Kakak-Adik Siswa MI yang Kompak Cari Rosokan

Pas Libur, Kami Bisa Nyeser Sampai Kota Jember

KOMPAK: Sodik (kiri) bersama Abdul (kakaknya) kerja cari rosokan dari Rambipuji ke Jalan Gajah Mada kota Jember, dengan sepeda pancal.

RADARJEMBER.ID – Keduanya siswa MI (Madrasah Ibtidaiyah). Namun Abdul dan Sodik terus bersemangat untuk bisa sekolah. Saat libur, kakak-adik ini kompak mencari rosokan demi membantu perekonomian keluarga.

Awan mendung mulai menyelimuti sebagian Kota Jember, kemarin. Dua anak lelaki kecil terlihat dari kejauhan mengayuh sepeda pancal. Keduanya melintas di Jalan Gajah Mada, Kecamatan Kaliwates. Mereka sering berhenti sejenak. Menepi di pinggir jalan, lantas memungut gelas plastik bekas wadah sebuah air mineral.

Kedua anak itu adalah Abdul Muit dan Sodik. Kakak-beradik tersebut tinggal di Dusun Gumuk Limo, Desa Nogosari, Kecamatan Rambipuji. “Saya anak desa,” kata Sodik yang kepada wartawan Jawa Pos Radar Jember.

Sodik mengaku masih duduk di bangku kelas empat, Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang ada di Kecamatan Rambipuji. “Saya kelas empat dan kakak saya kelas lima MI,” imbuh Sodik.

Jauh-jauh mengayuh sepeda pancal dari Rambipuji hingga ke Kaliwates, menurut Sodik bukan tanpa alasan. Keduanya sudah berniat berangkat dari rumah untuk mencari rosokan alias barang bekas. Niat tersebut juga dibuktikan dengan sepeda pancal yang didesain khusus untuk tempat barang rosokan yang bisa mereka bawa.

“Dari rumah mau mencari barang bekas. Sekarang kan masih hari libur. Jadi kami mencari barang bekas,” jelas Sodik yang menjawab lebih aktif daripada kakaknya, Abdul yang seakan canggung.

Pencarian barang bekas yang dilakukan kakak-adik tersebut semakin maksimal saat hari libur. Karena jika libur keduanya bisa nyeser jauh cari rongsokan sampai kota Jember. Sementara pada hari-hari biasanya, kakak-adik itu biasanya hanya mencari rosokan sepulang sekolah dan jaraknya tak seberapa jauh dibanding saat hari libur.

Hasil pencarian rosokan tidak langsung dijual. Akan tetapi dikumpulkan terlebih dahulu di rumahnya. Begitu barang bekasnya dianggap sudah banyak, maka rosokan tersebut dijual kepada pengepul.

Kakak-adik tersebut nekat mencari rosokan karena mengaku kondisi perekonomian keluarganya bukan dari kalangan berada. Bapak kedua siswa MI tersebut sudah meninggal dunia. “Hanya ibu saja yang masih ada,” ungkapnya.

Mencari rosokan terpaksa dilakukan keduanya karena untuk membantu meringankan perekonomian keluarganya. Abdul dan Sodik usianya memang masih belia. Akan tetapi nasib menghadapkan kakak-adik tersebut ikut mencari rezeki.

Pandangan mayoritas orang terhadap keduanya mungkin akan iba. Masih waktunya belajar karena usianya di bawah 12 tahun, tetapi harus bekerja keras membantu perekonomian keluarga. Abdul dan Sodik menjalaninya tanpa mengeluh, sekalipun teman-teman sebayanya asyik bermain.

Kiranya, kepulangan Abdul dan Sodik dapat membawa rezeki dan perekonomian keluarganya segera membaik. Agar, waktu belajarnya tak semakin tersita.

“Saya harus pulang. Takut hujan, pak,” ucap Sodik, yang pamitan pergi. Dia lantas bersiap di atas sepedanya. Begitu pula dengan kakaknya.

Abdul dan Sodik pun mengayuh kembali sepeda pancalnya dari Jalan Gajah Mada menuju ke arah Rambipuji, yang berjarak sekitar 5 kilometer. Mendung yang terus menyelimuti kota Jember, seakan membuat keduanya semakin semangat mengayuh sepeda. Abdul dan Sodik kemudian tak terlihat di jalanan aspal yang penuh kendaraan bermotor tersebut.

Reporter : Nur Hariri

Fotografer : Nur Hariri

Editor : Hadi Sumarsono