Dapat Gaji Seikhlasnya, Meski Murid Berprestasi Internasional

Muhammad Muchtar, dari Tukang Kebun, Konsisten Beri Bimbingan Olimpiade

KONSISTEN: Muhammad Muchtar dengan telaten membimbing murid-murid SD yang bakal mengikuti olimpiade.

LUMAJANG RADAR JEMBER.ID – Jalannya tidak begitu tegap. Gayanya juga tidak begitu berwibawa. Tetapi setiap ucapannya, semua murid-murid yang belajar padanya selalu didengar. Bahkan, saran-sarannya dianggap sebuah petuah yang tak bisa dilewatkan.

Begitulah sosok Muhammad Muchtar. Dia dikenal sebagai guru yang dulu berangkat dari seorang tukang kebun di sekolah. Keuletannya memberi bimbingan membuat banyak murid binaannya meraih sukses di panggung olimpiade hingga taraf internasional.

Ketika itu, dia dijumpai saat memberikan bimbingan pada dua murid yang sedang mengerjakan soal-soal latihan di dalam salah satu kelas SD 1 Citrodiwangsan. Di deretan paling depan, kedua murid tersebut terlihat serius. Saat itulah, Muchtar membuka pintu kelas.

“Yang lainnya belum datang ya,” tanya Muchtar petang itu.

“Iya pak, masih perjalanan,” ungkap salah satu murid bernama Audrey Felicity.

Tak Lama berselang, Najwa, murid dari Yosowilangun datang. Setelah mengetuk pintu dan mengucap salam, dia pun duduk bersama-teman-temannya.

“Naik apa, nak,” tanya Muchtar.

“Diantar bapak naik sepeda motor. Terlambat karena hujan pak,” jawab Najwa.

Muchtar kemudian melanjutkan membimbing anak-anak dari berbagai SD itu dengan telaten.

Sepenggal kisah itulah yang terjadi setiap hari. Murid-murid yang dibina Muchtar berasal dari berbagai kecamatan. Bahkan, paling ujung timur sekalipun seperti dari Yosowilangun datang sejak Senin sampai Jumat setiap petang.

Bicara soal prestasi anak binaannya, mereka saja sudah lupa berapa jumlahnya. “Lupa sudah, banyak di rak lemari saya,” kata Audrey. Murid SD Santo Yosef itu sudah berulang kali merebut medali emas dalam event-event lomba matematika.

Sama dengan Nafila, murid dari SD Denok. Terakhir seingatnya adalah lima medali. Semua didapat atas binaan dari Muchtar. “Kalau saya sepuluh medali sama Audrey,” sahut Najwa. Saat itulah, berangsur-angsur murid binaannya datang. Mengikuti pembinaan olimpiade dari Muchtar.

Di sela-sela kesibukan membina anak didiknya, Muchtar menceritakan bagaimana dia memulai semua itu. Dia berkisah, semua diawali tahun 2003. Ketika dia sedang menjadi tukang kebun dan penjaga malam di SD Citrodiwangsan untuk menyambung biaya hidup.

Maklum, sejak SMA, dia terpaksa hidup mandiri karena kedua orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya. Kemudian, dia diangkat menjadi penjaga perpustakaan. “Sejak itu tinggal di sekolahan, tidurnya di ruang kantor,” jawabnya mengenang masa lalu.

Lelaki kelahiran 19 Oktober 1978 ini kemudian diberi kesempatan masuk di kelas-kelas ketika guru kosong. “Alhamdulilah bisa, dan kemudian 2003 berkesempatan membina murid ikut lomba,” katanya.

Sempat juga ketika membina di SD Sarikemuning 2 Senduro, muridnya juara IPA tingkat Jawa Timur di Unmuh Malang. Mereka yang anak-anak desa itu makin terpacu semangatnya. Masuk menjadi guru sukwan, dia kemudian dipindah ke SD Tompokersan. Prestasi murid-muridnya juga mentereng.

Lelaki asal Kelurahan Jogotrunan, Asahan, Lumajang, ini kemudian melanjutkan pembinaannya. Bukan pada satu sekolah, melainkan pada semua murid dari berbagai sekolah yang tertarik dengan pembinaannya.

Di sela-sela itu, dia menyempatkan kuliah. Di STKIP Lumajang, kuliahnya sempat molor karena mengantar anak-anak binaannya lomba di Jakarta. Ketelatenannya membuat dia diangkat menjadi PNS sejak 2009.

Saat ini pun dia masih mempersiapkan anak didiknya untuk ikut kejuaraan di Thailand Internasional Mathematic Olympiad (TIMO). Ada sembilan anak Lumajang dari berbagai sekolah yang sebelumnya merebut medali emas di tingkat nasional. Semua anak binaannya itu mendapat medali.

Pada 20 sampai 23 Februari mendatang mereka dipersiapkan. Siswa yang akan berangkat adalah Dandi Rizki dari SD Tompokersan 3. “Awalnya nggak ikut karena saya terkendala, nggak bisa menemani. Tapi nanti bisa ikut semua,” katanya. Apalagi, dari Presiden TIMO (EO dari Thailand) yang menunjuk perwakilan Indonesia, mengajak Muchtar membantu di Thailand sana.

Selain TIMO, ada juga kejuaraan Asian Saint Mathematic Olimpiad (ASMO) se-Asia. Ada 6 anak dapat medali semua. “ASMO sekarang masih seleksi di Indonesia, kita dapat medali. Yang paling akhir seminggu lalu Seamo ikut juga,” katanya.

Muchtar merasa senang dengan pembinaan seperti itu. Apalagi di awal-awal karirnya dulu sempat diangkat oleh media ini. Hal itu menjadi pemacu semangat anak didiknya untuk terus merebut medali di setiap event.

Hal itu membuat dia sampai saat ini dipercaya membantu anak-anak dan teman-teman di beberapa wilayah Jatim. Termasuk di Kota Surabaya dan di daerah lainnya. Kalau dengan pembina matematika se-Indonesia jangan ditanya. Semua pasti kenal Muchtar.

Sempat juga anak didiknya berangkat ke Brasil mengikuti Internasional Junior Saint Olimpiad (IJSO) dan berhasil merebut medali emas. Dalam IMJ Singapura anak didiknya berhasil merebut medali perak, dan sekarang anak didiknya ada di ITB dan di AU.

Bicara soal biaya, Muchtar awalnya bungkam. Namun, dia menjelaskan bahwa selama ini biaya dia memberi pembinaan adalah dengan sukarela. “Kalau mau bayar ya monggo, nggak bayar karena nggak mampu ya nggak masalah. Gak papa,” ujarnya.

Dia menceritakan, sampai saat ini masih ada siswanya yang tidak mampu, dan dia bantu membina. “Kadang sebulan sekali bawa nasi goreng, bawa singkong, beras, dan lainnya. Saya ikhlas, tidak masalah. Yang penting anak-anak suka belajarnya. Saya sendiri selalu welcome selama bisa membantu anak-anak Lumajang,” ungkapnya.

Dengan hidup yang selalu diluangkan untuk mengabdi tanpa henti seperti ini saja, Muchtar merasa senang. Dia bisa menjalani hidup selayaknya orang pada umumnya bersama istrinya, Heni Krisnawati, dan tiga buah hatinya. Yakni Arini Farhah, Ilqiya Harosi, dan Lutfi Sakhi Zaidan, yang menjadi anak terakhir baru berusia 3 tahun. Dia tetap bertekad akan membantu anak-anak Lumajang merebut prestasi. (*)