Dulu Gak Ada yang Mau  karena Tidak Digaji

Wakikmiskadar, Hansip Senior Orde Baru hingga Reformasi

Di setiap gelaran pemilu, selalu ada peran pertahanan sipil (hansip) atau yang berganti perlindungan masyarakat (Limas). Namun, kini hansip yang berhari jadi 19 April sangat berbeda. Jika dulu setiap hajatan ada hansip, kini hanya per lima tahun saja, saat pemilu.

TERSISA TOPI: Wakikmiskadar bersigap dengan ilmu bela diri pencak silat. Pria 63 tahun ini menjadi hansip sejak tahun 1995 hingga 2004.

RADAR JEMBER.ID – Mencari sosok hansip yang paham cerita hansip mulai sedikit. Hansip senior mulai diganti dengan yang baru, ada juga yang telah wafat. Di Lingkungan Sumber Wringin, Kelurahan Karangrejo, ada dua hansip yang usianya masih dikatakan muda, kira-kira sekitar 35 tahunan.

“Kalau mau tanya tentang hansip itu seperti apa, mereka tidak tahu. Karena baru tahun ini jadi hansip untuk pengamanan di TPS,” ujar Bambang kepala RW setempat. Satu petunjuk hansip senior yang masih hidup adalah Wakik. Nama lengkapnya Wakikmiskadar dan rumahnya di dekat penambangan pasir.

Memakai capil dan celana pendek, siang itu Wakik baru tiba di kediamannya. “Itu Pak Wakik baru pulang dari sawah,” tutur Eko Heri Prayitno, tetangga Wakik. Berbicara hansip masa kini, Wakik tidak banyak bicara. Ya, Wakik saat ini tidak menjadi hansip lagi, posisinya sudah diserahkan ke orang lain.

Gak jadi hansip lagi karena ada peraturan, Pak RT tidak boleh rangkap jabatan jadi hansip,” tutur Wakik yang kini menjadi kepala RT 01 RW 017 Kelurahan Karangrejo tersebut. Wakik mulai menjadi hansip sejak 1995 hingga 2004.

“Mulai zamannya Pak Harto, sampai pemilu SBY yang pertama,” katanya. Dia mau menjadi hansip kala itu, karena tidak ada warga yang mau dan hansip yang sebelumnya telah wafat. Apalagi, saat itu menjadi seorang hansip merupakan sebuah pengabdian.

Gak ada gajinya ya dulu, jadi banyak yang gak mau. Beda dengan sekarang,” imbuhnya. Dia mengabdikan diri ke negara sebagai hansip juga sebagai bakti negara untuk keamanan desa. Kakek yang memiliki cucu lima itu mengaku, menjadi hansip juga diberi pembekalan. Baris-berbaris di terik matahari pernah dijalani, hingga ada pembekalan ilmu bela diri dari kepolisian dan TNI.

Ya ada pelatihannya sampai kepanasan, dijemur di Lapangan Wirolegi dan Sukorejo. Juga ada cara melumpuhkan orang yang dianggap pembuat kerusuhan tanpa borgol,” tuturnya. Meski dulu tidak digaji, tapi pengabdiannya terhadap negara untuk mengamankan desa cukup diakui jempol.

Terlebih lagi, masyarakat begitu mengapresiasi dan menghormati hansip. Setiap ada hajatan, entah itu pesta pernikahan, penutupan jalan, hingga khitan, selalu ada hansip yang selalu standby jadi petugas keamanan. Kini setiap hajatan, jarang ada hansip. Hansip hanya dipakai per lima tahun saja, yaitu pemilu. “Kalau jaga saat hajatan paling sering cuma dikasih makan dan berkat,” imbuhnya.

Ya, hansip sudah berubah fungsi tidak seperti dulu. Bahkan, saat ramai isu “ninja” tahun 1999, hansip menjadi garda terdepan untuk mengamankan kampung. Meski Wakik lama jadi hansip kenangan tersisa hanya sebuah topi bertuliskan Limnas. “Baju, sepatu semua perlengkapan hansip saya kasih ke pengganti saya,” pungkasnya. (*)

Reporter :

Fotografer : dwi siswanto

Editor : Rangga Mahardhika