Memaknai The Power of Syukur di Bulan Ramadhan

JEMBER di bulan Ramadhan, nuansa agama begitu terasa. Momen ini menumbuhkan hasrat untuk kembali mengkaji tentang makna syukur. Secara general, pembahasan makna syukur berpengaruh terhadap kehidupan sehari-hari. Memang syukur bukan sesuatu yang baru dibahas. Bagaikan seumur manusia, pembahasan syukur telah ada mulai dari adanya manusia hingga hari ini dan nanti. Rujukannya dari berbagai sumber, terutama dalam Al Qur’an yang menjelaskan dan membuktikan kepada semua manusia tentang syukur dari satu masa ke masa lain. Intinya adalah syukur sebagai kunci kebahagiaan dan kesuksesan, apabila setiap manusia mampu mengamalkannya secara maksimal.

Memaknai syukur bisa dengan cara tekstual dan kontekstual. M. Quraish Shihab dalam buku Wawasan Al-Qur’an (1996) menjelaskan bahwa kosa kata “syukur” berasal dari bahasa Al Qur’an yang tertulis dalam bahasa Arab. Kata syukur adalah bentuk mashdar dari kata kerja syakara–yasykuru–syukran–wa syukuran–wa syukranan. Kata kerja ini berakar dengan huruf-huruf syin, kaf, dan ra’.

Secara bahasa, syukur juga berasal dari kata “syakara” yang berarti pujian atas kebaikan dan penuhnya sesuatu. Syukur juga berarti menampakkan sesuatu ke permukaan nikmat Allah. Sedangkan menurut istilah syara’, syukur adalah pengakuan terhadap nikmat yang dikaruniakan Allah yang disertai dengan kedudukan kepada-Nya dan mempergunakan nikmat tersebut sesuai dengan tuntunan dan kehendak Allah.

M. Quraish Shihab mencatat, dalam Al Quran, kata “syukur” dengan berbagai bentuknya ditemukan sebanyak 64 kali. M. Quraish Shihab juga mengutip pandangan Ahmad Ibnu Faris dalam bukunya Maqayis Al-Lughah menyebutkan empat arti dasar dari kata tersebut. Pertama, pujian karena adanya kebaikan yang diperoleh. Kedua, kepenuhan dan kelebatan. Ketiga, sesuatu yang tumbuh di tangkai pohon (parasit). Keempat, pernikahan, atau alat kelamin

Sedangkan syukur secara kontekstual diperlukan untuk mengaplikasikan konsep lebih mudah dan bermakna sesuai perkembangan zaman. M Subhan Zamzami dalam artikelnya, Tafsir Kontekstual menyatakan, cikal-bakal tafsir kontekstual terkait ayat Al Qur’an mengarah pada ayat-ayat Al Qur’an yang memiliki asbab al-nuzul, terutama berkaitan dengan fenomena sosial pada saat itu, lalu dikaitkan dengan realitas masa kini.

M. Quraish Shihab menegaskan syukur mencakup tiga sisi. Pertama, syukur dengan hati, yakni kepuasaan batin atas anugerah. Kedua, syukur dengan lidah, yakni dengan mengakui anugerah dan memuji pemberinya. Ketiga, syukur dengan perbuatan, yakni dengan memanfaatkan anugerah yang diperoleh sesuai dengan tujuan penganugerahannya. Ternyata Al Qur’an juga memerintahkan untuk bersyukur setelah menyebut beberapa nikmat-Nya, sebagaimana termaktub dalam Surat Al-Baqarah ayat 152 dan Al- Luqman ayat 12.

Dengan penafsiran ayat-ayat syukur yang dalam Al Qur’an, menginspirasi pelakunya menafsirkan secara kontekstual agar tidak terjebak pada pemahaman yang sempit dan kaku. Syukur sudah seyogyanya ditafsirkan lebih bermakna dan bermanfaat secara pribadi, sosial, spiritual dan profesional.

Syukur itu memiliki kedahsyatan, kekuatan dan keutamaan yang luar biasa. Banyak data dan fakta menarik yang mengungkapkan tentang bukti positif bersyukur kepada Allah. Karena kedahsyatannya yang luar biasa, syukur itu membuat setan-iblis tidak senang. Bahkan, setan-iblis berjanji akan selalu menggoda setiap manusia yang mau bersyukur kepada Allah, melalui berbagai cara dan arah mata angin. Seperti diungkap dalam Al Qur’an, setan-iblis selalu berusaha menggoda setiap manusia untuk tidak boleh bersyukur kepada Allah dari sisi kanan-kiri, depan dan belakang.

Terdapat beberapa hasil penelitian tentang pengaruh ekspresi syukur yang dipraktikkan seseorang menunjang kesuksesan kehidupannya. Pertama, syukur bisa membawa prestasi belajarnya anak sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekspresi anak yang berprestasi dalam sekolah bisa dilihat dari aktivitasnya di dunia maya dalam media sosialnya.

Kedua, syukur membuat kita bahagia. Semakin kita sering berekspresi syukur maka semakin kita bahagia. Hasil riset dari Amerika Serikat yang dilakukan Robert A. Emmons, Ph.D., dari University of California menjelaskan, bersyukur bisa membuat orang merasa lebih bahagia dan tidak mudah depresi.

Ketiga, syukur membuat kita kaya. Kita dapat merenungkan salah satu firman Allah dalam al-Qur’an Surat Ibrahim ayat 7. Dalam buku Dahsyatnya Syukur (2009), Syafii Al-Bantanie menerangkan secara lugas, betapa syukur pengaruh besar bagi pelakunya. Tidak hanya dimudahkan dari segala kesulitan, tetapi juga menambah rezeki, mendatangkan kesembuhan dan mengantar ke surga. Intinya mengungkapkan bahwa syukur memiliki hikmah yang besar.

Sudah seyogyanya momen Ramadhan ini kita menyadari bahwa syukur adalah proses dinamis yang tidak pernah ada ujungnya. Semakin banyak bersyukur, berlipat ganda kebahagiaan yang dirasakan. Ini yang dimaksud the Power of Syukur. Di sinilah, pentingnya pemahaman yang sesuai dengan kepentingan, kebutuhan dan tantangan yang dihadapi. Diharapkan pengalaman dan pengamalan syukur kepada Allah benar-benar bermula dari keikhlasan hakiki. Sehingga bermanfaat dalam kehidupan manusia di  dunia dan akhirat.

*) Penulis adalah pemerhati Program Pengentasan Kemiskinan dan mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial.

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :