Andri Saputra dan Febrian Nur Hakim Juara MHQ Tunanetra Se-Jawa Timur

Lebih Nyaman Belajar Pakai Audio Visual

SEMANGAT MENGHAFAL AYAT SUCI: Febrian Nur Hakim (kiri) dan Andri Saputra (kanan) berhasil menjadi juara dalam lomba MHQ Tunanetra yang baru pertama kali digelar di Jember tahun ini.

RADARJEMBER.ID – Keterbatasan fisik tak menjadi penghalang bagi dua pemuda ini. Untuk terus bersemangat menghafal Alquran. Berbagai cara mereka lakukan, untuk mampu menghafal setiap juz Alquran. Sampai pada akhirnya berhasil juara di lomba Musabaqah Hifzil Quran (MHQ) se-Jawa Timur tahun ini.

Di tengah keterbatasan fisik, dua pemuda asli Gresik ini tetap semangat untuk menghafal Alquran. Keduanya adalah Andri Saputra dan Febrian Nur Hakim. Penderita tunanetra itu berhasil menjadi juara satu dan dua, dalam lomba Musabaqah Hifdzil Quran (MHQ) se-Jawa Timur yang digelar di Jember tanggal 14-19 Mei lalu.

Dua pemuda yang sama-sama berasal dari Pondok Khozainul Ulum Gresik ini sukses meraih sertifikat, piala, dan uang tunai dalam kategori 15 juz. Bahkan, Andri Saputra (19 tahun) sudah mampu menghafal 22 juz sampai sekarang ini. “Saya belajar menghafal Alquran sejak usia 7 tahun, tahun 2008 lalu. Pertamanya belajar dari suara HP. Tapi lama kelamaan suara dari HP ini kok kurang keras ya. Akhirnya pakai audio visual,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Pemuda yang akrab disapa Andri ini mengaku, dulunya ia pernah belajar menggunakan Alquran Braille. “Tapi saya kok agak kurang suka ya. Jadi menghafal pakai audio visual saja. Saya malah pernah dapat speaker yang cukup besar dari Madinah,” jelasnya.
Andri mengungkapkan, di rumahnya lumayan banyak audio visual. “Jadi, saya terus belajar dari audio visual. Setiap gerak-gerik kita pelajari pelan-pelan,” imbuhnya.

IKLAN

Sama dengan Andri, rekan satu pondoknya, Febrian Nur Hakim, juga belajar menghafal Alquran dari mendengarkan audio visual. “Saya mulai menghafal dari usia tujuh tahun. Alhamdulillah, dulu suka murotal Alquran,” kata pemuda yang akrab dipanggil Febrian ini.
Dua pemuda asli Gresik itu, berangkat ke Jember ditemani oleh ayah Febrian.

“Kalau Febrian ini setiap ada lomba menghafal Quran di mana pun saya ikutkan. Menang atau kalah sudah biasa. Tapi kalau untuk MHQ tunanetra ini setahu saya baru pertama kali diadakan di Jember. Khusus tunanetra,” ucap ayah Febrian.

Baik ayahnya maupun Febrian, akhirnya sama-sama ingin ikut lomba tersebut. Dengan tujuan mencari ilmu dan pengalaman baru. “Saya juga tidak pakai Alquran Braille. Belajarnya pakai audio visual, hanya mengandalkan seratus persen suara saja. Alhamdulillah, sudah hafal 26 juz,” ucap Febrian, sambil memegang sertifikat dan piala di tangannya.

Ayah Febrian, mengaku, anaknya tersebut termasuk lama menghafal kitab suci umat Islam itu. Sejak tahun 2014 sampai sekarang. “Anak saya termasuk lama, seharusnya tiga tahun sudah bisa selesai. Tetapi tetap saya beri semangat dan dorongan untuk terus menghafal,” jelasnya, sembari tersenyum.

Selama hampir lima hari di Jember, Febrian mengaku sangat berkesan mengikuti lomba MHQ khusus difabel tunanetra tersebut. “Saya baru pertama kali ke Jember. Saya doakan Ponpes Ibnu Katsir dijadikan Allah SWT santri-santri terbaik dan mendapat ilmu yang berkah,” tuturnya.

Dia juga berharap, masyarakat Jember bisa lebih menggeliatkan tahfiz Alquran. Febrian juga berterima kasih kepada panitia, yang sudah menyediakan fasilitas penginapan. “Mudah-mudahan ke depannya bisa lebih baik lagi,” pungkasnya.

Reporter : Muchammad Ainul Budi

Fotografer : Muchammad Ainul Budi

Editor : Hadi Sumarsono