Pengabdian Petugas Kamar Mayat yang Tak Libur Lebaran

Siap Mengurus Jasad Siapa Saja Sekalipun Hari Raya

STANDBY: Petugas Instalasi Forensik dan Perawatan Jenazah terus bekerja sekalipun hari raya Idul Fitri.

Setiap pekerjaan pasti memiliki risiko. Salah satunya adalah tetap bekerja seperti petugas kamar mayat di RSUD dr Soebandi Jember. Pada hari raya Idul Fitri tahun 2019 ini, setidaknya tujuh petugas yang standby siap melayani.

Suasana hening menjadi pemandangan ruangan yang berlokasi di sudut bangunan, arah tenggara, di RSUD dr Soebandi Jember. Bukan karena sepi atau tidak ada orang. Akan tetapi, ruangan itu merupakan kamar mayat atau yang kini disebut ruang tampung.

Nah, pada hari libur seperti puasa terakhir kali ini, di ruangan tersebut tetap ada sejumlah petugas yang standby. Termasuk saat hari raya Idul Fitri besok hingga hari libur usai.

Setidaknya ada tujuh orang yang bertugas dengan pergantian jam yang ditentukan sebelumnya.

IKLAN

Kepala Instalasi Forensik dan Perawatan Jenazah RSUD dr Soebandi dr Tegoeh Widodo mengaku, bertugas pada saat hari libur kerja dan hari raya sudah menjadi hal yang biasa karena merupakan kewajiban. Meski demikian, pekerjaan untuk mengurus jasad warga yang meninggal dunia tetap dilakukan secara maksimal seperti bekerja pada umumnya.

“Kerja saat libur hari raya sudah menjadi bagian dari risiko pekerjaan. Toh, itu semua dilakukan demi kepentingan banyak orang. Apalagi di sini (RSUD dr Soebandi, Red) menjadi rujukan dari sejumlah rumah sakit yang ada di kabupaten sekitar,” kata Tegoeh.

Selama libur hari raya ini, Teguh bersama teman-temannya mengaku tetap standby. Menunggu kemungkinan adanya warga yang meninggal dunia. “Korban yang meninggal di sini kan banyak. Ada pasien internal yang memang di rawat di rumah sakit. Ada pula korban dari eksternal, bisa rujukan atau korban kecelakaan,” paparnya.

Dia menjelaskan, petugas kamar mayat seluruhnya ada sebanyak tujuh orang. Dia sendiri serta enam orang lain. Sementara untuk sopir ambulans yang standby ada sebanyak enam orang. “Ada Pak Ari sebagai penata otopsi, ada Pak Asman sebagai pemulasaran jenazah, serta ada empat petugas lain. Kami kerja tetap ada pembagian jam kerja selama libur hari raya. Itu juga sudah diputuskan oleh direktur. Namanya tugas ya harus dijalankan,” jelasnya.

Tegoeh memaparkan, layanan untuk seluruh jasad yang meninggal dunia pada libur hari raya ini seluruhnya sama seperti hari-hari biasanya. Akan ada otopsi pada kasus kematian orang tertentu, ada yang langsung di antar ke rumah keluarga jenazah, dan ada pula yang dimandikan terlebih dahulu di kamar mayat.

“Untuk itu tergantung pada permintaan keluarga. Biasanya ada yang meminta untuk langsung dibawa pulang dan ada pula yang meminta pemulasaran sampai selesai. Jadi, tergantung permintaan keluarga,” paparnya.

Selama bekerja menjadi petugas kamar mayat, menurutnya yang ada hanyalah pengabdian. Apalagi, kondisi jasad yang masuk ke ruang tampung juga bermacam-macam. Ada yang meninggal karena sakit dan ada pula yang meninggal karena luka-luka. “Karena kami mengabdi, maka semua layanan diberikan yang terbaik,” paparnya.

Sementara itu, Ari, penata otopsi menyebutkan, layanan terhadap pasien internal atau eksternal yang meninggal dunia tak ada bedanya. Semuanya diperlakukan secara baik. Pemeriksaan terhadap jasad korban pun seluruhnya berdasar prosedur yang berlaku.

“Korban meninggal semuanya masuk ke ruang tampung. Kalau harus diotopsi, maka pada ruangan itu. Selanjutnya dilakukan pemulasaran,” pungkasnya.
Kondisi pada kamar mayat itu pun akan tetap hening sekali pun banyak orang. Kalau pun ramai, terkadang hanya suara isak tangis keluarga korban.

Meski demikian, sekeras apa pun orang menangis tak akan didengar atau tidak akan mengganggu pasien yang dirawat di rumah sakit. Maklum, lokasinya berada di sudut bangunan RSUD dr Soebandi dan jauh dari ruang rawat inap pasien. Semoga pekerjaan petugas kamar mayat senantiasa lancar, ya.

Reporter : Nur Hariri

Fotografer : Nur Hariri

Editor : Shodiq Syarif