Alot, Nasib Situs Megalitikum Ditentukan Minggu Depan

RUSAK: Proses pembangunan pabrik di Tangsil Wetan dikecam karena merusak cagar budaya.

BONDOWOSO RADAR JEMBER.ID – Pertemuan mediasi dan musyawarah terkait nasib areal situs purbakala di Dusun Jaringan, Desa Pekauman, Kecamatan Grujugan, berlangsung alot. Pertemuan dilakukan di Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan, Mojokerto, yang melibatkan beberapa pihak. Dari pemerintah, selain dihadiri Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bondowoso, juga melibatkan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur. Dari pihak perusahaan, hadir PT Indah Karya Plywood, perusahaan yang akan membangun pabrik di atas areal yang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh undang-undang.

“Pertemuan berlangsung alot, karena masing-masing pihak punya argumen sendiri. Tapi akhirnya kita sampai pada satu titik temu,” ujar Kasi Sejarah dan Purbakala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bondowoso, saat dikonfirmasi seusai pertemuan yang berlangsung hingga sore hari tersebut. Kesepakatan tersebut yakni pengembangan pabrik PT Indah Karya harus dilakukan kajian arkeologis yang dilakukan oleh BPCB Trowulan Jatim, TACB Jatim, dan Pemkab Bondowoso.

Dengan demikian, pertemuan musyawarah antarpihak masih akan berlanjut. “Minggu depan. Masih akan ada kajian lagi. Bersama antara tim provinsi dan pihak pabrik,” tutur Nugroho, perwakilan BPCB Trowuilan saat dikonfirmasi terpisah.

Sebelumnya, pihak pemerintah sudah cukup “mengalah” dengan memberikan opsi pabrik berdiri bersamaan dengan pelestarian barang megalitikum, meski secara undang-undang itu terlarang. “Ya kita bisa coba seperti di kampus UII, di mana saat penggalian konstruksi bangunan kampus ditemukan candi. Akhirnya, keduanya, yakni gedung kampus dan candi dibiarkan berdiri bersama,” ujar Blasius Suparta, anggota TACB Jatim saat dikonfirmasi terpisah.

Sementara itu, perwakilan PT Indah Karya enggan dikonfirmasi seusai pertemuan. “Itu kewenangan atasan,” ujar Harwin, perwakilan PT Indah Karya saat dikonfirmasi tanpa memberikan jawaban lebih lanjut.

 Direspons Masyarakat

Polemik tergusurnya situs purbakala di Grujugan, terus direspons masyarakat. Salah satunya dari komunitas Bondowoso Tempo Doeloe (BTD). Mereka menggelar kampanye penyelamatan situs purbakala dari perusakan pihak-pihak tertentu. “Kita pasang banner di sekitar lokasi untuk pernyataan sikap menolak pembangunan pabrik yang merusak peninggalan megalitikum di Bondowoso yang tidak ternilai harganya,” jelas Afif, koordinator aksi.

Selain kampanye di dunia nyata, mereka juga mengampanyekan penyelamatan situs melalui jalur dunia maya. Salah satunya dengan tanda pagar atau tagar bertajuk #savemegalitikumbondowoso. Baru beberapa jam diunggah, kampanye itu mendapat respons luas dari masyarakat. “Kami rencananya akan bikin vlog atau video untuk mendukung kampanye kami,” ujar Afif.

Sementara itu, penggiat sejarah dari Dewan Perjuangan Advokasi Cagar Budaya (Dang Acardya), Christian Agung menyayangkan pemindahan benda megalitikum atau eksitu. Sebab, selain merusak, juga menghilangkan nilai historisnya. “Nenek moyang kita tentu tidak sembarangan menaruh atau menatanya. Karena ini juga terkait kepercayaan di masa lalu yang sudah berumur ribuan tahun,” ujar pria asal Tangsil Wetan ini. (*)

IKLAN

Reporter : Adi Faizin

Fotografer : istimewa

Editor : Narto