Pesantren, Ruang Keislaman dan Kegelisahan Intoleransi

SEBUAH pesantren pada dasarnya adalah sebuah asrama pendidikan islam tradisional yang memiliki lembaga pendidikan yang khas tersendiri dan berbeda dengan lembaga pendidikan yang lainnya. Pendidikan di pesantren meliputi pendidikan islam, dakwah, dan pengembangan masyarakat (sosial). Di mana siswanya (atau santri) tinggal bersama dan belajar di bawah seorang atau lebih guru yang lebih dikenal dengan sebutan “kiai”.

Asrama untuk para santri berada dilingkungan kompleks pesantren dimana kiai juga bertempat tinggal yang juga menyediakan masjid untuk beribadah, ruangan untuk belajar dan kegiatan-kegiatan keagamaan yang lain. Pesantre berasal dari kata santri dengan awalan pe dan akhiran an berarti tempat tinggal santri. Sedangkan asal-usul kata santri, berasal dari bahasa Jawa yaitu cantrik yang berarti seseorang yang selalu mengikuti guru kemanapun guru menetap.

Budaya dan tradisi pesantren kini dinilai sudah sangat kuat yang dapat menjamin kelangsungan watak disiplin, kerja keras, sikap saling percaya dan pendidikan pesantren yang telah diwariskan turun-temurun selama puluhan tahun. Dengan bermodal budaya dalam melakukan adaptasi sangat penting agar upaya memperkuat visi dan misi yang luas ke masa depan sehingga tidak menjadikan bangsa Indonesia kehilangan jati diri. Sehingga dapat mencegah perpecahan dan permusuhan.

Jika toleransi adalah hal yang selalu di gadang-gadang sebagai fondasi persatuan dan kesatuan yang telah menjadi karakteristik masyarakat kita. Akhir-akhir ini intoleransi muncul secara tiba-tiba baik di media sosial dan berita-berita harian baik cetak maupun online, seolah-olah menyebarkan kebohongan salah satu contoh yang bisa memecah belah kerukunan antar sessama manusia bahkan bangsa yaitu isu Makar. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) istilah makar memiliki tiga arti yaitu akal busuk, tipu muslihat. Kedua, perbuatan (usaha) dengan maksud hendak menyerang (membunuh) orang, dan ketiga, perbuatan (usaha) menjatuhkan pemerintah yang sah.

Seperti kasus Eggi Sudjana yang sedang menjadi perbincangan publik pada saat ini. Polisi menyebut penetapan tokoh 212 Eggi Sudjana dalam kasus dugaan makar berdasarkan pada bukti permulaan. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan bukti permulaan itu terdiri dari keterangan saksi, video hingga pemberitaan di media online. Penetapan tersangka itu berdasarkan bukti permulaan yakni pemeriksaan enam saksi, empat keterangan ahli, petunjuk barang bukti seperti video, dan pemberitaan di media online. Setelah penyidik mendapatkan bukti permulaan yang cukup, maka penyidik melakukan gelar perkara. Dalam gelar perkara itu, lanjutnya, penyidik memaparkan seluruh keterangan saksi, keterangan ahli, hingga barang bukti. Gelar perkara tersebut menyimpulkan bahwa untuk status saksi atau terlapor Eggi Sudjana dinaikkan menjadi tersangka. (CNN Indonesia, 09/05/2019)

Adapun dampak makar itu sendiri yaitu dapat merusak, memecah belah kerukunan antar sesama, dan menjadikan kegaduhan ketidaknyamanan masyarakat. Hal ini perlu kita antisipasi agar makar itu tidak terjadi maka kita perlu memberi pemahaman terhadap yang mendalam kepada masyarakat terkait pentingnya arti sebuah toleransi.

Perlunya keterjalinan Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan islam) bukan semata karena fanatisme agama, tetapi juga begitu pentingnya pembentukan habitat islami sebagai upaya defensif dari dampak negatif akulturasi agama dan budaya. Dan juga Ukhuwah Wathaniyah (persaudaraan kebangsaan) bukan hanya slogan, melainkan juga sudah menjadi kepribadian bangsa, khususnya bangsa Indonesia. Khusus untuk umat islam, sejak berdirinya bangsa ini menganggap kosakata Islam dan NKRI ini dua kata yang tak bisa dipisahkan. Jika berbicara tentang islam di indonesia, pasti kita juga berbicara tentang NKRI, sesungguhnya Ukhuwah Wathaniyah seperti ini keberadaannya dipertahankan dan dipupuk sebagai pegangan agar Intoleransi tidak dapat mengakar di negara ini.

*) penulis adalah Staf Perpustakaan IAIN Jember dan Pembina Karang Taruna Pemuda Pemudi Condro.

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :