The Power of Emak-Emak

Dr. Dyah Nawangsari , M.Ag

1 Juni 2019 Indonesia berduka. Kristiani Herrawati, atau di kenal sebagai Ani Yudhoyono, istri Presiden keenam Susilo Yudhoyono telah wafat di usia 67 tahun. Sosok perempuan setia, kuat, tangguh dan  penuh inspiratif.

Selama 10 tahun masa kepemimpinan Presiden Yudhoyono, Ibu Ani tidak saja menjadi pendamping setia, tetapi juga menghasilkan karya nyata. Salah satunya  dikenal dengan Lima Pilar Indonesia, yakni: Program Indonesia Pintar, Indonesia Sehat, Indonesia Hijau, Indonesia Kreatif dan Indonesia Peduli. Program ini sebagai wujud karya dan kerja keras beliau bagi bangsa dan negara. Wafatnya beliau merupakan kehilangan besar bagi  Indonesia.

Sepanjang sejarah bangsa Indonesia, tidak sedikit perempuan-perempuan hebat sebagai sumber inspirasi. Perempuan tidak bisa dipungkiri menjadi kekuatan besar bagi upaya pembangunan bangsa. Di samping sebagai penikmat pasif, mereka juga berperan aktif di hampir semua sektor pembangunan. Ungkapan steriotype perempuan sebagai kanca wingking (hanya bertangung jawab untuk urusan domestik) sudah tidak relevan di era sekarang.

Saat ini perempuan sudah lebih kreatif dan lebih mandiri dalam menentukan pilihan hidupnya. Hasil Survei Nasional yang dilakukan oleh Tim Wahid Foundation bersama dengan Lembaga Survei Indonesia, membuktikan tingginya tingkat otonomi perempuan dalam mengambil keputusan tertentu dalam hidupnya.

Survei dilakukan pada tanggal 6 sampai 27 Oktober 2017 di 34 propinsi, terhadap 1500 responden muslim (dengan komposisi 50 persen laki-laki dan 50 persen perempuan).  Mayoritas perempuan muslim berdasar survei ini bersikap otonom dalam mengambil keputusan atas dasar pertimbangan diri sendiri. Sebanyak 53,3 persen  perempuan mengambil keputusan hidup secara mandiri dalam hal: (1) pasangan hidup, (2) pilihan bekerja/tidak bekerja, (3) terkait pandangan keagamaan, dan (2) pilihan politik pada setiap pemilihan umu (pemilu).

Dari keempat tema survei ini kemandirian perempuan yang paling tinggi terkait pemilihan pasangan hidup, sebanyak 79,5 persen. Peringkat kedua terkait pilihan politik perempun dalam pemilu, sebanyak 62,6 persen. Peringkat ketiga dalam hal pilihan bekerja dan tidak bekerja sebanyak 62,6 persen, dan peringkat keempat dalam hal pandangan keagamaan sebanyak 37,6 persen.

Menarik untuk dicermati hasil survei terkait kemandirian pilihan politik perempuan, yang mendudukan peringkat kedua dari semua tema. Kilas balik pemilu legeslatif (pileg) maupun pemilu presiden (pilpres) tanggal 17 April 2019 membuktikan kebenaran survei ini. Hak politik perempuan menjadi salah satu kekuatan dalam penggalangan massa dan sekaligus pencarian dukungan bagi para kontestan pemilu. Perempuan secara aktif terjun dalam politik baik sebagai kontestan pemilu maupun sebagai pendukung bagi para calon legeslatif (caleg).

The power of  Emak-emak juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para konsestan pemilihan presiden. Dalam agenda debat calon presiden (capres) dan calon wakil presiden  (cawapres), peran dan partisipasi perempuan dalam pembangunan menjadi salah satu materi yang diperbincangkan.  Sifat dasar perempuan yang cenderung setia terhadap pilihannya, menjadikan mereka sebagai loyalis capres dan cawapres yang mereka usung. Harus diakui keberadaan para loyalis ini menjadi kekuatan besar dalam perhelatan politik tersebut.

Gambaran tingginya kesadaran dan kemandirian perempuan dalam berpolitik, merupakan indikator tingginya partisipasi perempuan dalam pembangunan. Potensi yang dimiliki perempuan, merupakan modal besar bagi pembangunan. Terbukti dengan munculnya perempuan-perempuan hebat  dengan segudang prestasi dan karya nyata. Almarhum Ibu Ani Yudhoyono, Ibu Susi Pudjiastuti, Ibu Tri Rismaharini, Ibu Khafifah Indar Parawansa, dan masih banyak yang lain, adalah sosok-sosok yang kehebatannya sudah diakui baik di dalam maupun di luar negeri.

Meski begitu besar potensi dan kekuatan perempuan bagi pembangunan,  ada kalanya justru bisa menjadi ancaman jika tidak terwadahi secara tepat. Salah satu fakta terbaru adanya isu  people power pasca-pilpres juga tidak lepas dari peran aktif emak-emak. Mereka tidak saja berperan aktif dalam aksi, bahkan juga diduga ikut merencanakan aksi tersebut. Apalagi ketika gerakan itu dibalut dengan isu agama, maka para perempuan bisa menjadi loyalis buta yang bergerak dengan mengesampingkan akal sehat. Mereka bisa menjadi sosok militan yang siap mengorbankan apa pun demi keyakinannya.

Banyak ragam bentuk partisipasi perempuan dalam gerakan yang mengatasnamakan agama. Di antaranya adalah: (1) Menyumbang berupa materi, (2) Meyakinkan orang lain ikut memperjuangkan syariat Islam di negara kita., dan (3) Melakukan demonstrasi terhadap kelompok yang dinilai menodai atau mengancam kesucian Islam. Di samping itu ada bentuk partisipasi lain yakni; Ikut merencanakan atau ikut melakukan razia (sweeping),  membantu kelompok Islam yang memprotes pihak atau orang yang dianggap menistakan Islam, dan penyerangan terhadap rumah ibadah pemeluk agama

Pertanyaannya adalah apakah keterlibatan perempuan dalam berbagai aksi itu sebagai pilihan atas kesadaran sendiri atau karena dorongan dari orang lain? Jika merujuk kembali pada hasil survei yang dilakukan Tim Wahid Foundation bersama dengan Lembaga Survei Indonesia, otonomi  perempuan dalam mengambil keputusan terkait pandangan keagamaan menduduki peringkat yang terendah. Sangat mungkin terjadi para perempuan itu sejatinya adalah korban doktrinasi yang dilakukan baik oleh suami, guru ngaji, keluarga, atau orang-orang di sekitar mereka.  Perempuan di posisikan rentan, sehingga mereka tidak punya pilihan lain.

Dalam sebuah rumah tangga, menurut Scanzoni (1981) relasi suami-istri dapat dipetakan menjadi empat pola. yaitu owner property; head complement; senior-junior partner dan equal partner. Pola owner property, istri adalah milik suami sama seperti uang dan barang berharga lainnya. Pola head-complement, istri dilihat sebagai pelengkap suami. Suami diharapkan untuk memenuhi kebutuhan istri; cinta, kasih sayang, kepuasan seksual, dukungan emosi, teman, pengertian dan komunikasi yang terbuka. Pada pola senior-junior partner, posisi istri tidak hanya sebagai pelengkap suami, tetapi sudah menjadi teman.

Sedangkan pola equal partner, tidak ada posisi yang lebih tinggi atau rendah di antara suami-istri. Istri mendapat hak dan kewajibannya yang sama untuk mengembangkan diri sepenuhnya dan melakukan tugas-tugas rumah tangga.

Pola relasi yang jamak terjadi pada perempuan militan lebih banyak masuk dalam kategori relasi owner property dan head-complement. Jarang terjadi pola relasi  yang lebih  setara dan adil antar suami-istri, yang mengedepankan prinsip-prinsip equal partner. Pola ini menjadikan istri (baca: perempuan) nyaris tidak memiliki nilai tawar. Akibatnya mereka hanya bisa patuh dan menurut terhadap apa pun keputusan suami. Bahkan ketika suami mengajak istri untuk terlibat dalam tindakan-tindakan yang kurang benar—termasuk tindakan radikalisme dan terorisme—istri tidak memiliki kuasa untuk menolak.

Salah satu contoh yang paling nyata keterlibatan perempuan menjadi “pengantin bom” di Surabaya beberapa waktu lalu.  Hal ini menunjukkan telah  terjadi pergeseran peran perempuan, tidak sekedar bersifat pasif di balik layar tetapi sudah menjadi pelaku aktif di garis depan.  Kecenderungan ini bahkan  sudah terjadi sejak 2016. Salah satunya  aksi bom bunuh diri yang gagal dilakukan oleh perempuan bernama Dian Yulia Novita.

Bisa jadi pelibatan perempuan menjadi pelaku bom, dan juga tindakan lain yang mengarah pada radikalisme merupakan  tren baru yang harus diwaspadai. Apalagi beberapa kasus pengantin bom juga melibatkan anak-anak dalam aksi tersebut. Atas dasar naluri kasih sayang perempuan kepada anak-anaknya, mendorong mereka mengajak anak-anak untuk “syahid” bersama.  Loyalitas dan militansi perempuan dalam gerakan berbalut agama yang mengarah pada terorisme memiliki dampak yang sangat besar karena melibatkan calon-calon generasi penerus bangsa. Potensi dan kekuatan perermpuan dalam kasus ini bukan memberi daya dukung pembangunan, malah sebaliknya mengancam keberlangsungan pembangunan itu sendiri.

The power of Emak-emak bagaimana pun adalah dua sisi mata uang yang ada kalanya bisa mendukung pembangunan dengan daya dukung yang luar biasa. Tetapi di saat lain kekuatan itu bisa menjadi ancaman yang bahkan melebihi laki-laki. Apalagi kalau kekuatan itu dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dengan mengatasnamakan agama atau keyakinan tertentu, perempuan akan nekat berada di garis depan untuk memperjuangkan keyakinan itu. Bahkan mereka akan rela mengorbankan diri dan keluarganya demi kebenaran yang mereka yakini.

Tentu menjadi tanggung jawab semua fihak untuk “mengamankan” potensi perempuan ini. Untuk itu perlu dilakukan edukasi dan juga kajian untuk lebih mencerdaskan perempuan. Tidak kalah penting perlu banyak ditampilkan perempuan-perempuan hebat yang menorehkan karya nyata dalam pembangunan agar menjadi sumber inspirasi bagi yang lain. Dari situ nanti akan dapat dipetakan  potensi-potensi perempuan untuk kepentingan pembangunan bangsa. The power of Emak-emak dengan begitu akan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi negeri tercinta.

*) Penulis adalah Kaprodi Pendidikan Agama Islam Pascasarjana IAIN  Jember dan  pemerhati masalah gender dan anak.

 

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :