Integrasi dengan Pemangku Kebijakan, Pengusaha dan Para Ahli

 

Aplikasi Insaf, Upaya Mahasiswa Meningkatkan Kesejahteraan Petani

Bertani tak hanya datang ke sawah untuk mencangkul dan menanam padi. Namun ada cara baru yang bisa dilakukan. Seperti mengembangkan teknologi pertanian dengan membuat aplikasi yang memudahkan petani dalam bercocok tanam. Inilah yang dilakukan mahasiswa Unej.

TEKNOLOGI BARU: Tiga mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Jember membuat aplikasi untuk meningkatkan kesejahteraan petani.

RADAR JEMBER.ID – “Kami bertani, tapi dengan cara membuat aplikasi,” kata Imam Buchori, mahasiswa Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Jember. Dia bersama Muhammad Firza Fahreza dan Syarifudin Haris Afifi membuat aplikasi yang bernama: Indonesian Smart Farmer (Insaf).
Aplikasi itu menjadi salah satu alternatif di tengah menurunnya minat para pemuda untuk bekerja di sektor pertanian. Mereka kurang tertarik bertani karena menguras tenaga, seperti mencangkul, membajak sawah, dan membuat badan menjadi kotor. Sementara itu, penghasilan belum jelas dan pasti.
Padahal, bertani tidak harus terjun langsung ke sawah menanam padi. Namun, mengembangkan teknologi pertanian sudah masuk di dalamnya. “Orang tua saya petani, selalu mengalami banyak masalah di pertanian,” akunya. Masalah yang dihadapi seperti kekurangan modal saat akan hendak menanam, kekurangan pupuk, hingga kebingungan hendak menjual hasil panen ke mana, sementara harganya selalu turun. Informasi yang terbatas dan pengetahuan yang minim tentang pertanian membuat petani kebingungan. “Mau dijual ke daerah lain kekurangan informasi, akhirnya dijual pada tengkulak,” paparnya.
Untuk itulah, mahasiswa kelahiran 16 Desember 1999 itu mencoba mencarikan solusi untuk memajukan sektor pertanian. Yakni membuat aplikasi Insaf.
Sebelumnya, Buchori bersama temannya melakukan survei tentang persoalan yang dialami oleh petani di Desa/Kecamatan Pesanggaran, Kecamatan Banyuwangi, tanah kelahirannya. Dari survei itu, ternyata petani mengalami hal yang sama seperti yang dialami oleh keluarga Buchori sendiri.
Akhirnya, dia membuat aplikasi untuk memudahkan petani. Seperti kemudahan mendapatkan modal untuk menjual hasil panen hingga mengetahui informasi terbaru tentang pertanian. “Sekarang sudah masuk era 4.0. Pinjam uang bisa secara online,” terangnya.
Aplikasi itu untuk menyambungkan Koperasi Unit Desa (KUD) dengan petani. KUD yang menyediakan pinjaman bisa lebih mudah diakses. Selain itu, KUD juga bisa memberikan informasi harga komoditas terbaru serta informasi cuaca.
Aplikasi Insaf mengintegrasikan petani dengan pemangku kebijakan, pengusaha, dan para ahli. Harapannya bisa meningkatkan kesejahteraan petani. Petani bisa upgrade pengetahuannya dan sharing dengan petani yang lain.
Dalam aplikasi itu, terdapat beberapa fitur. Seperti menu Koperasiku yang berfungsi untuk transaksi simpan pinjam. Menu Tukar Poin, Apresiasi Poin yang bisa ditukar dengan pupuk. Menu Artikel Pertanian, yakni edukasi berupa artikel tentang perkembangan dunia pertanian.
Tak kalah penting, ada juga menu Prakiraan Cuaca yang berfungsi untuk mengabarkan tentang cuaca. Menu itu terintegrasi dengan BMKG. Selain itu, ada juga menu Adukan Masalah. Di sini petani bisa mengadukan pada pemangku kebijakan, seperti Dinas Pertanian. “Ada juga menu Tanya Ahli, untuk konsultasi, menu forum tani untuk sharing,” tambah Firza.
Aplikasi yang dibuat tersebut mendapat apresiasi dengan meraih juara tiga dalam Agribisnis Festival 2019 di Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta 3 April 2019 lalu. “Kami ikutkan lomba, dan meraih juara tiga,” akunya.
Diakuinya, aplikasi tersebut memang masih belum sempurna, sebab perlu banyak perbaikan. Seperti memberikan edukasi pada masyarakat tentang cara pemakaiannya. Kemudian, menyinergikan dengan para pemangku kebijakan. “Pemuda sekarang bisa membantu petani dengan memperkenalkan teknologi pertanian,” terangnya.
Peran pemuda, kata dia, cukup penting untuk memajukan sektor pertanian. Mereka bisa mengedukasi petani tentang pertanian modern. “Penerapan aplikasi ini butuh sosialisasi, petani banyak yang sudah pegang gawai,” imbuhnya.
Kekhawatiran tentang semakin menurunnya minat pemuda untuk bertani juga dirasakan oleh Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jember Jumantoro. “Jember merupakan kabupaten pertanian, tapi sekarang memprihatinkan. Pemuda mulai kurang tertarik dengan pertanian,” jelasnya.
Menurut dia, menurunnya minat pemuda di sektor pertanian karena dinilai kurang menguntungkan di tengah ketidakpastian pasar. Akhirnya, bidang pertanian hanya menjadi pelarian ketika pemuda tidak mendapatkan pekerjaan. “Bertani bukan dijadikan profesi, tapi pelarian,” akunya.
Bila tidak ada terobosan yang pas untuk generasi milenial dari pemerintah, kata Jumantoro, maka ketahanan pangan hanya akan menjadi cerita. Sebab, tidak ada pemuda meneruskan sektor pertanian. “Sekarang yang bertani adalah orang tua yang usianya 50 tahunan,” tambahnya.
Untuk itu, HKTI Jember melakukan pemetaan untuk mengelola lahan menjadi agrowisata. Tujuannya agar menjadi tempat edukasi bagi generasi muda. Yakni mengenalkan bahwa bertani tidak hanya tanam padi, namun banyak inovasi yang bisa dilakukan. “Kami mengajarkan bahwa pertanian itu menguntungkan dan mengasyikkan,” tegasnya.
Anak muda sekarang sudah tidak gagap teknologi. Mereka bisa mengemas produk dengan baik. Lebih menguasai pasar dengan teknologi. Mereka memiliki peran untuk memajukan pertanian dengan teknologi. “Kami berharap lulusan pertanian bisa menjadi entrepreneur di bidang pertanian,” harapnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Jember Sigit Soeparjono menambahkan, sejak enam tahun terakhir, ada tren putra-putri petani tidak mengikuti jejak orang tuanya. “Misal ketika kami turun ke desa, anak petani tembakau sudah tidak mau jadi petani tembakau,” akunya.
Hal itu terjadi karena pasar global yang terus terbuka luas. Pasar modern sudah masuk ke desa. Anak petani lebih memilih menjadi karyawan karena memberikan penghasilan yang jelas dan pasti. “Mereka merasa penghasilan lebih baik dibanding mengelola sawah,” tuturnya.
Hal itu karena aktivitas bertani masih bergantung musim, harga, kualitas, dan para pembelinya. Bila musim tidak bersahabat, maka kurang menguntungkan. Sementara dengan menjadi karyawan, mereka mendapatkan penghasilan secara rutin. Untuk itulah, perlu terobosan baru untuk meningkatkan kesejahteraan di sektor pertanian.
Tak hanya itu, pihaknya terus mencari cara guna menghadapi tantangan pertanian bagi generasi milenial. Seperti memanfaatkan alat digital untuk pengembangan pertanian sendiri. Seperti penggunaan alat digital semprot hama dengan drone.
Kendati demikian, Sigit tidak khawatir tentang regenerasi petani. Sebab, dia menilai masih banyak mahasiswa yang punya keinginan untuk aktif di bidang pertanian. Setiap tahun, ada 550 mahasiswa yang memilih Fakultas Pertanian di Universitas Jember. “Ada sekitar 300 hingga 400 mahasiswa yang lulus setiap tahun,” akunya.
Mahasiswa yang lulus itu lebih dari 50 persen bekerja di sektor pertanian dan perkebunan, seperti kelapa sawit, kopi, dan kakao. Sedangkan 10 hingga 20 persen di sektor pemerintahan, lalu di sektor wirausaha di atas 20 persen. “Artinya, lulusan mahasiswa itu bekerja sesuai dengan bidangnya sebagai sarjana pertanian,” paparnya.
Di kampus, kata Sigit, mahasiswa dilatih untuk memahami dan mencintai pertanian. Mereka langsung praktik di lahan pertanian mengolah sawah dengan traktor, lalu menanam, memelihara, hingga selesai panen. “Harapannya mereka benar-benar suka dengan pertanian,” pungkasnya. (*)