Digaji Warga, Kerja Petugas Penjaga Rel untuk Bekal Mati

Dedikasi Supaito sebagai Petugas Penjaga Rel Kereta Api

Menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan. Apalagi tidak ada gawai sebagai hiburan, waktu tunggu sangat terasa lama. Tapi bagaimana dengan Supaito (57) yang berjam-jam menjaga palang pintu rel kereta api. Tanpa teman, tanpa hiburan televisi, radio, bahkan gawai yang selama ini jadi teman menghilangkan kebosananmu.

PAHLAWAN KERETA API: Supaito petugas, penjaga rel kereta api di daerah Pagah menyapa dan memberikan sinyal ke sejumlah pengendara yang hendak melintas rel kereta api.

RADAR JEMBER.ID – Sekitar pukul 14.00, pria bertopi dan berambut putih yang mendorong sepeda merah muda itu tiba di pos penjagaan palang pintu kereta api di daerah Pagah. Dengan wajah yang tampak lelah, dia juga sedikit gusar. “Remnya ini rusak, dinaiki takut ada apa-apa. Apalagi ada jalanan turunan. Kalau datar saya kayuh,” tuturnya.

Wajar saja wajahnya tampak lelah, pria itu berangkat dari Jelbuk pukul 13.00 dengan mengayuh dan mendorong sepedanya. Pria itu bernama Supaito. Dia adalah petugas penjaga palang pintu kereta api di daerah Pagah. Sebetulnya, tidak hanya Supaito yang menjaga palang pintu rel kereta api di Pagah, tapi hanya Supaito yang paling lama bekerja. “Ada dua orang yang jaga. Yang satunya masih baru. Sekitar tiga bulan. Karena menggantikan petugas yang lama,” tuturnya.

Supaito bekerja mulai tahun 2011. “Delapan tahun saya menjaga palang pintu rel kereta api ini,” ujarnya. Walau terbilang lama, pos penjagaan dengan ukuran 2×2 meter tersebut tanpa ada fasilitas sama sekali. Tidak ada televisi, radio, bahkan tidak ada jadwal kereta api yang lewat. Fasilitasnya cukup hanya ranjang terbuat dari bambu.

Supaito mengaku, sebetulnya ada jadwal setiap kereta api yang lewat. Tapi hilang diambil anak-anak jalanan. “Anak-anak jalanan itu yang merusak,” ujarnya. Dia mengaku, jika malam terpaksa palang pintu kereta api itu ditutup. “Jam 10 malam ditutup. Karena gak ada petugasnya. Petugasnya kurang jika ingin berjaga-jaga 24 jam. Palang pintu sudah saya tutup, tapi masih ada saja mencoba merusak gembok,” paparnya.

Waktu sudah semakin sore dan mulai magrib. Supaito pun tidak pernah bergegas untuk menjalankan salat asar. Padahal, pria ini puasa. Dia tidak salat bukan tanpa sebab. Dia takut terjadi apa-apa jika meninggalkan palang pintu walau untuk melaksanakan salat.

Ya, Supaito hampir mengalami hal buruk. Dia pada waktu itu salat di pos penjagaan. Pada waktu yang sama kereta sudah mulai mendekat. “Ada suara bel kereta, saya langsung loncat dari salat. Untung tidak ada yang lewat pada waktu itu. Dari situ saya berjanji tidak akan salat lagi di pos,” katanya.

Sebelum berangkat, Supaito selalu salat jamak Zuhur dan Asar. Begitu pula untuk Magrib, dia juga jamak pada waktu Isya saat pulang ke rumah. “Biar Allah yang tahu kondisi saya. Daripada saya ninggal tugas, nanti malah saya yang paling berdosa,” imbuhnya.

Pria paruh baya ini sebetulnya bukan petugas PT KAI yang bertugas khusus menjaga perlintasan kereta api. Tapi, dia bertugas untuk warga yang setiap hari melintas dan digaji dari RW setempat. Gajinya pun sangat jauh dari upah minimum kabupaten (UMK). Hanya Rp 550 ribu per bulan. “Awal kerja 2011 gajinya Rp 400 ribu. Mendirikan pos juga uang warga,” tuturnya.

Bekerja dengan gaji minim dan begitu membosankan tersebut bagi Supaito adalah untuk bekal mati. “Kerja yang penting bisa mencari pahala, sebagai sangu mati,” terangnya.

Dia mengaku, semasa muda hidupnya tak karuan. “Saya ini lulusan SMK, bisa baca, bisa tulis. Pekerjaan saya dulu ya enak. Karena nakal, ya, begitu nasibnya,” imbuhnya. Dia bekerja sebagai penjaga pos kereta api tersebut sekaligus menebus rasa bersalahnya yang terlalu terlena dengan kenakalan semasa hidupnya.  (*)

IKLAN

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Hadi Sumarsono