Cenderung Lebih Suka Makanan Instan

WAWAN DWI/RADAR JEMBER JAJANAN ANAK SEKOLAH: Penjual makanan banyak menunggu pelajar pulang sekolah. Perlu kewaspadaan khusus, karena belum tentu makanan tersebut higienis.

RADARJEMBER.ID  Serba cepat, serba ringkas, dan serba cepat menjadi keinginan masyarakat dewasa ini. Sayangnya kondisi seperti itu tidak dibarengi pemilihan makanan sehat. Masyarakat sekarang cenderung suka makanan instan, termasuk jajanan yang dijajakan untuk anak sekolah.

Latar belakang seperti itulah membuat berbagai kalangan seperti Tanoker ingin mengembalikan pola konsumsi makanan sehat di masyarakat.

Founder Tanoker Farha Ciciek mengatakan, kesadaran untuk konsumsi makanan sehat itu harus digugah kembali. Sebab, tidak hanya orang kota saja suka mengkonsumsi makanan instan dan pemilihan makanan kurang sehat. Masyarakat perdesaan juga mengalami pergeseran pola konsumsi yang kurang sehat.

“Pola konsumsi makanan sehat dan mengutamakan bahan pangan lokal sebagai salah satu unsur kedaulatan pangan,” katanya. Dia menjelaskan, persoalan pangan sehat bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi tangung jawab semua.

Sementara Direktur Eksekutif Sinergi Indonesia Foundation Dewi Hutabarat menjelaskan, pangan sehat perlu dikampanyekan agar bisa dikonsumsi oleh semua lapisan masyarakat. “Kita harus kembali pada pangan sehat,” jelasnya. Yakni pangan yang diketahui cara produksinya dan mengacu pada pangan lokal. “Pangan sehat mudah diterima oleh badan kita,” tuturnya.

Sebab, produksinya alami, tidak ada pestisida dan lainnya. Pengembangan pangan sehat itu akan memberdayakan perekonomian masyarakat lokal. Menurut dia, produksi pangan sehat lebih sederhana.

Sayangnya, ketersediaan pangan sehat masih sulit didapatkan. Untuk itu, perlu inisitif dari masyarakat diperlukan. Seperti kantin sehat yang ada di salah satu sekolah TK di Ledokombo. Selain itu, pemerintah juga perlu menggerakkan dengan memunculkan produk pangan sehat.

Dia mengapresiasi gerakan pangan sehat yang muncul dari Jember sekitar dua tahun terakhir. Perkembangannya cukup pesat, apalagi sudah ada Perbup-nya. “Sekarang tinggal mewujudkan program yang serius dan berkelanjutan,” tambahnya.

Tiga tahun ke depan, Jember bisa menjadi contoh dalam pengembangan pangan sehat. Sebab mudah mengubah pola makan warga yang ingin mengkonsumsi makanan instan. “Pola makan tidak sehat makanan dari pabrikan yang mengandung bahan kimia,” tuturnya.

Semakin murah harganya, maka tingkat kesehatannya juga  semakin berkurang. Sebab, banyak memakai bahan kimia di dalamnya. “Lain kalau makan sayur, kita tau persis gizinya seperti apa,” ujarnya.

Kendati demikian, lanjut dia, pedagang makanan yang dinilai kurang sehat perlu dirangkul. Sebab, penghasilan mereka darisana. “Disitulah peran pemerintah untuk sosialisasi tentang pangan sehat pada PKL,” imbuhnya.

Sementara itu Kabid SMP Dinas Pendidikan (Dispendik) Jember Erwan Salus Prijono mengatakan, masyarakat kurang sehat juga lama berlangsung di jajanan anak sekolah. “Kalau dulu penjual gorengan, pentol, bakso, dan lainya itu pakai sambel. Sekarang banyak saosnya,” pungkasnya.

Reporter : Dwi Siswanto, Bagus Supriadi

Fotografer : dwi siswanto

Editor : Hadi Sumarsono