua minggu sekali dia harus terapi. Paling tidak sekali jalan ke Surabaya itu sekitar Rp 1 juta. Dan minimal terapi itu 1,5 tahun,” tutur Lia.

Hingga saat ini, dia bersama pihak keluarga dan relawan lainnya masih berusaha memberikan bantuan kemanusiaan kepada bocah malang tersebut. “Kami terus carikan dukungan kepada balita ini, demi kesembuhan dan kebahagiaan keluarga Ibu Sulis,” pungkasnya. (*)

IKLAN

Reporter :

Fotografer : Maulana

Editor : Mahrus Sholih