Kembali Indonesia

Pesta demokrasi telah usai dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 17 April 2019. Untuk hasil masih menunggu keputusan KPU pada tanggal 22 Mei 2019. Pesta demokrasi kali ini memang sedikit berbeda dibanding pemilu-pemilu sebelumnya. Proses memilih hingga disediakan lima kertas suara dari presiden, DPR RI, DPR Provinsi, DPRD dan DPD RI ternyata berimplikasi pada proses pemilihan hingga proses penghitungan suara.

Proses kampanye makan “hati”

Kurang lebih sepuluh bulan proses kampanye memang memakan “hati” bagi para simpatisan dan juga pendukung kedua calon. Kata Cebong dan Kampret cukup mewarnai proses kampanye di berbagai media seperti Facebook, Whastaap Grup, Twitter dan juga media mainstream lainya. Saling adu gagasan visi dan misi dan tidak sedikit juga saling  serang dan saling hujat  untuk berebut simpati masyarakat agar memilih calon yang di idolakan.

Sisi kemanusian banyak  terabaikan karena saling serang dan bahkan perang antar pendukung calon.  Media diatas seakan seperti “Rimba” yang dengan bebas untuk bisa mematikan lawan. Kawan yang dulu dibangga-banggakan hilang seketika karena beda pilihan. Bahkan yang paling mengerikan Kyai, guru, ustadz juga menjadi bahan cacian bagi mereka yang tidak satu pandangan. Sungguh mengerikan bukan!!!.

Budaya Indonesia yang terkenal dengan nilai saling menghormati, tenggang rasa lenyap seketika karena rimba politik yang membabi buta. Serasa tidak hidup di Negeri yang katanya dulu adalah Negara yang paling ramah akan masyarakatnya. Seketika masyarakat di Negeri ini menjadi masyrakat pemarah yang hanya membenarkan golonganya saja. Saudara,tetangga, sahabat dan bahkan orang tua yang tidak se-ide dalam berpolitik seketika mejadi domba yang bisa diadu.      

Gugurnya Para Pahlawan Demokrasi

Lelah dan penat diarasakan oleh petugas KPPS dan juga aparat keamanan yang menjaga pelaksanaan pesta demokrasi. Tidak sedikit petugas penyelenggara pemilu yang gugur karena kelelahan dalam proses pelaksanaan. Sejak pelaksanaan Pemilu Serentak 17 April 2019, beberapa petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di sejumlah daerah meninggal dunia diduga karena kelelahan, juga ada yang sakit karena kelelahan melakukan penghitungan suara di TPS.    

Bukan kerjaan yang gampang menjadi petugas KPPS butuh kesehatan yang ekstra baik dohir ataupun batin. Mengingat pemilu tahun 2019 ini merupakan pemilu dengan tensi yang cukup tinggi dimana butuh kehati-hatian ekstra bagi petugas.  Layak kiranya pemerintah memberikan imbalan yang setimpal bagi para pejuang demokrasi yang telah bersusah payah mendedikasikan semua jiwa dan raganya untuk pesta demokrasi dalam rangka mencari pemimpin dan wakil rakyat untuk negeri.

Tamparan nyata nantinya untuk pemimpin dan juga wakil rakyat yang terpilih untuk berkontribusi yang terbaik bagi masyarakat indoneisa, bukan untuk golongan atau hanya teman. Gugurnya para pahlawan demokrasi merupakan seruan moral untuk para pemimpin dan wakil rakyat bekerja giat membangun masyarakat yang berdaulat  sebagaimana yang telah diamanatkan pada sila kelima yakni “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”

Kembali Indonesia

Lupakan uforia  berlebihan!!!,Tidak ada istilah pendukung  01 dan 02 tapi yang ada adalah kembali sila ke-3 yakni persatuan Indonesia.  Makna mendalam dari persatuan Indonesia telah digagas oleh para founding father  adalah keutuhan bangsa yang terbentang dari Sabang sampai Merauke yang sesuai dengan batas-batas wilayah Indonesia. Maskipun beda agama, beda ras, beda suku, tetapi masih satu yaitu Indonesia.

Mari kita menengok sebentar kebermaknaan dari sumpah pemuda 91 tahun lalu yang telah dikumandangkan oleh Moehammad Yamin dan kawan kawan pemuda yakni: “Pertama, Kami Poetra Dan Poetri Indonesia Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Air Indonesia. Kedua, Kami Poetra Dan Poetri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia. Ketiga, Kami Poetra Dan Poetri Indonesia Mengjoenjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia” Peristiwa sejarah Soempah Pemoeda atau Sumpah Pemuda merupakan suatu pengakuan dari Pemuda-Pemudi Indonesia yang mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa.

Kemajemukan masyarakat Indonesia menunjukkan suatu aneka warna yang besar dalam hal budaya dan bahasa. Internalisasi nilai-nilai karakter kerjasama, tenggang rasa, tolong menolong dan menghormati satu sama lain merupakan perwujuadan nilai-nilai yang harus menginternal pada setiap masyarakat Indonesia. Stop HOAX dan adu domba karena beda pilihan politik. Perkuat persatuan dan berfikir jernih untuk Indonesia kedepan yang lebih beradab adil dan makmur, agar Negara Indonesia semakin jaya.

*) Ahmad Royani adalah Mahasiswa Program Doktor IAIN Jember