Cagar Budaya Jatim Turun Tangan, Upayakan Mediasi

Kawasan Megalitikum Terancam Perluasan Pabrik

TERANCAM: Kawasan situs megalitikum di Grujugan yang terancam tergusur oleh perluasan pabrik. 

BONDOWOSO RADAR JEMBER.ID – Status Bondowoso yang dijuluki sebagai surganya peninggalan megalitikum terancam tercoreng. Ini menyusul perluasan areal pabrik sebuah perusahaan di Grujugan, yang mengancam peninggalan purbakala.

Beberapa benda arkeologi bahkan ada yang rusak akibat proses pengurukan tanah untuk perluasan pabrik tersebut. Mendapati hal tersebut, Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur turun langsung ke kawasan purbakala Grujugan untuk melakukan peninjauan.

“Jelas-jelas ada kesalahan, karena itu dalam waktu dekat kita akan adakan pertemuan dengan pihak PT Indah Karya Plywood. Mungkin Kamis besok,” ujar Endang Prasanti, Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Dinas kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur usai meninjau langsung ke areal yang berjarak beberapa meter dari Pusat Informasi Megalitikum Bondowoso (PIMB) tersebut. Kunjungan itu juga didampingi Kepala Dinas Pendidikan Bondowoso Harimas.

Endang melanjutkan, sesuai undang-undang, kegiatan memindahkan benda purbakala tanpa izin yang sah adalah pelanggaran hukum dan ada ancaman pidananya. Namun, TACB memilih untuk menempuh jalur mediasi untuk mendapatkan solusi terbaik. “Intinya bukan pada proses hukum, tetapi bagaimana kita bisa melestarikan benda cagar budaya,” jelas Endang.

Diakui Endang, kawasan tersebut secara Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) adalah masuk kawasan industri. Tetapi di sisi lain, kawasan di Grujugan itu juga ditetapkan sebagai areal situs cagar budaya, yang tidak diperbolehkan seenaknya memindahkan benda purbakala. “Kawasan industri di Bondowoso kan ada banyak, tidak hanya di sini. Sedangkan kawasan megalitikum cuma ada di sini. Karena itu, untuk mendapatkan solusinya, kita perlu duduk bersama dengan banyak pihak, termasuk instansi pemerintah yang terkait,” ujarnya.

Sebelum pembangunan pabrik, Endang menilai seharusnya ada kajian terlebih dahulu. “Jumat kemarin kami baru dapat laporan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bondowoso, makanya langsung ke sini,” papar Endang.

Dari pantauan Radarjember.id, beberapa alat berat seperti backhoe (ekskavator), beroperasi untuk meratakan tanah. Menurut TACB, areal yang akan dibangun pabrik itu kaya akan benda megalitikum. “Ada total 37 benda purbakala. Sebagian rusak, karena digali dan ditemukan secara tidak sengaja pakai bego (backhoe), bukan pemindahan sebagaimana seharusnya dalam ilmu arkeologi,” ujar Blasius Suprapta, anggota TACB.

Menurut Blasius, situs megalitikum sebenarnya tidak boleh dipindah. “Kami sempat menangis sebenarnya tadi, melihat peninggalan nenek moyang jadi seperti itu,” ujar pria yang juga sejarawan di Universitas Negeri Malang (UM) tersebut.

Meski demikian, TACB masih mengapresiasi pihak pabrik yang memilih memindahkan ketimbang merusak benda purbakala. Pertemuan selanjutnya diharapkan bisa mencari solusi terbaik, meski tidak ideal. “Kita akan coba usulkan agar bisa berdiri berdampingan. Ini bisa mengadopsi contoh di kampus UII Jogjakarta tahun 1993,” kata Blasius.

Pada saat itu, UII akan membangun kampus baru di kawasan Kaliurang untuk lokasi perpustakaan pusat. Namun, di tengah penggalian, ternyata ditemukan benda purbakala yang kemudian dinamakan Candi Kimpulan. “Kasus di UII tahun 1993 itu adalah contoh sukses win-win solution. Jadi, kepentingan kampus tetap bisa berjalan tanpa merusak benda purbakala. Kami harap di Bondowoso juga begitu,” pungkas Blasius. (*)

IKLAN

Reporter : Adi Faizin

Fotografer : adi faizin

Editor : Narto