Ramadan, Bulan Pengendalian Diri

Oleh: Dr. H. Sutrisno RS, MHI

Alhamdulillah, kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah mempertemukan kita kembali di bulan suci Ramadan 1440 H ini. Bulan ini disebut oleh nabi sebagai syahrun adhimun mubarok (bulan agung yang penuh barokah). Bulan yang penuh rahmat dan ampunan dari Allah SWT. Bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari 1000 bulan, yang dikenal dengan Lailatul Qadar.

Berbahagialah kita karena Allah SWT masih memberi kesempatan kepada kita menyambut bulan suci ini. Karenanya, kita manfaatkan keutamaan dan keistimewaan bulan Ramadan ini untuk mengendalikan diri membersihkan jiwa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kita jadikan momentum Ramadan tahun ini untuk memperbaiki kondisi dan nilai ketakwaan kita kepada Allah SWT.

Sesungguhnya puasa Ramadan adalah suatu kewajiban yang harus dilaksanakan dan tidak boleh ditinggalkan kecuali bagi mereka yang ada uzur yang diperbolehkan oleh syariat untuk meninggalkannya. Allah SWT memerintahkan sesuatu kepada hamba-Nya pastilah terdapat hikmah dan manfaat yang terkandung di dalamnya.

Demikian juga puasa yang kita laksanakan in pun tidak sedikit manfaat dan hikmah di dalamnya. Hikmah yang mampu mengantarkan kita mencapai tujuan derajat takwa (muttaqin). Allah SWT berfirman yang artinya :

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (QS. Al-Baqarah: 183)

Secara zahir pelaksanaan puasa mungkin terasa memberatkan, baik secara jasmani maupun rohani, karena memang manusia mempunyai kecenderungan untuk menuruti hawa nafsunya (QS. Yusuf:53).  Sementara ibadah puasa menuntut pelakunya untuk mengendalikan diri dan menahan hawa nafsu. Juga sebagai latihan menguasai diri dan mengendalikan seluruh anggota tubuh kita lahir dan batin dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Karena itu Rasulullah SAW bersabda : Apabila ada orang yang mencaci kalian atau mengajak berkelahi, maka katakanlah “Aku sedang berpuasa, Aku sedang berpuasa, Aku sedang berpuasa.” Maksudnya agar kita menahan diri dan menahan emosi. Umumnya setiap orang apabila dicaci maki pasti marah. Marah merupakan hal yang manusiawi, tetapi dalam keadaan marah ini hendaknya kita menahan diri dan jangan bertindak gegabah yang bisa berakibat penyesalan. Salah satu ciri orang yang bertakwa adalah dapat menguasai dan menahan diri pada saat berpuasa.

Sejatinya, puasa bukan hanya meninggalkan makan dan minum di siang hari saja, namun puasa hendaknya mampu menahan hawa nafsu kita dari perbuatan tercela dan perilaku yang tidak mendapatkan rida dari Allah SWT. Rasulullah SAW mengingatkan agar kita tidak tergoda oleh keinginan nafsu semata yang dapat mengurangi nilai ibadah puasa kita. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda : Banyak sekali orang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali hanya rasa lapar. (HR. Al-Hakim). Karenanya hendaknya kita tinggalkan kebiasaan yang tidak baik seperti menggunjing orang lain, berdusta, menghina, memfitnah, mengadu domba, menipu dan lain sebagainya. Juga dalam rangka membersihkan hati kita dari penyakit-penyakit yang dapat merusak amal ibadah kita, seperti sombong, iri, dengki, dan lain sebagainya.

Kaitannya dengan pengendalian diri, Imam al Ghazali merinci tiga tahapan ibadah puasa sebagai proses pendakian spiritual, yakni: Pertama puasa orang awam, yang sekadar menahan rasa lapar, haus dan syahwat. Kedua, puasa orang khusus, yang bukan sekadar menahan rasa lapar, haus dan hasrat seksualnya, tetapi mampu menahan diri pancainderanya dari perbuatan dosa. Ketiga, puasa orang super khusus, yang bukan hanya menahan rasa lapar, haus, syahwat dan panca inderanya, tetapi puasa hati nurani. Inilah puncak tertinggi ibadah puasa dalam proses pendakian spiritual.

Dengan demikian, target dan tujuan ibadah puasa yakni menjadi pribadi yang bertakwa yang melahirkan kesadaran bahwa Allah SWT selalu mengawasi perbuatan kita dan senantiasa menyertai kita di mana pun kita berada dapat kita raih apabila kita mampu menundukkan hawa nafsu duniawi selama bulan Ramadan dan mengoptimalkan ibadah dengan penuh keikhlasan. Walllahu a’lamu bi ash shawab. (*)

(*) Penulis adalah dosen Pascasarjana IAIN Jember