Satu Penderita Bisa Tularkan kepada 20 Orang

Penderita TBC Naik Terus

HARI TBC: Peringatan Hari TBC di Alun-Alun RBA Ki Ronggo, kemarin, untuk menyadarkan masyarakat tentang pentingnya hidup sehat.

BONDOWOSO RADAR JEMBER.ID – ‘Ketahui Status TBC mu Sekarang’. Itulah salah satu tagline yang diusung aktivis TOSS TBC, dalam peringatan Hari TBC Sedunia, kemarin (14/4). Agenda peringatan yang digelar di Alun-Alun RBA Ki Ronggo itu diikuti puluhan aktivis kesehatan. Di antaranya datang dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Bondowoso dan Sub Sub Recipient (SSR) Bondowoso.

Fitri Purwandari, Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes mengatakan, TBC di Bondowoso adalah penyakit yang harus diwaspadai. Sebab, jumlahnya setiap tahun meningkat. Pada 2017 hampir 1.100 kasus. Pada 2018 justru naik menjadi 1.330. “TBC ini bisa dilihat dengan periksa dahak, orang yang terkena bisa berat badannya turun dan demam berkepanjangan,” ujarnya.

Namun hal itu ketika sudah parah. Karenanya, masyarakat tidak boleh tidak menyepelekan batuk. Ketika batuk berkepanjangan, bisa periksa dahak di tes cepat molekuler (TCM). Tempatnya di Bondowoso masih hanya dua titik. “Di RS Dokter Koesnadi dan di Puskesmas Maesan,” terangnya.

Dijelaskannya, di Bondowoso insiden rate-nya sangat tinggi. Sebab, satu orang bisa menularkan kepada 20 orang terdekat. Misalnya ketika ada orang terkena TBC, lantas ada orang yang imun tubuhnya lemah, maka bisa saja tertular.

Upaya pemerintah Bondowoso selama ini adalah tidak menyepelekan TBC. Terbukti Bondowoso sedang menggagas Perda Penanganan TBC. Ketika ada perdanya, maka TBC adalah penyakit yang tidak bisa disepelekan dan harus menjadi perhatian.

Sementara itu, Hijrotul Ilahiyah, Koordinator SSR Bondowoso mengatakan, selama ini SSR yang mendapat pendanaan dari Global Fund membantu pemberantasan TBC di berbagai daerah di Indonesia. Di Bondowoso, sudah sejak beberapa tahun lalu. Yakni dengan melakukan pendampingan pasien TBC. “Selain itu, juga mendorong adanya perda dan membantu fasilitas kesehatan,” terangnya.

Dijelaskan, ada 25 puskesmas di Bondowoso. Sebanyak 20 puskesmas sudah masuk dalam garapan SSR. Sinergi programnya, SSR memberikan pelatihan dan penguatan SDM kepada masyarakat tentang bahasa TBC.

Ketua PD Aisyiyah Bondowoso Jajuk Widyanti yang menjadi pembina SSR mengatakan, adanya peringatan hari TBC menjadi kampanye kesehatan. Sebab, masih banyak masyarakat yang kurang paham dengan penyakit ini. “Ironisnya, pengobatannya harus selama enam bulan dengan rutin, jika pengobatannya putus nyambung bisa lebih parah jadinya,” tegasnya.

Karena dengan adanya Pendamping Minum Obat (PMO), menjadi solusi. Seseorang yang dijadikan PMO adalah keluarga terdekat atau orang terdekat. Sehingga pasien TBC bisa rutin minum obat sampai sembuh. “Karena moto kami adalah Temukan, Obati sampai Sembuh atau disingkat TOSS TBC,” pungkasnya. (*)

Reporter : Solikhul Huda

Fotografer : solikhul huda

Editor : Narto