Siapa Sebenarnya Pemenang Itu?

Rekapitulasi penghitungan suara hasil Pemilu 2019 di KPU Jawa Timur sudah rampung. Proses rekapitulasi memakan waktu hingga enam hari, dari tanggal 5 Mei hingga tanggal 11 Mei. Semuanya bisa dikatakan berjalan lancar, jikapun ada protes oleh beberapa pihak, adalah hal biasa dan masih dalam taraf lumrah. Ini pemilu, pasti ada yang kalah dan ada yang menang, ada yang puas ada yang keberatan, ada yang percaya terhadap hasil penghitungan dan ada yang curiga telah terjadi kecurangan.

Dari rekapitulasi di KPU Jatim, urusan pilpres sudah jelas, Jokowi-Ma’ruf unggul jauh di atas Prabowo-Sandi. Paslon 01 mendapat suara sebesar 16.231.668 dengan persentase 65,7%. Sementara paslon 02 mendapat 8.441.247 dengan persentase 34,3%. Kemenangan kubu 01 ini, sekaligus telah meruntuhkan klaim kubu 02, melalui Amien Rais yang mengatakan bahwa paslon 02 menang di Jawa Timur.

Rekapitulasi ini juga memberikan gambaran, siapa caleg yang akan melenggang dan siapa caleg yang gagal melenggang ke Indrapura (DPRD Jatim) dan ke Senayan (DPR RI).

Proses suksesi kepemimpinan lima tahunan kali ini (pilpres maupun pileg) memiliki perbedaan dengan proses suksesi beberapa tahun sebelumnya. Saya kira, tensi dan kompetisi Pemilu 2019, terutama Pilpres, jauh lebih hangat dan lebih sengit.

Selain karena ini adalah rematch, tanding ulang antara Jokowi dan Prabowo, beberapa variabel lain juga ikut berperan atas sengitnya pertarungan dalam pilpres. Misal, hoax yang membabi buta, diproduksi dengan masif dan sistematis, oleh kedua kubu atau oleh pihak lain yang sengaja memancing kemarahan yang merata di tengah-tengah masyarakat. Ujaran kebencian (hate speech) yang diumbar oleh para elite dan dimakmumi oleh rakyat secara terbuka, tanpa aling-aling, tanpa malu. Siapa yang berbeda harus dilawan, harus dihempaskan, harus dibumihanguskan, kira-kira begitu spirit Pemilu 2019. Medsos semakin ramai diisi dengan konten-konten sampah berisi agitasi dan provokasi. Medsos sempurna menjadi instrumen propaganda para pembenci.

Pileg 2019 juga tak kalah seru. Saling adu strategi antar caleg tak bisa tidak, terjadi sangat kompetitif. Sesekali juga terjadi gesekan antar caleg, baik laten maupun manifes, lebih-lebih antar caleg dalam satu partai. Saling intip, saling rebut wilayah hingga saling “bom” money politics bukan hal yang susah ditemukan, namun jamak diwartakan.

Kerja politik para caleg tidak selesai setelah pencoblosan dan penghitungan suara di tingkat TPS. Kampanye selama berbulan-bulan hanya merupakan bagian dari kerja panjang dan melelahkan para caleg. Kerja yang paling menentukan justru setelah penghitungan di TPS dilakukan. Apa itu? Kerja untuk memastikan suara aman, suara tidak hilang atau geser ke orang lain, atau sebaliknya, kerja kotor dengan menggeser suara orang atau partai ke dalam suaranya. Apa itu mungkin? Sangat mungkin, nyatanya banyak ditemukan begitu. Jika masih kurang yakin, tanya saja pada para caleg itu, terutama caleg-caleg yang gagal melenggang. Suara mereka tiba-tiba menghilang, suara teman separtainya malah jadi lebih menjulang. Siapa pun calegnya, kalaupun dia memiliki elektabilitas yang bagus, tinggi, namun tidak memiliki uang dan tim saksi yang solid, siap-siap menjadi korban persekongkolan jahat dalam pemilu kali ini.

Seorang teman, seorang caleg, mengatakan, kerja politik yang sebenarnya adalah pasca penghitungan di TPS. “Nasib kita ditentukan saat itu, jadi atau tidak, sangat ditentukan saat itu. Pengawalan suara dan lobi-lobi ke elite partai dan pelaksana pemilu adalah kata kuncinya,” kata teman ini. Saya percaya teman saya ini berkata jujur, pernyataannya disertai dengan argumentasi dan data yang valid. Begitulah kualitas demokrasi kita, begitulah proses elektoral terjadi dalam sistem pemilu kita, masih ada celah yang harus diperbaiki.

Belum lagi masalah money politics. Ini hal lain yang juga mendegradasi kualitas demokrasi kita. Tidak ada lagi aling-aling. Masyarakat menjadi sangat permisif dengan money politics, para caleg juga memilih money politics sebagai strategi utama kemenangan mereka. Lengkap sudah, money politics akhirnya tradisi, menjadi normalisasi baru dalam sistem elektoral kita.

Saya sendiri memiliki banyak teman, saudara, senior dan junior yang ikut running dalam Pemilu 2019. Sebagian ada yang cemerlang dan beruntung, tapi juga ada yang buntung. Biasa, begitulah hukum kompetisi dan kontestasi, pasti–bahkan harus–ada yang menang dan ada yang kalah.

Tulisan ini tidak saja berkaitan dengan angka-angka yang menentukan seorang caleg melenggang atau tidak ke DPRD/DPR RI. Ini bukan siapa yang menang dan dilantik, atau siapa yang kalah dan marah karena gagal dilantik. Tapi saya berusaha memotret cara ‘menang lain’ atau ‘kalah lain’ yang saya tangkap dari beberapa teman, saudara, Junior dan senior saya. Tentang menang yang lebih esensial dan kalah yang lebih parah.

Paling tidak, ada empat kategori kelompok caleg dalam memahami kalah menang ini. Sekali lagi, ini hasil pengamatan saya disesuaikan dengan niat, tingkat kecerdasan spiritual dan kedewasaan seorang caleg.

Pertama adalah kelompok pemenang yang juga menang. Mereka menang, keluar sebagai peraup suara terbanyak, berhak dilantik, dan yang terpenting dia mengikuti aturan permainan (rule of the game) dengan baik, serta mengekspresikan kemenangannya dengan elegan. Bersyukur dan menganggap bahwa jabatan yang akan diembannya adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan, dunia dan akhirat.

Kelompok kedua adalah pemenang yang kalah. Mereka adalah pemenang, pengumpul suara terbanyak, akan dilantik, tapi dia sama sekali tidak mengindahkan rule of the game Pemilu 2019. Mereka lakukan semua cara agar terpilih dan dilantik, dengan cara barbar sekalipun, no problem. Bagi mereka, itulah politik. Kotor dan licik, selicik dan sekotor isi hati dan otak mereka. Cara mengekspresikan kemenangannya pun tidak elegan, cenderung foya-foya dan berpotensi menyakiti kelompok yang telah dikalahkan.

Ketiga adalah orang kalah yang kalah. Suaranya tak signifikan, padahal segala cara telah dilakukan. Mulai dari cara yang normal hingga cara yang paling nakal, dilakukan. Namun tetap gagal. Ekspresi kegagalan pun ditunjukkan dengan cara yang tak elegan, tuduh sana tuduh sini, fitnah sana, fitnah sini.

Keempat, adalah kelompok kalah tapi sejatinya pemenang. Kelompok ini, adalah mereka yang suaranya tak bisa mengantarkannya ke DPRD/DPR RI, entah karena dicurangi atau karena memang tak mencukupi. Cara dan kerja politik yang dilakukan juga sudah benar, terukur dan seharusnya maksimal, namun takdir tak berpihak, akhirnya tetap tak dilantik. Kelompok ini tidak tersiksa karena kekalahan, karena niatan bertarung bukan untuk sekadar kekuasaan dan gaji semata, tapi adalah perjuangan. Maka, jikapun kalah, itu tak akan berpengaruh besar pada stabilitas emosinya. Mereka tetap tenang, dan menganggap, dilantik itu adalah pemberian dari Allah SWT, tidak dilantik juga adalah pemberian Allah SWT. Takdir sudah menuliskan garis ketentuan itu semua. Lapang menerima takdir, sabar menjalani takdir.

Keempat tipologi ini, saya kira, berlandaskan pada dua hal. Pada niat seseorang, dan pada kecerdasan spiritual seseorang. Jika niatan dan kecerdasan spiritual seorang caleg telah tertata rapi dan baik, apa pun hasil pileg 2019 tak akan berpengaruh luar biasa pada dirinya. Sebaliknya, jika niat dan kecerdasan spiritual seorang caleg tak cukup baik, pasti hasil 2019 akan mengganggu kehidupannya, sekalipun dia akan dilantik sebagai wakil rakyat.

Seorang senior mengatakan, “Tak ada yang perlu dirisaukan, Allah memberi itu adalah anugerah, Allah tidak memberi, itu juga anugerah”. Cerminan spiritualitas yang mantap dan kokoh. Begitulah seharusnya. Wallahu a’lam.

*) penulis adalah Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya dan Ketua Dewan Pendidikan Bondowoso.

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :