Kisah Petugas Penjaga Pos Terowongan Gunung Boto Silo

BENTUK PENGABDIAN: Haji Hayyi Muhyidin, 53, warga Dusun Curahdamar, Desa Sidomulyo, Silo, yang menjadi PJTW (Petugas Jaga Terowongan) Gunung Boto, Desa Sidomulyo, Silo.

RADARJEMEBR.ID – Menjadi penjaga terowongan di Gunung Boto, Desa Sidomulyo, Silo, sudah menjadi bentuk pengabdian bagi Hayyi Muhyidin. Oleh karena itu, bisa berLebaran bersama keluarga dan tetangga baru bisa dilakukan jika tidak bersamaan waktunya piket. Namun, jika hari raya bersamaan jadwal piket, dirinya harus menikmati Lebaran di pintu terowongan Gunung Boto bersama warga sekitar.

H. Hayyi Muhyidin, 53, warga Dusun Curahdamar, Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, selalu menerima aturan dari tempat kerjanya di PT KAI Daerah Operasi 9 Jember. Namun, saat hari raya Idul Fitri yang selalu ditunggu oleh keluarga dan para tetangganya, justru membuatnya dilema. Pasalnya, jika waktu dirinya piket jaga, Hayyi hanya bisa menikmati Lebaran di Terowongan Gunung Boto.

Pasalnya, jadwal piket di terowongan sepanjang 113 meter itu ada pagi, siang, dan malam. Jadwal pagi mulai pukul 06.00-14.00, siang pukul 14.00-22.00 dan malam pukul 22.00 – 06.00 pagi lagi. Jadi, ada tiga orang penjaga terowongan yang harus bergantian sesuai dengan jadwal tersebut. Hayyi sendiri termasuk yang sudah cukup lama mengabdi menjadi penjaga terowongan ini.

Dirinya menjadi tenaga harian lepas sejak tahun 1986 dan diangkat menjadi karyawan tetap pada tahun 1995. Hingga kini, Hayyi menjadi petugas jaga terowongan Gunung Boto. Tentu, ini semua dijalaninya dengan pengabdian dengan mendapat dukungan penuh dari istrinya Hj Hamiyah Nur Aini, 45, dan dua orang anaknya.

IKLAN

Sejak menjadi petugas jaga terowongan yang dibangun 1902 dengan panjang 113 meter itu, jadwal piketnya pagi dua hari, siang dua hari, dan malam dua hari. Karena itu, istrinya pun tidak pernah menuntutnya untuk selalu berkumpul bersama di rumah saat merayakan Lebaran. “Karena petugas jaga terowongan mempunyai tanggung jawab satu jam sebelum kereta api datang. Baik yang dari arah Banyuwangi maupun Jember, itu melintas harus sudah dikontrol,” ujar Hayyi kepada Radarjember.id.

Selama menjadi petugas jaga terowongan, Hayyi memiliki banyak kenangan. Salah satunya pernah memergoki bantalan rel dari besi yang patah bagian tengahnya hampir 12 batang. “Ada juga pendrol penguat rel dengan bantalan rel dari besi itu lepas. Sehingga ketika ada temuan, saat itu juga harus melapor ke kantor pusat (Jember, red),” tuturnya.

Bahkan, kegiatan itu tetap dilakukan, meskipun hujan deras tidak pernah berhenti. Dirinya harus berjalan kaki sambil menggunakan jas hujan mengontrol sisi dalam terowongan. “Takut ada tebing yang longsor. Karena di samping kanan kiri sebelum memasuki terowongan itu ada tebing dengan ketinggian hingga 10 meteran,” jelasnya.

Untuk kereta api yang lewat terowongan dari arah Banyuwangi ada 5 jadwal, sedangkan dari arah Jember ada 3 jadwal kereta yang lewat. Dengan demikian, satu jam sebelum kereta lewat, Hayyi harus sudah mulai mengontrol jalur kereta di dalam terowongan sambil membawa senter cas dan sejumlah alat lainnya.

Saat menjadi tenaga harian lepas, Hayyi mengaku sebagai juru periksa jalan. Bedanya petugas jaga lintasan Kereta Api dengan petugas jaga terowongan saat kereta akan lewat. Ketika ada kereta api dari arah Banyuwangi, Hayyi 15 menit sebelumnya harus masuk ke terowongan sepanjang 113 meter dan harus berdiri di mulut terowongan ujung timur.

Demikian juga sebaliknya, ketika ada kereta dari Jember, maka dirinya berdiri di mulut terowongan sebelah barat.

Dengan pakaian dinasnya, Hayyi selalu memegang senter. Pekerjaan menjadi penjaga terowongan dijalani dengan ikhlas. Apalagi mendapat dukungan sang istri. Sambil menunggu jadwal kereta api lewat, Hayyi melakukan bersih-bersih di sepanjang terowongan. Tidak hanya itu, seratus meter setelah terowongan, kanan kiri rel kereta juga harus bersih dari rumput.

Menjadi petugas jaga di terowongan, kadang dirinya ditemani warga sekitar. Sebab, di tempat kerja (terowongan, Rred) ada beberapa rumah warga yang tidak jauh dari pos jaga.

Reporter : Jumai

Fotografer : Jumai

Editor : Rangga Mahardika