Hafidi, Ketua Yayasan Islam Bustanul Ulum Pakusari

“Siswa yang ingin sekolah di SMK IBU itu memang benar-benar anak dari orang yang tidak mampu dan yatim piatu. Hampir semuanya dari anak-anak pinggiran dan dia benar-benar ingin melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.”Hafidi, Ketua Yayasan Islam Bustanul Ulum Pakusari

DISERBU PENDAFTAR: Panitia Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di SMK Islam Bustanul Ulum (IBU) Pakusari diserbu pendaftar di hari pertama.

RADAR JEMBER.ID – Proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di SMK Islam Bustanul Ulum (IBU) Pakusari agak berbeda dengan sekolah lain. Ketika lembaga lain baru menyatakan pengumuman kelulusan, sekolah ini sudah membuka pendaftaran untuk siswa baru.

Sekolah gratis itu memang selalu diserbu para siswa. Mereka yang diterima di sekolah tersebut diutamakan dari putra-putri orang yang tidak mampu, yatim piatu, dan harus mampu membaca Alquran.

Di hari pertama pendaftaran saja, 500 formulir yang disiapkan panitia langsung ludes. Hal ini membuat para orang tua yang telanjur datang ke sekolah untuk mendaftar, harus mendapatkan tanda untuk pengambilan formulir. Bahkan, pihak sekolah juga berkoordinasi dengan anggota Polsek Pakusari untuk pengamanan. “Karena banyaknya siswa yang mendaftar, pendaftaran dibuka selama enam hari,” ujar Mufti Ali, Kepala SMK IBU Pakusari.

Pantauan Radarjember.id, sejak pukul 06.00 sudah banyak yang antre di depan pintu loket pendaftaran. Padahal, belum semua panitia datang dan masih perjalanan ke sekolah. Salah satunya Yono, warga Dusun Baban Timur, Desa Mulyorejo, Silo, yang mengantar putrinya untuk mendaftar. “Saya berangkat dari rumah setelah selesai salat Subuh,” ujarnya.

Bahkan, untuk mengantisipasi tidak terjadinya siswa yang pingsan, pihak sekolah menyiapkan dua mobil ambulans dari Puskesmas Pakusari dan milik sekolah. Hafidi, Ketua Yayasan Islam Bustanul Ulum Pakusari mengatakan, untuk tahun ini penerimaan siswa baru hanya dibatasi 20 kelas, dari tahun sebelumnya yakni 25 kelas. Tak heran jika dengan berkurangnya kuota siswa yang diterima, banyak orang tua yang memilih datang di hari pertama pendaftaran.

Apabila dari 20 kelas itu sudah terpenuhi, namun masih ada siswa yang datang, pihaknya akan melakukan koordinasi untuk mencari solusinya. “Karena yang jelas, siswa yang ingin sekolah di SMK IBU itu memang benar-benar anak dari orang yang tidak mampu dan yatim piatu. Hampir semuanya dari anak-anak pinggiran dan dia benar-benar ingin melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi,” pungkas Hafidi. (*)