Susah Bikin Bahasa Isyarat Pasutri yang Tidak Sekolah

M. Farich Makmur, Penghulu yang Sudah Nikahkan Ribuan Pasutri

M. Farich Makmur salah satu penghulu senior di Jember. Sudah ribuan pasangan dituntun melafalkan ijab kabul. Dari sekian banyak pasangan tersebut, dia memiliki cerita menarik dari pasangan difabel. Seperti apakah itu cerita itu ?

PENGHULU SENIOR: M. Farich Makmur, salah satu penghulu senior di Jember yang sudah kenyang pengalaman menikahkan ribuan pasangan.

RADAR JEMBER.ID – Bagi M. Farich Makmur, berprofesi sebagai penghulu adalah pekerjaan yang sangat dinikmatinya. Dimulai tahu 1992 silam, pria yang akrab disapa Farich ini sudah berstatus CPNS. Baru tahun 1993 dia diangkat menjadi PNS. Tahun 1996 sampai 2000, pria asli Kecamatan Ajung ini naik tingkat menjadi wakil penghulu yang bertugas melihat, mencatat sekaligus menjadi saksi pernikahan.

Menurut Farich, saat zamannya menjadi penghulu dengan metode yang sekarang sudah jauh berbeda. Sekarang, apabila ingin menjadi penghulu, harus terlebih dahulu lulus Sarjana Syariah. Setelah itu masuk CPNS dan diklat penghulu. Baru kalau memang layak, bisa dikatakan lulus.

Selama 19 tahun, Farich tentu sudah menuntun banyak pasangan yang dinyatakan sah menjadi suami istri. Setahun saja, pria yang sekarang menjadi kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kencong bisa menangani 800 pasangan. Ratusan pasangan tersebut diemban oleh dua penghulu di KUA Kencong saja. “Saya pernah menjadi penghulu dari pasangan difabel. Mulai tunanetra sampai tunawicara,” kata Farich, saat ditemui di kantor KUA Kencong.

Banyak pengalaman yang sudah pernah dia rasakan saat mengesahkan calon pasangan suami istri (pasutri). Termasuk pasangan disabilitas. “Biasanya kalau pasangan difabel yang bisu, tergantung latar belakangnya juga. Kalau mereka pernah masuk sekolah luar biasa (SLB) dan tidak, bahasa isyaratnya tentu berbeda,” tuturnya.

Farich menuturkan, apabila orang tersebut pernah merasakan bangku SLB, bahasa isyarat yang dipakai sudah seperti bahasa isyarat pada umumnya. “Bahasa isyaratnya sudah baku. Tetapi kalau yang tidak pernah masuk SLB, kita harus menyesuaikan lagi,” kata Farich.

Sebelum proses ijab kabul. Pasangan difabel tunawicara tersebut wajib datang terlebih dahulu ke KUA untuk mencocokkan semua data dirinya beserta administrasi lainnya. “Dia kan bisa baca dan mendengar, jadi kita tanyai dulu data dirinya. Apa benar semuanya,” jelas pria yang sudah berusia 50 tahun ini.

Setelah data itu benar semua, barulah Farich menyepakati bahasa isyarat yang digunakan untuk ijab kabul nanti. “Kebanyakan bahasa isyarat yang dipakai orang SLB dan tidak itu beda. Kan yang tidak pernah SLB bahasa isyaratnya dia buat sehari-hari,” ungkapnya.

Dia menuturkan, dia pernah punya pengalaman, seisi ruangan tertawa tebahak-bahak saat pemeriksaan nikah pertama kalinya dari pasangan tunawicara tersebut. Kala itu, menyamakan bahasa isyarat mengenai maskawin. “Kalau maskawin berupa cincin gampang. Jari jempol dan telunjuk melingkar di jari lainnya. Nah kalau berupa gelang ini bahasa isyaratnya jari melingkar di tangan yang mengepal. Mirip seperti itu ya,” ujarnya, kemudian tertawa.

Pria berkacamata ini mengungkapkan, selain menyamakan bahasa isyarat, dia juga berkoordinasi dengan pihak saksi dari calon pengantin. Saksi tersebut harus juga paham dengan bahasa isyarat yang dia pakai kepada calon pengantin tersebut. “Biasanya juga yang sudah pernah SLB ngajak gurunya ke KUA. Nanti gurunya komunikasi ke kami. Paling tidak lafadnya ijab kabul itu disamakan,” ucapnya.

Selain pasangan disabilitas tunawicara, dia juga pernah menikahkan pasangan tunanetra. “Kalau tunanetra kami hanya menuntun tanda tangannya, kan mereka tidak bisa lihat. Tapi malah ada yang gak dituntun, orangnya bisa tepat tanda tangan di kertas nikahnya. Kok bisa langsung tepat ya,” ungkapnya, lalu kembali tertawa kecil.

Farich juga pernah menikahkan beberapa pasangan sampai jam 9 malam. “Malah ada pasangan itu minta dinikahkan jam 9 malam. Ya akhirnya kita laksanakan juga,” kenang Farich.

Selama 19 tahun tersebut, Farich sudah keliling menjadi kepala KUA di beberapa kecamatan di Jember. Mulai dari Sumberjambe, Mumbulsari, Tempurejo, Rambipuji, Sumbersari, Kaliwates, hingga sekarang ini ditempatkan di Kencong.

“Saya juga pernah menikahkan pakai bahasa Madura dan Arab. Kalau bahasa Arab, pasangannya memang sengaja yang minta. Kalau bahasa Madura, pasangan itu yang susah diajak komunikasi pakai bahasa Indonesia atau Jawa, jadi pakai bahasa sehari-harinya, ya Madura,” jelasnya.

Selain cerita unik saat prosesi pernikahan, Farich juga mengenang saat dia akan berangkat ke rumah calon pasangan yang berada di desa pelosok, Desa Jamberarum, Kecamatan Sumberjambe, tahun 2000 silam. Bersama Modin di sana, Farich menaiki sepeda motor. Apesnya dia belum mengenal medan terjal jalan tersebut. “Jalannya menuju ke lereng Gunung Raung. Gak taunya mesinnya bocor. Saya akhirnya mengganti kerusakan sepedanya sebesar Rp 300 ribu, padahal biaya nikahnya saat itu cuma Rp 30 ribu,” kenang Farich. (*)

IKLAN

Reporter : Muchammad Ainul Budi

Fotografer : Muchammad Ainul Budi

Editor : Narto